Produksi ikan patin di Indonesia meningkat tajam, menghasilkan limbah kulit dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit ikan kaya kolagen, mencapai 25-30% dari total protein hewani. Kolagen dari ikan menjadi alternatif potensial terhadap kolagen mamalia karena aman, halal, dan bebas risiko zoonosis seperti Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE). Selain itu, ukuran molekulnya yang kecil membuat kolagen ikan lebih mudah diserap oleh tubuh. Metode ekstraksi asam banyak digunakan karena mampu melarutkan ikatan non-kovalen dalam kolagen, menghasilkan struktur yang lebih mudah larut. Asam asetat merupakan pelarut paling efektif dibandingkan asam organik lain seperti asam laktat dan sitrat. Oleh karena itu, penelitian ini menelaah pengaruh variasi konsentrasi asam asetat terhadap karakteristik fisikokimia kolagen larut air dari kulit ikan patin. Kulit ikan patin diperoleh dari industri filet di Surabaya. Sampel dibersihkan, dipotong kecil, dan melalui proses (1) deproteinasi: perendaman dalam NaOH 0,1 M selama 3 jam untuk menghilangkan protein non-kolagen. (2) Hidrolisis: menggunakan asam asetat (0,4; 0,6; 0,8 M) selama 72 jam pada suhu rendah (4°C). (3)Hidro-ekstraksi: dilakukan pada suhu 40°C selama 2 jam menggunakan shaker incubator 150 rpm.
Hasil karakteristik fisikokimia menunjukkan bahwa konsentrasi asam asetat berpengaruh nyata terhadap kualitas kolagen. Perlakuan 0,6 M menghasilkan keseimbangan terbaik antara rendemen (9,045), kelarutan (79,71%), dan kandungan protein (67,34%). Kadar protein dan kelarutan tinggi menunjukkan efisiensi hidrolisis yang optimal tanpa merusak struktur triple heliks kolagen. Hasil spektrum FTIR menunjukkan pita serapan khas kolagen pada amida A (3277 cm⁻¹), B (2927 cm⁻¹), I (1633 cm⁻¹), II (1537 cm⁻¹), dan III (1240 cm⁻¹). Pita amida I dan II menandakan keberadaan struktur heliks α yang masih utuh, mengonfirmasi bahwa kolagen tidak terdenaturasi menjadi gelatin.
Hasil analisis komposisi kimia menunjukan bahwa kolagen mengandung glisin, alanin dan arginin. Glisin merupakan asam amino dominan (20,77%), diikuti alanin (9,19%) dan arginin (6,27%). Hasil analisis berat molekul dengan SDS-PAGE menunjukkan pita protein pada 65, 95, 130, dan 270 kDa yang merepresentasikan rantai α1, α2, dan β dimer dari kolagen tipe I.
Konsentrasi asam asetat berpengaruh signifikan terhadap karakteristik kolagen larut air dari kulit ikan patin. Konsentrasi optimal 0,6 M menghasilkan kolagen tipe I dengan struktur triple heliks utuh, kadar protein tinggi, dan kelarutan baik. Kolagen ini berpotensi digunakan sebagai bahan baku halal dan ramah lingkungan untuk industri pangan, kosmetik, serta biomedis. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengevaluasi bioaktivitas dan stabilitas termal kolagen hasil ekstraksi guna memperluas aplikasinya di sektor industri.
Penulis: Patmawati
Detail penelitian bisa dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/characteristics-of-water-soluble-collagen-extracted-from-catfish-/
Sumber: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan (JIPK) Vol. 17 No. 3 (2025)
DOI: 10.20473/jipk.v17i3.72086





