Universitas Airlangga Official Website

Komitmen Pemertahanan Budaya, Prodi Ilmu Sejarah UNAIR Lestarikan Warisan Budaya Majapahit 

Talkshow inspiratif bersama Prof Dr Purnawan Basundoro MHum dalam rangakaian PUSAKA 2025, Minggu (30/11/2025). (Foto: Isrtimewa)
Talkshow inspiratif bersama Prof Dr Purnawan Basundoro MHum dalam rangakaian PUSAKA 2025, Minggu (30/11/2025). (Foto: Isrtimewa)

UNAIR NEWS – Tunjukkan komitmen terhadap pelestarian budaya, Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) gelar program Promosi Situs Sejarah dan Kebudayaan (PUSAKA) 2025. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari mulai Jumat (28/11/2025) hingga Minggu (30/11/2025). 

Kegiatan ini bertempat di Candi Tawang Alun, Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Menurut salah satu anggota tim riset, Verdi Yudha Pratama, Situs batu merah peninggalan akhir Kerajaan Majapahit abad 14-15 ini dulunya dikenal sebagai Sumur Windu karena terkubur lumpur dan berkaitan dengan legenda Resi Tawangalun dan Raja Brawijaya II.

“Arsitektur simetrinya mencakup penampil empat sisi dan ruang bilik pemujaan kecil, meski rusak parah di sisi barat akibat pelapukan cuaca dan kelembaban. Kegiatan tiga ini menyatukan dosen, mahasiswa, dan warga dalam edukasi serta sinergi pelestarian situs yang belum terjamah luas,” jelasnya. 

Pemasangan papan informasi pada lokasi Candi Tawangalun, pada pembukaan PUSAKA 2025 (28/11/2025). (Foto: Istimewa)
Puncak Edukasi

Rangkaian bermula dengan kerja bakti dan pemasangan papan informasi demi memudahkan akses pengetahuan masyarakat terkait arsitektur Majapahit. “Malam harinya, kami rembug di Posyandu Melon untuk mewujudkan forum silaturahmi, meminta izin serta dukungan membangun kolaborasi kekeluargaan,” sebutnya.. 

Puncaknya, terdapat talkshow inspiratif yang menghadirkan beberapa pembicara kunci. Salah satunya Dosen Ilmu Sejarah, Prof Dr Purnawan Basundoro MHum. Bersama pembicara lain, Saipul dan T.P Wijoyo, ia membahas mengenai asal usul candi, toponimi, dan strategi pelestarian.

“Pelestarian Candi Tawangalun bukan sekadar menjaga bangunan bata merah yang tersisa, tetapi merupakan upaya bersama untuk mempertahankan identitas budaya, memori kolektif, serta pengetahuan sejarah masyarakat, karena setiap cagar budaya adalah jejak penting masa lalu yang hanya dapat tetap hidup apabila pemerintah dan warga terlibat aktif dalam perlindungan, perawatan, dan pemanfaatannya,” ujarnya.

Penutupan Hangat

Tak hanya talkshow interaktif, PUSAKA 2025 juga hadirkan children education dengan storytelling dan lomba mewarnai yang menambah kemeriahan kegiatan. “Malam puncak ada awarding bagi juara mewarnai dan lomba karaoke warga untuk mempererat silaturahmi dengan kemeriahan lintas usia,” terang Verdi. 

Penutupan yang berlangsung pada Minggu (30/11/2025) diisi dengan senam pagi bersama warga setempat dan prosesi resmi dengan berpamitan kepada juru kunci dan warga. “Kerja bakti akhir memastikan kebersihan, meninggalkan warisan sinergi akademisi dan masyarakat untuk identitas budaya bangsa,” pungkasnya.

Penulis: Mohammad Adif Albarado

Editor: Ragil Kukuh Imanto