Universitas Airlangga Official Website

Kolestasis pada Bayi Picu Pendarahan Otak

Sumber foto: liputan6.com
Ilsutrasi Otak (foto: liputan6)

Kolestasis merupakan kondisi ketika aliran empedu dalam tubuh terganggu atau menurun secara signifikan. Kondisi ini dapat muncul akibat gangguan fungsi hepatosit yang berperan dalam sekresi empedu, atau karena adanya hambatan pada saluran ekskresi empedu. Berdasarkan lokasi hambatan, kolestasis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kolestasis intrahepatik dan ekstrahepatik.

Bayi dengan penyakit hati kolestatik rentan mengalami kekurangan vitamin K karena gangguan penyerapan lemak. Kekurangan vitamin K ini memicu gangguan pembekuan darah dan meningkatkan risiko perdarahan serius, termasuk perdarahan intrakranial (intracranial hemorrhage/ICH), yang dapat mengancam jiwa.

Sebuah laporan kasus menggambarkan bayi berusia tiga bulan dengan kolestasis yang disertai perdarahan intrakranial. Gejala yang muncul meliputi kulit dan mata kuning (ikterus), tinja berwarna pucat, kejang, serta perdarahan saluran cerna. Kondisi ini menunjukkan bahwa kolestasis tidak hanya berdampak pada fungsi hati, tetapi juga memengaruhi sistem pembekuan darah.

Bayi tersebut telah mendapatkan suplemen vitamin K, namun defisiensi tetap terjadi karena gangguan penyerapan lemak dan disfungsi hati yang menghambat produksi faktor pembekuan darah. Pemeriksaan pencitraan otak menunjukkan adanya perdarahan multifokal di dalam tengkorak. Setelah menjalani terapi vitamin K, transfusi plasma segar beku (fresh frozen plasma), dan perawatan suportif, kondisi klinis bayi menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Kasus ini menegaskan pentingnya mengenali kolestasis dan gangguan koagulasi sejak dini pada bayi. Deteksi awal sangat penting untuk mencegah komplikasi berat seperti perdarahan otak yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis permanen atau kematian. Pemantauan rutin terhadap fungsi hati dan status koagulasi bayi dengan kolestasis harus dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi tetap stabil.

Selain itu, pemberian suplemen vitamin K perlu dilakukan dengan dosis yang sesuai dan diawasi ketat oleh tenaga medis. Langkah ini membantu mencegah kekurangan vitamin K yang berpotensi menimbulkan gangguan pembekuan darah. Kesadaran tenaga kesehatan dan orang tua terhadap tanda awal kolestasis, seperti bayi yang mengalami kuning berkepanjangan dan tinja pucat, juga berperan penting dalam deteksi dan penanganan cepat.

Upaya pencegahan yang dilakukan sejak dini akan menurunkan risiko komplikasi berat dan meningkatkan kualitas hidup bayi dengan gangguan hati kolestatik. Kasus ini menjadi pengingat bahwa diagnosis dan intervensi tepat waktu sangat penting untuk menjaga keselamatan pasien, terutama pada kelompok usia rentan seperti bayi.

Penulis: Dr. Bagus Setyoboedi, dr.,Sp.A(K)

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: doi:10.37897/RJN.2025.2.7