Direct pulp capping merupakan perawatan di bidang konservasi gigi yang melibatkan aplikasi bahan biokompatibel diatas jaringan pulpa yang terbuka akibat trauma atau penyebab iatrogenic maupun karies. Perawatan direct pulp capping ini adalah untuk melindungi atau menutup pulpa dari jejas, sehingga pulpa menginisiasi pembentukan dentin bridge dan mempertahankan jaringan pulpa agar tetap sehat. Bahan yang selama ini digunakan untuk pulp capping dan merupakan gold stadar adalah Kalsium hidroksida, tetapi mempunyai beberapa keterbatasan, yaitu pH yang tinggi (pH 12,5) sehingga akan menyebabkan terbentuknya tunnel defect pada barrier dentin. Kalsium hidroksida juga memiliki kelarutan yang tinggi terhadap cairan rongga mulut. Berdasarkan keterbatasan-keterbatasan ini, maka pada akhir akhir ini sejumlah material diajukan sebagai kandidat untuk digunakan dalam perawatan direct pulp capping.
Salah satu material dari alam adalah propolis , merupakan zat yang mengandung resin dan diproduksi dari tanaman oleh lebah madu dari spesies Apis mellifera, mengandung komponen-kompenen kimia yang secara farmakologi aktif dan paling banyak diketahui adalah flavonoid, isoflavonoid, phenolic, caffeic acid, dan aromatic acid. Propolis tidak hanya mampu menghentikan reaksi inflamasi, infeksi karena mikroba, dan nekrosis pulpa tapi juga menstimulasi pembentukan dentin bridge.
Penelitian tentang Propolis, kalsium hidroksida, dan MTA memiliki efektifitas yang serupa dalam induksi pembentukan dentin reparatif sehingga akan membentuk dentine bridge sehingga pulpa yang terbuka dapat tertutup oleh dentin baru, Propolis dibuktikan bahwa efektifitas direct pulp capping yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk-produk berbahan dasar kalsium hidroksida. Berbagai macam manfaat dari propolis inilah yang mendasari untuk mengintegrasi pengobatan natural dan pengobatan modern dengan mengkombinasi kalsium hidroksida dengan ekstrak propolis sebagai kandidat material pulp capping, dengan harapan keunggulan masing-masing material dapat menutupi kekurangan dari material yang lainnya dan bekerja secara sinergis untuk mendapatkan manfaat yang diharapkan.
Pada gigi yang mengalami inflamsi atau keradangan pada pulpa dimana keadaan pulpa masih vital tetapi terdapat kavitas atau fraktur yang mendekati atap pulpa atau bahkan terjadi perforasi maka diperlukan perawatan direct/ indirect pulp capping. Penyembuhanpada jaringan pulpa yang mengalami inflamasi ditandai dengan proliferasi dan diferensiasi odontoblast-like cell dari sel-sel subodontoblast yang kemudian akan membentuk dentin reparativediatas daerah jejas. Dentine repataif ini akan membentuk dentine bridge sehingga perforasi dapat tertutup sehingga pulpa akan tetap vital dan sehat kembali. Berdasarkan dari penelitian penelitian pembentukan odontoblast like cells dapat ditandai dengan melalui marker MMP1 dan Kolagen tipe 1 yang merupakan mar ker biokimia spesifik odontoblast-like cell fungsional.
Kombinasi kalsium hidroksida dan ekstrak propolis dengan perbandingan 1: 1,5 digunakan atau diaplikasikan pada pulpa terbuka yang dalam hal ini pulpa terbuka akibat jejas mekanis dari penggunaan bur yang menembus pulpa. Kemudian diberi penutup restorasi agar tidak terlepas atau larut, setelah itu diperiksa dengan imunohistokimia untuk melihat ekspresi dari MMP1 dan densitas kolagen tipe 1. MMP 1 adalah enzim yang dapat mendegradi kolagen sedangkan kolagen tipe 1 adalah suatu pertanda akan terjadinya pembentukan dentin baru .
Ekspresi MMP1 pada gigi yang diaplikasi dengan kombinasi kalsium hidroksida dengan ekstrak propolis menunjukkan nilai rendah disebabkan karena kandungan bahan aktif propolis yaitu CAPE (caffeic acid phenethyl ester) dapat menyebabkan penurunan yang signifikan pada produksi sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan MMP-1 yang akan diekspresikan sebagai respon adanya kerusakan, namun secara kontras justru meningkatkan produksi TGFb yang merupakan sitokin anti-inflamasi melalui pengaruhnya pada aktivasi faktor transkripsi NF-kB dari jalur transduksi MAP kinase). Lingkungan proinflamasi dan pro wound healing inilah yang menyebabkan repair pulpa terjadi lebih baik.
Kalsium hidroksida memiliki sifat anti bakteri disebabkan memiliki pH yang tinggi yaitu 12,5 sehingga dapat merusak menghancurkan sel membran dan struktur protein. Efektifitas kalsium hidroksida bergantung pada disasosiasi dan pelepasan ion (OH), yang membaur pada jaringan lain dan menyebabkan pembentukan lapisan nekrotik. Dentin reparatif yang dibentuk oleh kalsium hidroksida porus dan pembentukan dentinnya tidak sempurna.
Kalsium hidroksida terdiri dari ion Ca2+ dan OH. Ion hidroksil masuk ke dalam sel melalui calcium channel yang menginduksi fosforilasi dari Inhibitor Kappa b (Ikb), kemudian Ikb terdegradasi secara cepat dan membebaskan NF-kb dan diikuti peningkatan tumor necrosis factor a (TNF a) dan MMP-1. Kalsium hidroksida memiliki pH yang tinggi (alkali) menyebabkan terjadinya nekrosis dengan kedalaman 1 mm atau lebih pada daerah permukaan sel ketika berkontak pada jaringan pulpa menyebabkan penurunan proliferasi sel diikuti penurunan diferensiasi sel sehingga menyebabkan proses pembentukan kolagen tipe 1 menurun.
Pada kombinasi kalsium hidroksida dan ekstrak propolis pH 7 , terjadi peningkatan TGF- b. Fungsi dari TGF-b adalah meningkatkan aktifitas proliferasi sel pulpa dan berkembang membentuk fibroblas muda. Fibroblas muda akan berdiferensiasi membentuk odontoblas like cell dan meningkatkan ekspresi kolagen tipe 1 untuk mengganti odontoblas yang rusak. Dapat disimpulkan, bahwa kombinasi kalsium hidroksida dengan propolis memberikan efek repair yang baik berdasarkan pengamatan pada ekspresi MMP1 dan Kolagen tipe 1.
Penulis: Salsabila Nunki Widona, Yashinta Ramadhinta, Michael Golden Kurniawan, Nanik Zubaidah, Ira Widjiastuti
Link Jurnal: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/application-of-combination-propolis-extract-and-calcium-hydroxide





