Universitas Airlangga Official Website

Ketika Silat Kehilangan Jiwa Luhurnya

Perguruan silat dengan segala romantisme budayanya, telah lama menjadi simbol kebanggaan Indonesia. Bukan sekadar seni bela diri saja, melainkan manifestasi dari etos moral dan semangat kejawaan. Namun, di Tulungagung, pesilat-pesilat yang seharusnya menjadi penjaga kehormatan justru mencoreng makna luhur itu melalui tindak kekerasan dan tawuran yang akhir-akhir ini begitu menghebohkan. Apakah perguruan silat telah kehilangan arah, atau kita yang salah membaca ulang perannya?

Pencak silat yang seharusnya merupakan sarana untuk menanamkan kedamaian dan kehormatan, kini menjadi panggung kekerasan. Kasus yang terjadi di Tulungagung, seperti yang dilaporkan oleh Jatim Now pada 22 November 2024, menunjukkan realitas yang memilukan. Dua insiden besar, yakni penganiayaan di Desa Ngujang dan Wajak, mengungkap fakta mengejutkan.  Empat belas pesilat terlibat dalam serangan yang mengakibatkan korban terluka parah. Polisi berhasil menangkap sepuluh pelaku, sementara sisanya masih buron. Fenomena ini menyoroti konflik yang lebih dalam, yaitu persaingan antar perguruan silat yang telah lama menyisakan luka lama dan dendam yang tak kunjung padam.

Kekerasan yang terjadi di Tulungagung bukanlah hal baru. Sebelumnya, ribuan pesilat terlibat dalam bentrokan besar di Durenan-Bandung, yang disorot oleh Surya Malang pada Oktober 2024. Bentrokan ini menyebabkan kerusakan parah pada rumah-rumah warga, fasilitas umum, dan kendaraan kepolisian. Tiga kompi Brimob dikerahkan untuk meredakan ketegangan yang semakin memuncak​. Keamanan masyarakat, yang seharusnya menjadi prioritas, kini terancam oleh keganasan aksi kekerasan ini. Di sini, perguruan silat yang dulunya menjadi simbol disiplin dan kehormatan, kini berubah hanya menjadi arena untuk adu kekuatan.

Dalam pernyataannya, Kapolres Tulungagung, AKBP Muhammad Taat Resdi, menegaskan sikap tegasnya terhadap pelaku kekerasan. “Ini menjadi bukti tegas jajaran Polres Tulungagung, akan dan senantiasa berusaha tegas profesional, proporsional dalam menangani segala bentuk gangguan tindak pidana yang terkait dengan konflik oknum perguruan pencak silat,” ujar Kapolres dengan tegas, seperti yang dikutip dari Jatim Now pada 22 November 2024.

Namun, meskipun upaya penegakan hukum yang tegas perlu diapresiasi, kita juga perlu merenungkan lebih jauh akar dari masalah ini. Mengapa perguruan silat yang semestinya menjadi simbol kedamaian kini justru terlibat dalam kekerasan? Salah satu faktor utama adalah fanatisme kelompok. Identitas perguruan yang sangat kuat sering kali memicu kebencian terhadap perguruan lain, menciptakan ruang bagi konflik yang berlarut-larut. Alih-alih menjaga martabat, perguruan silat justru menjadi ajang pembuktian siapa yang paling hebat.

Dalam banyak kasus, para pesilat muda yang seharusnya belajar menahan diri, justru menunjukkan perilaku agresif demi menunjukkan kekuatan kelompok mereka. Konflik antaranggota perguruan ini juga diperparah oleh minimnya kontrol internal. Banyak anggota yang terlibat dalam kekerasan tidak mendapatkan sanksi yang setimpal, yang pada gilirannya mengarah pada kekaburan moral dan bertambahnya insiden serupa.

Para sesepuh dan pemimpin perguruan silat harus mengambil peran sebagai agen perubahan. Mereka harus kembali menanamkan nilai-nilai luhur dalam pelatihan, menggantikan kebanggaan atas jumlah anggota dengan kualitas karakter para pesilatnya. Selain itu, dialog antarkelompok perlu digalakkan untuk membangun rasa saling menghormati dan mengurangi potensi konflik.

Kita sering kali melupakan bahwa masyarakat juga berperan besar dalam memengaruhi dinamika perguruan silat. Ketika masyarakat memberikan toleransi terhadap aksi kekerasan dengan dalih “anak muda sedang belajar,” mereka sebenarnya sedang membiarkan budaya kekerasan tumbuh subur. Kita membutuhkan masyarakat yang berani menegur, melaporkan, dan mendukung kebijakan yang menindak tegas kekerasan.

Apakah perguruan silat bisa kembali menjadi warisan budaya yang membanggakan? Jawabannya ada pada semua pihak: pemerintah, aparat keamanan, perguruan itu sendiri, dan masyarakat. Jika nilai-nilai dasarnya kembali ditegakkan, kita mungkin bisa melihat kebangkitan silat sebagai simbol harmoni, bukan kekerasan.

Tulungagung saat ini berada di persimpangan jalan. Akankah membiarkan konflik ini terus memakan korban, ataukah berani mengambil langkah besar untuk memulihkan martabat perguruan silat? Pilihan ini adalah ujian bagi kita semua sebagai bangsa yang mencintai budayanya.

Penulis: Amelya Bintan Christian Dini (Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Airlangga).