UNAIR NEWS – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Airlangga. Chofifah Fatimatus Zahro, mahasiswi baru Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR angkatan 2025, sukses lolos sebagai awardee Beasiswa Unggulan 2025 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Chofifah mengaku tak menyangka bisa terpilih karena menilai dirinya bukan sosok dengan segudang prestasi nasional. Namun, proses penulisan esai membuatnya sadar bahwa kontribusi kecil pun bisa menjadi nilai lebih. “Saya sadar bahwa kontribusi kecil juga punya arti besar. Dalam esai, saya ceritakan perjalanan saya di PIK-R, Duta GenRe Bondowoso 2023, dan dunia debat yang saya tekuni,” tuturnya.
Baginya, Beasiswa Unggulan bukan sekadar penghargaan, melainkan bukti bahwa setiap mahasiswa memiliki peluang yang sama untuk berkembang jika berani mencoba. Ia menilai bahwa esai yang jujur, reflektif, dan relevan menjadi kunci utama keberhasilannya menembus seleksi yang ketat di antara ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia.
Motivasi dan Tantangan di Balik Proses Seleksi
Motivasi terbesarnya mengikuti Beasiswa Unggulan adalah untuk meringankan beban ibunya. “Saya ingin Mama bangga, dan bisa kuliah tanpa memberatkan beliau. Itu yang jadi semangat saya,” ungkapnya dengan haru.
Tantangan terbesar datang saat tahap UKBI dan pengumpulan esai. Chofifah menulis ulang esainya hanya empat hari sebelum penutupan dan harus memangkas 1.000 kata dalam satu jam terakhir. “Saya panik, tapi saya paksa diri untuk tetap fokus. Alhamdulillah, hasilnya justru membawa saya ke tahap wawancara,” kenangnya sambil tersenyum lega.
Refleksi Diri dan Pesan untuk Calon Awardee
Bagi Chofifah, proses seleksi ini menjadi ajang refleksi diri. Ia belajar bahwa menjadi diri sendiri jauh lebih berharga daripada menampilkan citra sempurna. “Saya jawab wawancara apa adanya. Justru kejujuran dan refleksi diri itu yang membuat saya diterima,” ujarnya.
Ia juga membagikan tips bagi calon penerima beasiswa. “Pilih topik esai yang relevan dengan pengalamanmu, tulis secara kronologis dan logis, gunakan bahasa sederhana tapi menarik. Dan yang terpenting, percaya diri, berdoa, dan tetap rendah hati,” pesannya.
Dengan semangatnya, Chofifah berharap bisa terus berkontribusi bagi masyarakat lewat Ilmu Komunikasi. “Saya ingin belajar dan berkarya agar komunikasi bisa jadi alat perubahan sosial, bukan hanya untuk menyampaikan pesan, tapi juga membangun empati, keberanian, dan kebermanfaatan bagi sesama,” pungkasnya.
Penulis: Dara Devinta Faradhilla
Editor: Ragil Kukuh Imanto





