Buah mengandung senyawa yang diperlukan seperti antioksidan, polisakarida, gula, vitamin, mineral, dan asam organik. Oleh karena itu, mereka adalah bagian penting dari diet manusia baik dari jumlah yang dikonsumsi dan nilai gizi yang terkandung didalamnya. Apel adalah salah satu buah yang paling populer di seluruh dunia, terutama di daerah beriklim sedang. Apel dapat dikonsumsi segar, atau dikonsumsi sebagai jus atau pure buah olahan. Di AS, rata-rata orang mengonsumsi rata-rata 7,8 kg apel segar dan 8,4 kg apel segar
Pertumbuhan penduduk diprediksi pada tahun 2025 dapat menimbulkan banyak tantangan global, salah satunya adalah akibat meningkatnya industrialisasi dan urbanisasi yang memungkinkan emisi berbagai kelas polutan ke lingkungan. Unsur-unsur yang berpotensi beracun diantaranya besi (Fe), tembaga (Cu), mangan (Mn), seng (Zn), timbal (Pb), cadmium (Cd), krom (Cr), arsenik (As), dan nikel (Ni) adalah logam/metalloid dengan massa jenis lebih dari 5 g/cm3. Unsur potensi beracun memiliki efek karsinogenik dan non-karsinogenik yang berefek pada gangguan sistem pernapasan, pencernaan, sirkulasi, kemih, kerangka, dan saraf.
Unsur potensi beracun dilepaskan ke air, tanah, dan udara melalui peristiwa alami (erosi tanah, perpindahan oleh sedimen sungai, dan pelapukan) dan antropogenik (kegiatan industri, penggunaan bahan kimia pertanian, pembakaran bahan bakar, pembakaran limbah, dan penambangan). Banyak undang-undang nasional dan internasional yang memberlakukan kualitas makanan. Pendekatan ini mendorong para ilmuwan untuk memantau konsentrasi unsur potensi beracun dalam berbagai produk makanan seperti buah-buahan. Sementara beberapa penelitian dilakukan untuk menyelidiki konsentrasi unsur potensi beracun dalam berbagai buah-buahan, tidak ada tinjauan sistematis yang diberikan mengenai konsentrasi unsur potensi beracun dalam apel dalam skala global. Berkaitan dengan hal tersebut, telah direncanakan tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mempertimbangkan konsentrasi unsur potensi beracun (Pb, Cd, Cr, Ni, dan As) dalam apel sebagai salah satu buah yang paling banyak dikonsumsi, selain itu, penilaian risiko kesehatan kemungkinan dilakukan untuk memperkirakan risiko karsinogenik dan non-karsinogenik unsur potensi beracun apel.
Tinjauan sistematis dilakukan sesuai dengan protokol PRISMA, beberapa database internasional seperti PubMed dan Scopus dikumpulkan dari 1 Januari 2000, hingga 1 Mei 2020. Kriteria inklusi berdasarkan PRISMA protokol diantaranya menuliskan laporan konsentrasi UNSUR POTENSI BERACUN dalam apel, artikel penelitian menggunakan bahasa Inggris, dan mencakup data statistik yang sesuai seperti ukuran sampel, rata-rata, serta standar deviasi (SD), mengikuti karya serupa sebelumnya, buku, artikel ulasan, dan tesis, korespondensi, surat, dan konferensi dikeluarkan dan juga penelitian termasuk jenis penelitian eksperimental yang menyelidiki konsentrasi UNSUR POTENSI BERACUN dalam apel dikeluarkan. Dari kriteria diatas didapatkan 32 artikel dan 106 laporan yang dimasukkan dalam penelitian ini. Studi ini mengekstrak informasi tentang wilayah/negara, tanggal publikasi, konsentrasi UNSUR POTENSI BERACUN , dan data statistik (ukuran sampel dan SD) dari artikel yang disertakan.
Urutan peringkat unsur potensi beracun pada buah apel dari yang tertinggi hingga ke yang rendah adalah Pb (427,45 g/kg-berat basah), Ni (228,74 g/kg-berat basah), Cr (212,43 g kg-berat basah), As (123,93 g/kg-berat basah), Cd (15,28 g/kg-berat basah). Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa apel adalah akumulator unsur potensi beracun yang kuat. Pada saat yang sama, beberapa dari mereka melebihi tingkat yang diizinkan, yang dapat dikaitkan dengan jenis dan bentuk kimia, pH, karakteristik tanah, interaksi dengan mikroorganisme tanah, dan kultivar (varietas budidaya) apel. Penelitian lain telah menyatakan bahwa konsentrasi unsur potensi beracun dalam jaringan tanaman dapat berbeda tergantung pada jenis batang bawah dengan kapasitas penyerapan yang berbeda dan mengandung konsentrasi polutan yang berbeda, sedangkan konsentrasi As dan Pb diamati memiliki kadar yang lebih tingi pada buah pisang, tangerine, apel, lalu jambu. Sebaliknya, konsentrasi Ni, Zn, dan Cr pada buah apel paling rendah di antara berbagai jenis buah lainnya. Konsentrasi rata-rata unsur potensi beracun dalam sereal dan buah-buahan adalah sebagai berikut: Cr > Pb > As > Cd. Namun, hasil menunjukkan bahwa konsentrasi semua unsur potensi beracun berada di bawah batas maksimum yang diizinkan. Terkait dengan penilaian risiko kesehatan, hanya negara-negara AS, Serbia, dan Polandia yang memiliki tingkat TTHQ yang tidak dapat diterima untuk anak-anak. Sebaliknya, TTHQ di semua negara untuk orang dewasa sudah dibawah batas maksimal. Dalam kaitannya dengan negara lain seperti CR, Serbia, Spanyol, Yunani, Cina, Bangladesh, dan Pakistan untuk orang dewasa, dan Serbia, Spanyol, Yunani, Cina, dan Bangladesh untuk anak-anak tidak ada risiko karsinogenik. Seperti dibahas di atas, apel yang terkontaminasi dapat mempengaruhi kesehatan populasi besar. Oleh karena itu, perlu menggunakan metode pertanian untuk mengurangi paparan tanaman terhadap semut pencemar. Mencegah penggunaan pestisida yang tidak sesuai dan air yang tercemar dapat secara signifikan mengurangi akumulasi logam dalam produk pertanian. Selain itu, memilih lokasi penanaman jauh dari area yang terkontaminasi juga penting untuk mencegah pencemaran pada tanaman.
Penulis: Trias Mahmudiono
Untuk mengetahui lebih detail terkait artikel ini, anda dapat melihatnya pada link yang tertera di bawah :
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35648350/
Judul: The concentration of potentially toxic elements (PTEs) in apple fruit: a global systematic review, meta-analysis, and health risk assessment





