Dulu, pengembangan obat terbaru harus melalui proses kompleks yang membutuhkan waktu panjang. Penggunaan komputasi dalam penemuan obat (KDPO) mempersingkat waktu tersebut dan mendorong perkembangan dalam bidang farmasi, medis serta ilmu kedokteran gigi. Teknik ini membantu pengenalan target obat, validasi, pemilihan senyawa aktif yang paling optimal dan interaksi target dengan senyawa aktif. Peran ini didukung oleh data molekuler, pengetahuan biomolekuler dan metode komputasi yang sesuai. Terdapat dua pendekatan KDPO yaitu desain obat berbasis struktur dan desain obat berbasis ligan. Konservasi gigi meliputi bidang pencegahan karies, restorasi dan endodontik. Dalam dasawarsa terakhir, KDPO dalam jumlah terbatas sudah mulai dimanfaatkan di bidang ini.
Dalam penelitian-penelitian sebelumnya, KDPO diterapkan untuk memprediksi bioaktivitas, aktivitas antimicrobial, identifikasi genom, farmakokinetik, toksisitas dan aktivitas antiviral. Tu (2018) memprediksi sejumlah peptide dari kasein yang memiliki aktivitas ACE, antioksidasi, antiinflamasi, imunomodulasi dan aktivitas antitrombik. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Silva dan Silva (2020) memprediksi kemampuan C-phycocyanin dari mikroalga untuk menurunkan jumlah bakteri penyebab karies. Pendekatan struktur dilakukan Rivera- Pérez (2019) untuk meneliti senyawa-senyawa aktif yang mempunyai kemampuan menghambat Streptococcus mutans, bakteri yang paling banyak dijumpai pada karies gigi. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Alagu et ala (2019), Babu et al (2020) dan Balamithra et al (2020) menggunakan pendekatan ligan untuk memprediksi potensi kemampuan antimikrobial dari capsaicin, genistein dan glychirrizin. Konfirmasi identifikasi genom saliva dilakukan menggunakan Primer-BLAST oleh Arévalo-Ruano et al (2014), dan mendapatkan hasil bahwa genom S. mutans yang dihasilkan oleh uji real time polymerase chain reaction (RT-PCR) tidak 100% identik dengan primer S. mutans.
Penggunaan KDPO dalam penelitian-penelitian terdahulu menghasilkan prediksi aktivitas yang berguna dalam bidang konservasi gigi. Uji yang dilakukan oleh Tu et al (2018) menguatkan penggunaan casein phosphopeptide-amorphous calcium phosphate dalam aplikasi klinis untuk menekan demineralisasi, sekaligus memicu remineralisasi. Uji ini sejalan dan dapat juga mengonfirmasi uji in vitro dan in vivo, seperti yang dilakukan oleh Arévalo- Ruano et al (2014).
Dengan pendekatan KDPO maka banyak hal yang dapat dieksplorasi dalam bidang konservasi gigi untuk mengetahui mekanisme yang belum diketahui. Tentunya pengetahuan pengguna, pemilihan metode, basis data terpercaya dan aplikasi yang tepat akan berpengaruh pada reliabilitas hasil prediksi.
Penulis: Drg. Anastasia Elsa Prahasti, SpKG , Prof. Dr. Tamara Yuanita, drg., MS., SpKG(K), Prof.Dr. Retno Pudji Rahayu. S.,drg., M.Kes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2022/06/69-10-5-Computer- D22_1783_Dian_Agustin_Wahjuningrum_Indonesia.pdf
Anastasia Elsa Prahasti1, Tamara Yuanita2 Retno Pudji Rahayu3. Computer Aided Drug Discovery Utilization in Conservative Dentistryhttp://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2022/06/69-10-5-Computer-D22_1783_Dian_Agustin_Wahjuningrum_Indonesia.pdf





