UNAIR NEWS – Upaya percepatan peningkatan cakupan ASI eksklusif tidak hanya menyasar ibu menyusui, tetapi juga kelompok remaja sebagai calon ibu di masa depan. Pada 13 Januari 2026, telah diselenggarakan kegiatan Sosialisasi ASI Eksklusif bagi Siswi SMK melalui kolaborasi antara Universitas Airlangga (UNAIR) dan Puskesmas Banyuanyar.
Kegiatan diikuti oleh siswi SMKN 1 Sampang dan menghadirkan dua pemateri, yaitu Dr. Dra. Shrimarti Rukmini Devy, M.Kes. (Devy) serta Ibu Karimatus, selaku Koordinator Gizi Puskesmas Banyuanyar. Sosialisasi ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian bertajuk “Aksi Ottawa Charter dalam Promosi Kesehatan sebagai Upaya Akselerasi ASI Eksklusif di Kelurahan Dalpenang, Kabupaten Sampang” yang diketuai oleh Devy.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta terkait ASI eksklusif. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan emo demo “ASI SAJA CUKUP” sebagai media edukasi interaktif untuk membantu siswi memahami ukuran lambung bayi di awal kehidupan, serta semakin banyak ibu menyusui justru akan semakin banyak ASI yang keluar. Setelah itu, peserta mendapatkan pemaparan materi mengenai konsep ASI eksklusif, manfaat ASI bagi bayi dan ibu, serta pentingnya menjaga kesehatan dan status gizi sejak usia remaja. Kegiatan kemudian ditutup dengan post-test sebagai evaluasi peningkatan pengetahuan peserta.

Dalam pemaparannya, Devy menjelaskan bahwa remaja putri merupakan kelompok strategis dalam upaya pencegahan masalah gizi dan peningkatan kesehatan ibu dan anak di masa depan. Remaja putri juga diharapkan dapat menyebarkan pengetahuan tersebut pada masyarakat di sekitarnya, khususnya pada ibu hamil dan ibu menyusui.
“Siswi SMK hari ini adalah calon ibu di masa mendatang. Oleh karena itu, pemahaman sejak dini tentang ASI eksklusif, kesehatan reproduksi, dan gizi remaja menjadi bentuk investasi jangka panjang,” jelasnya.
Sementara itu, Karimatus menekankan pentingnya pola makan bergizi seimbang dan perilaku hidup sehat sejak remaja sebagai fondasi kesehatan reproduksi dan keberhasilan menyusui kelak. Ia juga mengajak para siswi untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya dengan menyebarkan informasi yang benar mengenai ASI eksklusif.
“Perhatikan isi piring makan kita. Dalam 1 lingkaran piring kita, pastikan ada minimal 1/6 buah, 1/6 lauk-pauk, 2/6 makanan pokok, dan 2/6 sayuran. Jangan lupa juga, lengkapi dengan aktivitas fisik serta minum air putih minimal 8 gelas sehari,” jelas Karimatus.
Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif, dengan partisipasi aktif para siswi dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya ketertarikan remaja terhadap isu kesehatan ibu dan anak ketika disampaikan dengan pendekatan yang tepat dan kontekstual.
Melalui kolaborasi UNAIR dan Puskesmas Banyuanyar ini, kegiatan sosialisasi ASI eksklusif pada siswi SMK diharapkan dapat membangun kesadaran sejak dini, sejalan dengan prinsip Ottawa Charter dalam pengembangan keterampilan personal dan menguatkan gerakan masyarakat. Program ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi ibu yang sehat dan siap mendukung keberhasilan ASI eksklusif di masa depan.
Penulis: Galuh Mega Kurnia





