Dermatitis atopik adalah kondisi peradangan kulit kronik yang sering terjadi pada individu di berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Perkiraan dermatitis atopik di dunia adalah 15-25% pada anak-anak dan 1-10% pada orang dewasa. Dalam menegakkan diagnosis dermatitis atopik perlu mempertimbangkan dari gejala klinis dan riwayat pasien. Gejala klinis yang seringkali muncul ditandai dengan adanya ruam merah, gatal, kulit kering, dan keluhan tersebut muncul berulang. Sebagian besar penderita dermatitis atopik disertai dengan riwayat penyakit terdahulu atau riwayat penyakit pada keluarga seperti asma, rhinitis alergi, dan dermatitis atopik.
Alergi dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti makanan, lingkungan, serta stress. Jenis makanan yang sering menyebabkan reaksi alergi yaitu susu, telur, kacang tanah, kacang pohon, kerang, ikan, gandum, dan kedelai. Hipersensitivitas atau alergi telur ayam merupakan salah satu jenis alergi makanan yang sering ditemui. Reaksi alergi tersebut umumnya muncul selama masa kanak-kanak atau tahap awal masa dewasa. Putih telur diketahui mengandung protein alergen seperti ovomucoid, ovalbumin, ovotransferrin, dan lisozim, yang pada umumnya lebih bersifat alergenik dibandingkan dengan kuning telur. Selain putih telur, alergi terhadap daging ayam juga dapat memicu respon alergi yang diperantarai IgE dan dengan gejala lebih berat, namun untuk angka kejadiannya terbilang cukup jarang terjadi.
Uji cukit kulit (skin prick test/SPT) merupakan metode uji alergi yang sering dikerjakan karena kemudahan dan kepraktisan pengerjaannya. Pada uji cukit kulit, alergen yang diujikan diaplikasikan pada kulit menggunakan jarum dan dievaluasi apakah menimbulkan reaksi alergi. Metode pemeriksaan lain yaitu dengan uji IgE spesifik, digunakan untuk memastikan keberadaan immunoglobulin E (IgE) yang berperan penting dalam proses alergi namun untuk harganya cenderung lebih mahal dibanding SPT. Hasil positif dari pemeriksaan SPT atau serum IgE spesifik tidak dapat mengkonfirmasi diagnosis alergi secara pasti, namun menandakan adanya proses sensitisasi atau respon kekebalan tubuh terhadap alergen.
Pada penelitian ini, potensi ekstrak putih telur ayam lokal dan daging ayam lokal dievaluasi melalui uji cukit kulit. Uji cukit kulit masih merupakan uji lini pertama untuk penyakit alergi yang diperantarai oleh reaksi alergi tipe 1. Uji cukit kulit lokal yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan kompatibilitas dan spesifisitas yang baik, sehingga layak menjadi pilihan untuk mendiagnosis dermatitis atopik di Indonesia. Selian itu, uji cukit kulit merupakan pemeriksaan yang sederhana, cepat, dan aman. Penilaian reagen putih telur dan daging ayam melalui uji cukit kulit dan analisis IgE spesifik harus dipertimbangkan sebagai strategi diagnostik untuk menentukan alergen penyebab dalam kasus dermatitis atopik, dengan mempertimbangkan riwayat pasien dan tampilan klinis.
Penulis : Dr.Damayanti,dr.Sp.DVE,Subsp.DAI
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:
https://rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2024-17-7-34
Baca juga: Potensi Nilai Diagnostik dari Uji Tusuk Kulit Alergen Lokal Indonesia





