Universitas Airlangga Official Website

Keterkaitan Pengungkapan ESG dan Pertumbuhan Berkelanjutan Perusahaan di Pasar Berkembang Indonesia: Apakah Manajemen Modal Kerja Berperan?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penerapan praktik keberlanjutan di dunia bisnis semakin berkembang, namun perusahaan sering kali menghadapi dilema antara memenuhi tuntutan transparansi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dengan menjaga stabilitas kinerja keuangan jangka panjang. Artikel ini membahas hubungan antara pengungkapan ESG dan tingkat pertumbuhan berkelanjutan perusahaan (Sustainable Growth Rate/SGR) pada perusahaan non-keuangan di Indonesia, serta menguji bagaimana manajemen modal kerja (Working Capital Management/WCM) dapat memoderasi hubungan tersebut. Indonesia menjadi konteks yang menarik karena ESG disclosure baru diwajibkan pada 2021, sehingga transisi menuju transparansi keberlanjutan dalam praktik bisnis masih berada pada tahap awal. Dengan menggunakan data 91 perusahaan periode 2017–2023, artikel ini memberikan gambaran yang kuat tentang bagaimana perusahaan harus menyeimbangkan komitmen keberlanjutan dengan realitas finansial di pasar berkembang.

Penelitian diawali dengan latar belakang bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal kualitas dan konsistensi ESG disclosure dibandingkan negara ASEAN lainnya. ESG sering kali dipahami sebagai kewajiban administratif untuk memenuhi aturan pemerintah, bukan sebagai strategi bisnis jangka panjang. Di sisi lain, investor global mulai memperhatikan skor ESG sebagai indikator kredibilitas perusahaan. Artikel ini menggunakan pendekatan SGR sebagai indikator kemampuan perusahaan bertumbuh tanpa tambahan pembiayaan eksternal. Dengan kata lain, SGR menunjukkan apakah perusahaan cukup sehat secara internal untuk mempertahankan pertumbuhan. Penggunaan SGR sangat relevan dengan konteks Indonesia, di mana perusahaan harus berhati-hati dalam memaksimalkan sumber daya internal karena pasar modal belum sematang negara-negara maju.

Hasil utama penelitian ini menunjukkan bahwa pengungkapan ESG justru memiliki pengaruh negatif terhadap SGR. Artinya, semakin tinggi tingkat ESG disclosure suatu perusahaan, semakin rendah kemampuan perusahaan tersebut untuk tumbuh secara berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk menerapkan praktik ESG dan risiko terjadinya kebocoran informasi sensitif perusahaan melalui laporan yang terlalu detail. Publikasi ESG meliputi investasi pada teknologi ramah lingkungan, peningkatan kapasitas internal, audit keberlanjutan, dan penyesuaian operasional yang sering kali membebani keuangan perusahaan dalam jangka pendek. Temuan ini konsisten dengan literatur yang menyebutkan bahwa ESG disclosure dapat mengurangi profitabilitas perusahaan, meningkatkan biaya audit, dan menurunkan kas, terutama pada perusahaan yang tata kelolanya lemah. Dengan kondisi perusahaan Indonesia yang masih adaptif terhadap standar keberlanjutan, dampak negatif ESG terhadap SGR menjadi semakin terasa.

Meski begitu, artikel ini tidak berhenti hanya pada kesimpulan negatif tersebut. Peneliti menemukan bahwa manajemen modal kerja (WCM) memiliki peran kunci dalam mengurangi dampak buruk ESG terhadap pertumbuhan perusahaan. WCM diukur dengan beberapa indikator, salah satunya Cash Conversion Cycle (CCC) yang menunjukkan kecepatan perusahaan dalam mengubah investasi modal kerja menjadi kas. Ketika perusahaan memiliki WCM yang efisien, mereka dapat menyerap biaya ESG tanpa mengorbankan stabilitas keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara ESG disclosure dan WCM memiliki pengaruh positif signifikan terhadap SGR. Ini berarti WCM yang efektif mampu mengubah ESG disclosure dari beban menjadi potensi nilai, karena perusahaan lebih siap menghadapi tekanan likuiditas dan biaya implementasi ESG. Dengan likuiditas yang baik dan pengelolaan piutang dan persediaan yang efisien, perusahaan dapat menghindari ketergantungan pada pendanaan eksternal dan tetap menjaga ritme pertumbuhannya.

