Selama puluhan tahun, pola pembangunan di banyak desa di Indonesia sering terjebak dalam stigma “proyek titipan”. Pemerintah merancang program, menurunkan anggaran, dan warga hanya diminta menerima hasilnya. Seringkali, fasilitas yang dibangun mangkrak atau program pemberdayaan berhenti begitu dana habis karena warga tidak merasa memiliki.
Namun, sebuah kecamatan di kaki Gunung Kawi, Malang, menawarkan cerita berbeda. Kecamatan Wonosari, melalui inovasi bernama PUTIKSARI (Kampung Tematik Wonosari Berseri), berhasil membuktikan bahwa warga desa bisa menjadi aktor utama perubahan, bukan sekadar penonton
Hasilnya tidak main-main. Kampung Wisata Air Terjun Tanaka di sana mampu menarik 6.000 pengunjung per bulan dengan omzet mencapai Rp1,2 miliar per tahun. Lebih krusial lagi, inovasi ini turut menyumbang solusi bagi masalah nasional seperti stunting melalui ketahanan pangan lokal.
Lantas, apa rahasianya? Riset terbaru kami menunjukkan kuncinya ada pada konsep Co-Production atau produksi bersama layanan publik.
Bukan Sekadar Partisipasi Formalitas
Banyak program pemerintah mengklaim “partisipatif”, padahal warga hanya diundang saat sosialisasi di tahap akhir. Dalam studi kami terhadap inovasi PUTIKSARI, partisipasi warga terjadi secara radikal sejak hulu hingga hilir.
Kami menemukan bahwa Pemerintah Kecamatan Wonosari tidak datang dengan perintah, melainkan dengan pertanyaan: “Apa potensi desa Anda?”
Melalui forum musyawarah dusun dan desa, warga diajak memetakan sendiri potensi mereka. Di sinilah konsep Co-Commissioning terjadi—warga ikut menentukan prioritas. Desa yang punya banyak kolam ikan sepakat menjadi “Kampung Ikan”. Desa dengan tradisi seni yang kuat memilih menjadi “Kampung Topeng”. Ini bukan instruksi camat, ini konsensus warga.
Dampak Ekonomi dan Sosial yang Nyata
Pergeseran peran warga dari “klien” menjadi “mitra” (co-producer) ini menciptakan dampak ekonomi yang nyata.
Ambil contoh Kampung Kopi. Sebelumnya, petani di sana hanya menjual biji kopi mentah dengan harga rendah. Melalui kolaborasi ini, mereka tidak hanya diajari menanam, tapi juga memproses (roasting), mengemas, hingga memasarkan . Kini, mereka menjual produk bernilai tambah, bukan bahan mentah.
Contoh lain adalah Kampung Tari Topeng. Karena warga merasa memiliki tradisi tersebut, pelestarian budaya berjalan beriringan dengan ekonomi. Wisatawan datang melihat pertunjukan, membeli suvenir, dan warga mendapatkan penghasilan tambahan sekaligus menjaga mata air keramat di desa mereka.
Yang paling menarik adalah Kampung Ikan di Desa Bangelan. Dengan luas kolam 5.000 meter persegi, warga mampu memanen 12 ton ikan per semester. Ikan ini tidak hanya dijual, tapi menjadi sumber protein penting bagi balita di desa tersebut. Ini adalah bukti konkret bagaimana kebijakan publik di tingkat lokal bisa berdampak langsung pada penurunan angka stunting dan perbaikan gizi.
Tantangan dan Keberlanjutan
Tentu saja, jalan menuju desa mandiri tidak selalu mulus. Riset kami mencatat adanya tantangan, seperti di “Kampung Kates” yang sempat terkendala cuaca dan kurangnya partisipasi warga di awal program. Hal ini menjadi pelajaran bahwa intervensi pemerintah tetap dibutuhkan, bukan untuk mendikte, tapi untuk memfasilitasi dan menjaga semangat warga yang sedang surut.
Selain itu, keberhasilan PUTIKSARI juga didukung oleh model kolaborasi Pentahelix. Pemerintah Kecamatan Wonosari aktif menggandeng universitas untuk riset teknologi, media untuk promosi wisata, hingga perbankan (seperti BRI) untuk akses pasar produk hortikultura.
Inovasi PUTIKSARI di Malang mengajarkan kita bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan tidak bisa dilakukan dengan cara-cara birokratis yang kaku. Paradigma New Public Governance menuntut pemerintah untuk lebih luwes, menempatkan warga sebagai subjek yang setara.
Ketika warga diberi kepercayaan untuk merancang (co-design), mengeksekusi (co-delivery), dan mengevaluasi (co-assessment) pembangunan di kampungnya sendiri, mereka akan merawatnya dengan sepenuh hati. Dari Wonosari, kita belajar bahwa “harta karun” desa yang sesungguhnya bukanlah sumber daya alam semata, melainkan semangat gotong royong warganya yang terorganisir dengan baik.
Penulis:
Muhammad Dzulfikar Al Ghofiqi, Elis Mardianti, & Bintoro Wardiyanto
Tautan Artikel Jurnal:
https://journal.uny.ac.id/index.php/natapraja/article/view/87999





