Universitas Airlangga Official Website

KONSEKUENSI NEUROTOKSIK BROMADIOLON (Kasus Ensefalopati Toksik)

sumber: Klik Dokter
sumber: Klik Dokter

Rodentisida adalah agen kimia yang dirancang khusus untuk membasmi hewan pengerat, terutama yang umum ditemukan di lingkungan perumahan, seperti tikus dan mencit. Zat-zat ini sering kali mengandung senyawa antikoagulan atau neurotoksik yang ampuh yang mengganggu fungsi biologis hama sasaran, yang menyebabkan kematian mereka. Penggunaan rodentisida yang disengaja sebagai metode pembunuhan, meskipun relatif jarang, telah didokumentasikan dalam beberapa kasus forensik dan menimbulkan tantangan diagnostik karena presentasi gejala yang tertunda dan seringkali tidak spesifik. Kasus-kasus ini menyoroti pentingnya kesadaran publik, regulasi yang lebih ketat, dan kewaspadaan klinis dalam mengidentifikasi keracunan rodentisida, terutama ketika bermanifestasi dengan efek sistemik yang atipikal atau parah. Namun cukup mudah ditemukan. Tak jarang, rodentisida digunakan sebagai salah satu metode pembunuhan.

Laporan Kasus Pada tanggal 16 April 2023, pukul 22.00 WIB, seorang perempuan datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan pusing, mual, dan muntah yang mulai dirasakan 30 menit sebelum masuk rumah sakit. Gejala-gejala ini ditimbulkan setelah ia mengonsumsi martabak dan jus melon yang diberikan oleh mantan suaminya.

Keracunan atau intoksikasi dapat didefinisikan sebagai interaksi antara zat asing, yang dikenal sebagai toksin, dan sistem biologis, yang mengakibatkan kerusakan pada organisme. Dalam kedokteran, istilah “farmakokinetik” digunakan, sementara dalam konteks keracunan, kita menggunakan “toksikokinetik”. Bidang ini mengkaji proses penyerapan, distribusi, metabolisme, dan ekskresi toksin. Proses-proses ini menentukan jumlah toksin yang berinteraksi dengan sistem biologis dan menghasilkan efek toksik. Toksikodinamika adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara racun dan jaringan. Interaksi ini dapat menyebabkan perubahan fungsional dan metabolik yang merupakan karakteristik keracunan klinis dan sangat penting untuk diagnosis dan penatalaksanaan.

Bromadiolon adalah racun antikoagulan, sering disebut sebagai super-warfarin, dan bertindak sebagai antagonis vitamin K. Senyawa ini berasal dari keluarga hidroksikumarin dan umumnya digunakan sebagai rodentisida. Racun ampuh ini memengaruhi semua jenis mamalia, dengan rumus molekul C30H23BrO4. Bromadiolon berfungsi dengan menghambat proses pembekuan darah dan sintesis protrombin, sekaligus merusak permeabilitas pembuluh darah. Zat aktifnya, bromadiolon, menyebabkan berbagai efek seperti anoreksia, penurunan aktivitas dan gerakan, serta gejala fisik yang nyata, termasuk mata merah dan berair, yang dapat terjadi setelah dikonsumsi dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. LD50 (dosis mematikan bagi 50% populasi) senyawa ini berkisar antara 0,16 hingga 0,93 mg/kg.

Ensefalopati toksik menunjukkan trias asfiksia saat pemeriksaan: pembuluh darah melebar, darah terdapat di mata dan organ dalam, perubahan warna biru pada ujung jari dan kuku, dan bercak perdarahan pada sklera dan organ dalam. Selain itu, temuan histopatologi mendukung diagnosis ini, menunjukkan pembuluh darah membesar di limpa, hati, ginjal, dan, yang paling penting, di otak. Bromadiolon tidak terdeteksi dalam sampel darah, lambung, atau urin, kemungkinan karena resusitasi dilakukan saat pasien masih hidup, yang meliputi lavage lambung dan kateterisasi. Namun, bromadiolon ditemukan dalam sisa jus melon yang dikonsumsi korban, yang seharusnya tidak mengandung zat ini. Bromadiolon adalah racun yang sangat kuat, dan bahkan sejumlah kecil yang terdapat dalam makanan atau minuman dapat menyebabkan kerusakan serius pada kehidupan suatu organisme.

Simpulan dalam kasus ini keracunan rodentisida (bromadiolon), yang menyebabkan kerusakan pada otak.

Penulis: Prof. Dr. Ahmad Yudianto, dr., Sp.F(K)., M.Kes., SH.

Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://doi.org/10.32598/ijmtfm.v15i03.48995

Fadhly Azis, Prasillia Ramadhani, Ahmad Yudianto, Yudha Erik Prabowo, Seno Fauzi Alyanugraha. [2025].  Case Report Neurotoxic Consequences of Bromadiolone Exposure: A Case Report of Toxic Encephalopathy. International Journal of Medical Toxicology and Forensic Medicine. 2025; 15(3):E48995.