Universitas Airlangga Official Website

Komunikasi dan Empati

Kalau saya menulis artikel tentang dunia kesehatan, industri kesehatan tentu banyak unsur subyektifnya mengingat saya bukanlah seorang “medical doctor by training”, namun saya tertarik membahas tentang mindset dan cara berkomunikasi seorang calon dokter spesialis. Hal ini menanggapi berita-berita yang sudah viral tentang bagaimana gaduhnya unggahan nirempati seorang peserta Program Pendidikan Dokter Spesialias (PPDS) UGM pada awal Agustus 2026 di media sosial terhadap pasien BPJS Kesehatan. Diberitakan bahwa dokter peseta didik berinisial EPR tersebut sebelumnya melayangkan komentar bernada sinis pada unggahan pasien bernama Yurizal yeng berkeluh kesah tentang lamanya mendapatkan kamar rawat inap selama delapan jam. Belakangan pasien ini diberitakan meninggal dunia.

Kalau seorang itu melamar menjadi anggota TNI, maka yang bersangkutan sudah memiliki gambaran tugasnya yakni membela negara. Di pendidikan militer yang dia tempuh dia mendapatkan pelajaran antara lain wawasan kebangsaan, NKRI, sejarah bangsa dsb; dan ketika dia masuk di lembaga TNI dia menyadari bahwa lembaga itu adalah lembaga yang berfungsi menjaga kedaulatan negara.

Analogi dengan hal tersebut, bila seorang ingin menjadi dokter maka dia faham bahwa tugas dia adalah kemanusiaan, membantu orang susah. Di fakulktas kedokteran dia juga mendapatkan berbagai ilmu tentang dunia kesehatan, dan ketika dia masuk Rumah Sakit maka dia harus faham tentang definisi dan karakter Rumah Sakit.

Saya pernah mengutip Peter Ferdinand Drucker seorang penulis, konsultan manajemen, dan “ekolog sosial.” Amerika Serikat terkemuka dan sering disebut sebagai bapak “manajamen modern.” mengatakan bahwa “hospitals are the most complex form of organization that humans have ever attempted to manage. Atau bahwa rumah sakit itu adalah bentuk organisasi paling kompleks yang pernah coba dikelola manusia. Sementara itu Díaz Carlos Alberto, seorang Professor. Director of specialization in economics and health management. ISALUD University juga membagi pendapatnya tentang kompleksitas pengelolaan Rumah Sakit “Hospitals are complex companies of services, because they are governed by paradigms of complexity and nonlinear behaviors of their members, of the patients and also of their illnesses, and they are also four companies in one: the clinic, the industrial, the hotel and the teaching” (Rumah sakit adalah perusahaan layanan yang kompleks, karena mereka diatur oleh paradigma kompleksitas dan perilaku nonlinier anggotanya, pasien dan juga penyakit mereka, dan mereka juga empat perusahaan dalam satu: klinik, industri, hotel dan pengajaran). Selanjutnya sang Profesor ini menambahkan: “Kita harus menganggap rumah sakit sebagai sistem adaptif yang komplek karena praktik klinis, organisasi, manajemen informasi, penelitian, pendidikan, dan pengembangan profesional saling bergantung, dibangun di lingkungan dengan banyak penyesuaian diri dan sistem yang berinteraksi. Dalam konteks ini, individu adalah aktor sosial rumah sakit dan memiliki kebebasan bertindak, tetapi tindakan mereka berdampak pada lingkungan lainnya, bahkan dalam kelompok yang sama dan apa itu lebih sering perilaku tidak dapat diprediksi dan modifikasi kecil dapat membuat perubahan besar.“

Seorang peserta didik PPDS tentu harus memahami kompleksitas sebuah Rumah Sakit yang disinggung kedua tokoh diatas antara lain tentang perilaku pasien dan penyakitnya, juga menurut saya perilaku anggota keluarga pasien yang memiliki berbagai perasaan seperti keraguan, harapan, kesedihan, penderitaan dsb.

Maka peserta didik PPDS harus memiliki kemampuan – disamping kemampuan atau expertise nya dibidang ilmu kedokteran – juga kemampuan berkomunikasi yang effektif terhadap pasien dan keluarga pasien yang memiliki kompleksitas kejiwaan. Dalam ilmu komunikasi ada beberapa faktor tentang efektifnya sebuah komunikasi itu antara lain soal empati, sebuah perasaan kejiwaan untuk merasakan penderitaan orang lain. Hal ini juga diucapkan oleh Dekan FK-KMK UGM Yodi Mahendradhata yang mengatakan empati dan etika profesi merupakan nilai dasar pelayanan kesehatan yang tidak dapat ditawar.