Universitas Sriwijaya (UNSRI) adalah Pergurruan Tinggi Negeri yang menyandang nama besar Kerajaan Sriwijaya yang oleh Bratanica disebutkan sebagai: “ maritime and commercial kingdom that flourished between the 7th and the 13th centuries, largely in what is now Indonesia. The kingdom originated in Palembang on the island of Sumatra and soon extended its influence and controlled the Strait of Malacca. Srivijaya’s power was based on its control of international sea trade. It established trade relations not only with the states in the Malay Archipelago but also with China and India”. Kerajaan Sriwijaya itu (juga Kerajaan Majapahit di Jawa Timur) pernah menjadi “Regional Superpoweer” di kawasan Asia. Sahabat saya seorang tokoh Thailand pernah bercerita bahwa anak-anak SMP, SMA Thailand belajar sejarah kedua kerajaan besar Indonesia itu.
UNSRI dengan nama besar nya itu patut bangga dan bahagia karena baru saja disetujui menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2024.
Sebagai PTN-BH yang baru, rombongan Majelis Wali Amanat – dan Komite Audit UNSRI melakukan kunjungan Silaturahmi ke UNAIR pada tanggal 2 Desember 2025 lalu. Rombongan yang dipimpin Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaf, M.SCE. MKU, IPU, ASEAN.Eng. APEC. Eng diterima oleh Prof. Rizky sekretaris MWA UNAIR, Prof. Nursallam, Prof. Imam Mustofa masing-masing Ketua dan Sekretaris Senat Akademik UNAIR, beberapa anggota MWA UNAIR dan seluruh jajaran Komite Audit UNAIR.
Dalam kunjungan silaturahim itu pihak UNSRI ingin mendapatkan masukan-masukan dari UNAIR sebagai Perguruan Tinggi yang sudah lama menyandang status PTN-BH tentang bagaimana performa UNAIR sampai saat ini dengan berbagai pencapaiannya hingga menyandang ranking 287 dunia. Kunjungan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis karena memang “collaboration is the future” – dan bukan “competition” yang hanya menunjukkan siapa yang menang dan yang kalah. Kunjungan UNSRI itu menurut saya kalau dalam istilah agamanya adalah “Fastabihul Khairat” – atau berlomba-berlomba menuju kebaikan.
Pihak MWA- Komite Audit UNAIR dalam pertemuan itu memberikan masukan – kiat bagaimana mengelola dinamika yang ada yaitu denga cara memupuk “keguyuban” atau ikatan/keutuhan yang erat diantara tiga lembaga strategis, yaitu Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik dan Rektor beserta jajarannya. Ketiga Lembaga di UNAIR inilah yang meramu strategi kemajuan UNAIR mulai dari dibuatnya perencanaan, pengorganisasian, implementasi hingga pada evaluasi dan kontrol atas semua strategi-strategi yang direncanakan. Tentu hal tersebut tidak berarti bahwa di ketiga lembaga itu tidak ada perbedaan. Perbedaan selalu muncul disetiap level Strategic Management karena masing-masing lembaga memiliki pendapat yang dilihat dari perspektif setiap lembaga. Perbedaan itu memang diperlukan untuk memastikan apakah suatu konsep, ide dan gagasan itu sudah memperoleh checks and balances dari lembaga lainnya. Tambahan pula dalam agama Islam suatu perbedaan itu adalah Rahmat. Namun sekeras-kerasnya perbedaan itu bisa diselesaikan dengan kerukunan, keguyuban, solidaritas yang terjadi di ketiga lembaga penting UNAIR itu. Keguyuban itu merupakan “Core Value” yang dimiliki UNAIR berdasakan pada nilai-nilai (values) budaya bangsa Indonesia yang terkenal didunia. Nilai seperti itu sudah diwariskan dari generasi ke generasi (passing from one generation to the next generation) di UNAIR ini.

Faktor keguyuban itu juga muncul pada pertemuan terpisah antara kami Komite Audit UNAIR dengan Komite Audit UNSRI yang dipimpin oleh Prof. Dr. Diah Natalia, MBA (yang juga mbakyu atau kakak kandung Menteri Dalam Negeri Jendral Polisi Tito Karnavian), Dr. Ir. Kiki Yulianti, MSc dan Prof. Isnuhardi, SE, MBA, PhD masing-masing sebagai Sekretaris dan Tim Komite Audit UNSRI.
Kami pihak UNAIR tentu merasa senang hati dengan tangan terbuka menerima kunjungan silatruahim delegasi dari UNSRI itu karena pada dasar nya UNAIR juga ingin melihat UNSRI maju bersama-sama dengan PTN-BH lainnya untuk mengemban amanat negara dalam memajukan pendidikan dan peradaban bangsa yang luhur.





