Tidur merupakan komponen penting untuk kesehatan dan kesejahteraan terutama aspek kesejahteraan fisik, mental, dan emosional individu. Sebenarnya masalah tidur, termasuk gangguan pernapasan saat tidur dan gangguan insomnia merupakan masalah umum yang sering terjadi pada semua populasi. Kondisi kurang tidur dapat mengancam kekebalan tubuh, metabolisme, kesehatan kardiovaskular kognitif dan memori. Dampak ini akan lebih signifikan dirasakan pada lansia yang mempunyai tingkat kerentanan yang lebih tinggi. Terlepas adanya hubungan antara disfungsi tidur dan hasil yang merugikan bagi lansia, dampak gangguan tidur pada lansia dengan penyakit kronis masih belum jelas, sehingga perlu proses kajian lebih mendalam.
Kualitas tidur sangat mempengaruhi status kesehatan dan kualitas hidup. Beberapa faktor yang didentifikasi adalah umur, kondisi fisik, harga diri, pekerjaan dan pola makan tidak sehat. Perubahan kualitas tidur merupakan bagian dari proses penuaan normal, baik dalam hal penurunan durasi maupun konsolidasi. Kualitas tidur yang buruk sering dikaitkan dengan status kesehatan, peningkatan risiko kematian, peningkatan penerimaan perawatan kesehatan, peningkatan lama rawat inap, dan tingginya tekanan psikologis. Tidur yang tidak normal sangat berhubungan erat dengan kondisi tekanan psikologis seperti depresi dan kecemasan, terutama durasi tidur yang menjadi faktor prediktor kecemasan, dan merupakan faktor utama depresi. Tekanan psikologis dapat dijadikan sebagai salah satu faktor mediasi kualitas tidur lansia dengan penyakit kronis.
Penelitian ini dilakukan pada 104 lansia dengan penyakit DM dan hipertensi yang tergabung dalam kelompok Program Pengendalian Penyakit Kronis (Prolanis) Puskesmas Sukodadi Kabupaten Lamongan, dengan menggunakan metode purposive sampling. Kriteria pada yang dipilih adalah pasien penderita DM dan hipertensi dalam 1 tahun terakhir berdasarkan diagnosa dokter yang terdokumentasi dalam rekam medis dan usia lebih 60 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner psychological distress untuk mengukur masalah psikologis dan Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengidentifikasi kualitas tidur.
Hasil penelitian didapatkan bahwa 65,4% lansia mengalami tekanan psikologis ringan, dan 54,8% lansia memiliki kualitas tidur baik. Hasil analisis statistik juga menunjukkan terdapat hubungan kondisi psikologis dengan kualitas tidur lansia penderita penyakit kronis. Lansia dengan masalah makrovaskular tidak hanya memiliki gangguan kualitas tidur tetapi juga cenderung depresi. Durasi perkembangan penyakit juga memiliki dampak penting pada kualitas tidur dan depresi. Faktor psikologis yang diidentifikasi dapat menyebabkan gangguan tidur adalah pensiun, isolasi, kesepian, kehilangan atau kesedihan, dan masalah emosional, depresi dan kecemasan. Kondisi penyakit seperti demensia, nyeri bersifat kronis, penyakit pernafasan dan gangguan sistem genitourinaria dapat menjadi penyebab sekaligus sebagai faktor pencetus gangguan tidur pada lansia. Lansia dengan masalah kardiometabolik seperti DM, hipertensi, dislipidemia disertai keluhan nokturia akan lebih berisiko mengalami gangguan kualitas tidur. Selain itu, jenis kelamin dan komorbiditas klinis seperti hipertensi, PJK, dan PPOK merupakan prediktor positif terhadap kualitas tidur. Disamping akibat proses penuaan, penyakit kronis yang diderita oleh lansia dapat meningkatkan risiko penurunan kualitas tidurnya . Kualitas tidur lansia juga dapat dipengaruhi oleh tingkat depresi dan kurangnya aktivitas fisik dan aktivitas sosial yang dilakukan oleh lansia.
Kesimpulan penelitian adalah kondisi psikologis berhubungan signifikan dengan kualitas tidur lansia penderita penyakit kronis pada kelompok Prolanis. Rekomendasi penelitian ini adalah pemberian intervensi pada lansia dengan penyakit kronis perlu mempertimbangkan aspek psikologis karena akan berpengaruh terhadap keberhasilan intervensi yang diberikan.
Penulis :
Joko Susanto, S.Kep., Ns., M.Kes
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





