Stunting masih menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Data menunjukkan bahwa sebanyak 36,4% anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting, dan angka ini menempatkan Indonesia di peringkat kelima tertinggi di antara negara berkembang di dunia. Stunting bukan hanya soal anak bertubuh pendek, tetapi juga berdampak luas pada pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kecerdasan, kemampuan belajar, hingga kesehatan saat dewasa kelak. Penyebab stunting memang beragam, mulai dari kurangnya asupan gizi, lingkungan yang tidak higienis, hingga masalah kesehatan anak. Namun, penelitian terbaru juga menyoroti faktor lain yang sebelumnya kurang mendapat perhatian, yaitu kesehatan usus dan mikrobiota usus.
Mikrobiota usus adalah sekumpulan mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan kita. Di dalamnya terdapat berbagai jenis bakteri baik, jamur, virus, protozoa, dan mikroba lainnya. Jangan salah, mikrobiota usus justru berperan penting untuk tubuh kita. Mereka membantu mencerna makanan, melawan bakteri jahat, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Salah satu peran penting mikrobiota usus adalah memproduksi zat yang disebut asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids (SCFA). Zat ini sangat bermanfaat, karena menjadi sumber energi bagi sel-sel usus, membantu penyerapan gizi, serta mendukung pertumbuhan tulang dan otot, khususnya pada anak-anak. Â Selain SCFA, ada juga zat lain yang disebut BCFA (branched-chain fatty acids). Berbeda dengan SCFA, peran BCFA masih belum banyak dipahami. Zat ini terbentuk dari pemecahan protein di usus dan sering dianggap kurang baik karena berhubungan dengan munculnya zat sisa beracun, seperti amonia dan senyawa berbahaya lain yang dapat mengganggu kesehatan.
Penelitian terdahulu menemukan bahwa komposisi mikrobiota usus anak yang mengalami stunting berbeda dengan anak yang tumbuh normal. Hasil tersebut terlihat pada anak-anak di Pulau Jawa maupun di Kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT). Temuan ini semakin menguatkan dugaan bahwa kesehatan usus memiliki peran besar terhadap pertumbuhan anak. Berdasarkan hal itu, penelitian lebih lanjut dilakukan untuk meneliti hubungan antara kesehatan usus, asupan gizi, serta zat hasil pencernaan (SCFA dan BCFA) pada anak-anak Indonesia usia 36–45 bulan. Studi ini membandingkan kondisi anak yang mengalami stunting dengan anak-anak seusianya yang tumbuh normal.
Dalam penelitian yang dilakukan di Kepulauan NTT, ditemukan bahwa sebanyak 41% dari anak yang diteliti masuk kategori sangat terhambat pertumbuhannya. Jika dibandingkan dengan anak normal, tinggi badan mereka rata-rata 8 cm lebih pendek dan berat badan 1,1 kg lebih rendah. Secara keseluruhan, baik tinggi maupun berat anak dengan stunting sekitar 8,5% lebih rendah dibandingkan anak seusianya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak dengan stunting memiliki asupan protein dan energi yang lebih rendah dibanding anak normal, bahkan hingga 50% lebih rendah untuk protein. Anak dengan stunting justru memiliki persentase asupan serat lebih tinggi, kemungkinan karena pola makan mereka lebih banyak terdiri dari makanan segar dan kurang diproses. Namun, jumlah serat ini tetap jauh di bawah angka kecukupan gizi yang direkomendasikan. Hasil analisis tinja menunjukkan bahwa anak dengan stunting memiliki kadar asam lemak rantai pendek (SCFA) lebih rendah. Kekurangan SCFA diduga berhubungan dengan lemahnya sistem kekebalan tubuh serta terganggunya fungsi pelindung usus. Kondisi ini bisa memicu masalah seperti usus bocor, infeksi, hingga peradangan yang menyerap energi tubuh dan menghambat pertumbuhan.
Penelitian juga menemukan bahwa jenis dan jumlah bakteri di usus anak dengan stunting berbeda dengan anak normal. Beberapa jenis bakteri yang biasanya dianggap bermanfaat, seperti Faecalibacterium, justru lebih tinggi pada anak dengan stunting, kemungkinan karena perbedaan pola makan dan faktor lingkungan. Selain itu, komposisi mikrobiota anak di NTT juga berbeda dengan anak-anak di Jawa, menunjukkan bahwa faktor budaya, geografis, dan pola makan memengaruhi kesehatan usus.
Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan menjelaskan peran penting mikrobiota usus dalam stunting pada anak. Meski bukan satu-satunya penyebab, kondisi usus yang tidak seimbang bisa memperburuk hambatan pertumbuhan. Tim penelitian melakukan tindak lanjut dengan pemberian intervensi berupa makanan fungsional. Tujuannya adalah membantu memperbaiki keseimbangan bakteri baik di usus sekaligus mendukung anak untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan mereka. Harapan dari penelitian dapat menjadi pintu dalam mencetuskan strategi baru pencegahan stunting. Pencegahan tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga menjaga kesehatan usus agar anak bisa tumbuh lebih optimal. Jika intervensi ini terbukti berhasil, pendekatan ini dapat menjadi salah satu solusi tambahan untuk mengurangi angka stunting di Indonesia. Pada akhirnya, memastikan anak-anak tumbuh sehat dan kuat adalah investasi berharga untuk masa depan bangsa.
Penulis: Â Dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K)
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://brill.com/view/journals/bm/aop/article-10.1163-18762891-bja00090/article-10.1163-18762891-bja00090.xml





