UNAIR NEWS – Mahasiswi Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Athaya Maheswari Jumhur, mengikuti program akademik internasional Utrecht Summer School bertajuk “The Making of Europe: From the Middle Ages to Modernity.” Program tersebut diselenggarakan oleh Utrecht University di Utrecht, Belanda, dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara yang memiliki minat pada kajian sejarah, politik, dan budaya Eropa.
Program ini membahas berbagai perkembangan penting yang membentuk Eropa modern, mulai dari Reformasi Gereja, ekspansi kolonial Eropa, Revolusi Ilmiah, hingga revolusi politik dan munculnya nasionalisme pada abad modern. Melalui rangkaian kuliah, seminar, diskusi, serta studi lapangan, peserta diajak untuk memahami sejarah tidak hanya melalui teks akademik, tetapi juga melalui pengalaman langsung di berbagai situs bersejarah.
Selama mengikuti program tersebut, Athaya mengikuti perkuliahan yang dipandu oleh para pengajar dari Utrecht University. Selain kegiatan akademik di kelas, peserta juga melakukan kunjungan ke sejumlah museum dan situs sejarah di kota Utrecht dan Amsterdam. Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain kawasan bersejarah Utrecht, museum nasional Belanda, serta berbagai bangunan yang menjadi saksi perkembangan sejarah Eropa.
Menurut Athaya, pengalaman belajar langsung di lokasi yang memiliki nilai sejarah tinggi memberikan perspektif baru dalam memahami peristiwa masa lalu. “Belajar sejarah di tempat yang benar-benar menjadi bagian dari peristiwa sejarah membuat saya melihat bahwa sejarah tidak hanya ada di buku. Ia hadir dalam ruang kota, bangunan, dan artefak yang masih dapat kita lihat hingga sekarang,” ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong Athaya untuk mengembangkan gagasan baru dalam menyebarkan kesadaran sejarah kepada masyarakat. Ia berencana merilis sebuah platform literasi digital yang berisi novel fiksi historis yang dapat diakses secara gratis oleh publik.
Platform tersebut dirancang sebagai ruang literasi yang menggabungkan unsur cerita fiksi dengan riset sejarah. Melalui pendekatan ini, Athaya berharap pembaca dapat memahami konteks sejarah melalui narasi yang lebih dekat dengan pengalaman membaca masyarakat umum.
Novel-novel yang akan dimuat dalam platform tersebut akan ditulis langsung oleh Athaya dengan latar berbagai periode sejarah. Meskipun berbentuk fiksi, setiap cerita akan tetap mengacu pada fakta sejarah, konteks sosial, dan situasi politik yang relevan dengan periode yang diangkat. Dengan demikian, cerita tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi yang mendorong pembaca untuk memahami sejarah secara lebih luas.
Inisiatif ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan oleh United Nations, khususnya SDG 4: Quality Education yang menekankan pentingnya akses terhadap pendidikan berkualitas dan peningkatan literasi masyarakat. Melalui platform digital yang dapat diakses secara gratis, Athaya berharap masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh pengetahuan sejarah melalui media yang menarik dan mudah dijangkau.
Melalui rencana platform fiksi historis tersebut, Athaya berharap sejarah dapat hadir sebagai sesuatu yang hidup, relevan, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan memadukan penelitian sejarah dan kekuatan narasi, ia ingin menghadirkan cara baru dalam memahami masa lalu sekaligus menumbuhkan historical awareness di tengah masyarakat.
“Inspirasi terbesar dari program ini adalah menyadari bahwa sejarah selalu hidup dalam cerita manusia. Jika kita bisa membuat orang tertarik pada sejarah melalui cerita, maka kita sudah membuka pintu bagi pemahaman yang lebih luas tentang masa lalu,” pungkasnya.
Penulis: Athaya Maheswari Jumhur