Artikel ini memperkuat temuannya melalui berbagai robustness test, termasuk penggunaan alternatif pengukuran WCM seperti Working Capital Days in Inventory (WCID) dan Working Capital Current Ratio (WCCR). Hasilnya tetap menunjukkan bahwa WCM secara konsisten berperan sebagai moderator yang memperkuat hubungan ESG–SGR. Selain itu, peneliti menerapkan pendekatan Difference-in-Differences (DiD) dengan memanfaatkan kebijakan wajib ESG tahun 2022 sebagai momen natural experiment. Hasil DiD menunjukkan bahwa perusahaan yang sebelumnya memiliki tingkat ESG disclosure tinggi mendapatkan peningkatan SGR setelah kebijakan diberlakukan, memperkuat argumen bahwa dalam konteks regulasi jelas, ESG dapat memberikan nilai. Namun, efek positif ini hanya ditemukan di kelompok perusahaan dengan ESG tinggi, menunjukkan bahwa kesiapan internal memengaruhi kemampuan perusahaan memetik manfaat dari regulasi keberlanjutan.

Dari perspektif teori keagenan, artikel ini menjelaskan bahwa konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham dapat terjadi ketika manajer mengalokasikan dana perusahaan untuk proyek ESG yang tidak menghasilkan nilai langsung. Biaya tinggi ESG dapat mengurangi dana internal sehingga menurunkan kemampuan perusahaan untuk bertumbuh. Namun stakeholder theory dan resource-based view menekankan bahwa ESG dapat menciptakan nilai jangka panjang jika perusahaan mengelolanya dengan baik. Inilah yang menjelaskan mengapa WCM menjadi faktor penting—karena ia mengurangi konflik kepentingan dan memastikan penggunaan dana yang efisien sehingga ESG tidak menjadi beban keuangan.

Pada bagian diskusi, artikel menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia perlu meningkatkan kualitas WCM untuk memastikan keberlanjutan usaha mereka. Pasar berkembang seperti Indonesia memiliki volatilitas yang tinggi, kondisi makroekonomi tidak stabil, dan tingkat literasi ESG yang bervariasi. Karena itu, perusahaan harus mengintegrasikan praktik keuangan dasar yang kuat dengan komitmen keberlanjutan. Dengan efisiensi modal kerja yang memadai, perusahaan dapat meraih manfaat reputasi dari ESG tanpa mengorbankan kemampuan pertumbuhannya. Dalam jangka panjang, perusahaan yang mampu mengelola ESG dan WCM secara sinergis diprediksi memiliki prospek pertumbuhan lebih baik dibanding yang hanya fokus pada salah satunya.

Kesimpulannya, artikel ini menunjukkan bahwa ESG disclosure dalam konteks pasar berkembang seperti Indonesia tidak langsung meningkatkan pertumbuhan berkelanjutan, tetapi dapat menjadi faktor penghambat jika perusahaan tidak memiliki sistem pengelolaan modal kerja yang efisien. Namun ketika WCM efektif, hubungan ESG dan SGR berubah menjadi positif, menunjukkan bahwa keberlanjutan dan kesehatan finansial bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi literatur ESG dan menawarkan rekomendasi strategis bagi perusahaan dan regulator: bahwa komitmen keberlanjutan harus berjalan seiring dengan penguatan kapabilitas keuangan internal. Dengan kombinasi keduanya, perusahaan Indonesia dapat memaksimalkan manfaat ESG dan mencapai pertumbuhan jangka panjang yang stabil.

Penulis: Aang Kunaifi, Vera Oktari, Noorlailie Soewarno

Detail tulisan ini dapat dilihat di: Asian Review of Accounting https://doi.org/10.1108/ARA-03-2025-0068