UNAIR NEWS – Semangat eksplorasi dan keberanian mengambil peluang adalah kunci bagi Muhammad Ryan Zulfik, mahasiswa program studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2022. Mahasiswa yang akrab disapa Ryan ini baru saja menyelesaikan partisipasinya dalam ASEAN Experiential Learning Programme (AELP) yang diselenggarakan oleh ASEAN University Network (AUN) di Songkhla, Thailand pada Senin (3-7/11/2025).
Bagi Ryan, keikutsertaan dalam AELP edisi keempat ini adalah pencapaian pribadi yang membanggakan sekaligus upaya untuk keluar dari zona nyaman. Ryan menuturkan bahwa motivasi utamanya adalah mengeksplorasi pengalaman baru, terutama di Thailand. Meskipun telah beberapa kali berpartisipasi dalam program serupa, ini merupakan pengalaman pertamanya di negara tersebut.
Eksplorasi Budaya dan Tantangan Memposisikan Diri
Selama program, Ryan mendapatkan wawasan yang kaya tentang budaya dan ekonomi lokal Songkhla. Salah satu momen berkesan adalah kegiatan lokakarya eksplorasi Songkhla dan kunjungan ke Pusat Kewirausahaan (Entrepreneurship Center) setempat. Di lokasi tersebut, Ryan berkesempatan mempraktikkan langsung proses tie-dye (ikat celup).

“Di sana, kami mencoba langsung membuat tie-dye dan yang paling unik adalah mencoba mengolah mangga muda menjadi salah satu minuman yang sedang tren. Ini benar-benar membuka mata saya tentang bagaimana kreativitas bisa dikembangkan dari bahan lokal,” ujarnya.
Tantangan Memosisikan Diri di Tengah Perbedaan
Meskipun interaksi antar peserta dari berbagai negara berjalan tanpa hambatan karena keterbukaan pikiran (open-minded) yang tinggi, Ryan mengakui adanya tantangan signifikan terkait kejutan budaya (culture shock). Tantangan ini meruncing pada aspek bagaimana memposisikan diri sebagai seorang Muslim di tengah dominasi budaya lokal yang kental dengan ajaran Buddhisme.
Tantangan ini memuncak saat program Loy Krathong Festival berlangsung. “Dalam kegiatan festival tersebut, ada bagian yang lebih mengarah ke Buddhisme. Bagi kami yang Muslim, ini agak tricky untuk diikuti. Ini termasuk susah dalam memposisikan diri karena merupakan salah satu kegiatan utama dalam learning program tersebut,” jelasnya.
Pada akhir, Ryan membagikan pesan inspiratif yang ia pegang teguh. “Apabila muncul keraguan atau perasaan belum siap, jangan pernah membatasi diri dengan pemikiran tersebut. Kita harus tahu bahwa waktu untuk siap itu tidak pernah ada,” pungkasnya.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Yuli Rohmawati





