Universitas Airlangga Official Website

Kinerja Persamaan Estimasi Laju Filtrasi Glomerulus Menggunakan Kreatinin Serum Pada Anak Dengan Anomali Kongenital Ginjal Dan Saluran Kemih

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Anomali kongenital ginjal dan saluran kemih (congenital anomalies of the kidney and urinary tract/CAKUT) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak serta berkontribusi signifikan terhadap terjadinya penyakit ginjal kronik (chronic kidney disease/CKD). Penilaian laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate/GFR) yang akurat sangat penting untuk tata laksana pasien CAKUT. Meskipun pengukuran GFR (mGFR) menggunakan marker eksogen seperti Tc-99m DTPA dianggap sebagai baku emas, metode ini invasif, mahal, dan tidak selalu tersedia. Oleh karena itu, estimasi GFR (eGFR) berbasis kreatinin serum banyak digunakan, namun akurasinya perlu divalidasi pada populasi spesifik seperti CAKUT, sesuai rekomendasi KDIGO. Studi ini bertujuan membandingkan performa tiga persamaan eGFR berbasis kreatinin—bedside Schwartz, Chronic Kidney Disease in Children (CKD-U25) creatinine, dan European Kidney Function Consortium (EKFC)—terhadap mGFR menggunakan Tc-99m DTPA pada anak dengan CAKUT.

Metode

Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif yang menganalisis data rekam medis pasien anak (usia 6 bulan–18 tahun) dengan diagnosis CAKUT di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, periode Januari 2017 hingga Maret 2024. Sebanyak 276 subjek memenuhi kriteria inklusi, yaitu menjalani pemeriksaan mGFR dengan Tc-99m DTPA dan pemeriksaan kreatinin serum pada hari yang sama. Nilai eGFR dihitung menggunakan persamaan bedside Schwartz, CKD-U25, dan EKFC. Kinerja persamaan dievaluasi terhadap mGFR melalui analisis korelasi Spearman, bias (analisis Bland-Altman), akurasi P30 (persentase eGFR dalam rentang 30% dari mGFR), regresi Passing-Bablok, serta root mean square error (RMSE). Analisis subkelompok dilakukan pada anak berusia lebih dari dua tahun.

Hasil

Dari 276 subjek, mayoritas adalah laki-laki (89%) dengan median usia 7 tahun. Median mGFR adalah 105 mL/mnt/1,73 m², dengan 8,7% subjek berada pada kategori CKD (mGFR < 60). Seluruh persamaan menunjukkan korelasi signifikan dengan mGFR (Schwartz: r=0,793; CKD-U25: r=0,793; EKFC: r=0,745; p<0,0001). Namun, persamaan bedside Schwartz dan CKD-U25 cenderung underestimasi (bias -19,92 dan -19,71 mL/mnt/1,73 m²), sedangkan EKFC cenderung overestimasi (bias +20,75 mL/mnt/1,73 m²). Akurasi P30 untuk Schwartz, CKD-U25, dan EKFC berturut-turut adalah 70,3%, 70,7%, dan 77,2%. Pada subkelompok usia >2 tahun (n=229), korelasi seluruh persamaan meningkat, dengan EKFC menunjukkan korelasi tertinggi (r=0,835) dan akurasi P30 terbaik (90,1%) dibanding Schwartz (75%) dan CKD-U25 (75%). Analisis Passing-Bablok dan Bland-Altman mengonfirmasi pola bias yang konsisten. Dalam klasifikasi stadium CKD, persamaan EKFC menunjukkan kesesuaian kategori yang lebih tinggi (86,2%) dibanding Schwartz (49,6%). Analisis sensitivitas menunjukkan performa EKFC lebih robust terhadap adanya data ekstrem.

Kesimpulan

Persamaan bedside Schwartz dan EKFC menunjukkan korelasi yang kuat dengan mGFR Tc-99m DTPA pada populasi anak dengan CAKUT. Meskipun keduanya memiliki bias sistematis (underestimasi oleh Schwartz dan overestimasi oleh EKFC), EKFC menunjukkan akurasi yang lebih tinggi, terutama pada anak di atas dua tahun. Persamaan EKFC juga lebih unggul dalam klasifikasi stadium penyakit ginjal dan lebih stabil terhadap variasi data. Studi ini menyimpulkan bahwa persamaan EKFC dapat menjadi alternatif yang andal untuk estimasi GFR pada populasi anak dengan CAKUT, meskipun penelitian lebih lanjut dengan baku emas ioheksol dan eksplorasi marker seperti cystatin C tetap diperlukan untuk meningkatkan akurasi.

Penulis: Prof. Dr. Aryati, dr., MS, Sp.PK, Subsp. P.I. (K), Subsp I.K. (K)

Artikel ini bisa di akses melalui :

https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0340649