UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih juara 1 dalam lomba Indonesia Foreign Policy Review (IFPR). Kegiatan itu diselenggarakan oleh Universitas Indonesia (UI) pada Senin, (19/1/2026).
Tim yang terdiri dari Zulfiqar Syauqi, Josephine Alexandra Tandean, dan Desak Nyoman Savitri Indiraswari itu berhasil mengalahkan ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Zulfiqar selaku perwakilan dari tim tersebut merasa bangga dan bersyukur karena dapat memperoleh prestasi luar biasa itu.
“Saya dan tim datang tanpa ekspektasi apapun, kemenangan ini menjadi suatu momen luar biasa bagi kami. Kami bangga sekaligus tidak berekspektasi bisa sampai di tahap ini. Melawan peserta dari berbagai kampus di Indonesia dengan berbagai gagasan yang luar biasa menjadi salah satu tantangan bagi kami,” ungkapnya.
Isu Geopolitik Bali
Zulfiqar menyampaikan bahwa dalam kompetisi itu timnya mengangkat isu terkait keadaan geopolitik di Bali melalui wawancara dengan 10 narasumber yang berasal dari Bali. Sebagai salah satu tujuan wisata internasional, Bali menjadi wilayah yang bergantung pada kedatangan turis global. Hal tersebut memunculkan masalah baru terkait dengan kepemilikan tanah di Bali.
“Kami menyoroti semakin banyak tanah di Bali yang WNA kuasai akibat adanya praktik Nominee agreement (pinjam nama) dan sewa jangka panjang. Perebutan ruang hidup tidak hanya oleh aktor negara saja, tapi masyarakat grassroots juga merasakan. Geopolitik bukan cuma ada di panggung negara tapi juga ada di masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa celah hukum pada peraturan yang mengatur kepemilikan hunian asing di Bali menjadi salah satu faktor penting yang menambah banyaknya kepemilikan tanah oleh asing. Celah tersebut menimbulkan banyaknya praktik manipulasi hukum bagi WNA untuk dapat memperoleh tanah di Bali.
“Dalam hal ini muncul segregasi sosial yang membuat warga lokal merasa asing untuk memasuki wilayah tertentu seperti Ubud dan Canggu yang banyak dikuasai asing. Akhirnya, transformasi ini mempertegas pergeseran geopolitik pariwisata di Bali dari ‘Tourism for Bali” menjadi “Bali for Tourism’,” jelasnya.
Harapan Kedepan
Dalam mengikuti kompetisi itu, Zulfiqar dan timnya tidak menemui adanya kesulitan yang berarti. Hanya saja saat penyusunan paper ilmiah, ia dan tim nya cukup sulit mengatur waktu karena kesibukan masing-masing. Selain itu, wawancara kepada 10 narasumber sebagai topik dalam paper tersebut juga memberikan tantangan baru bagi ketiganya.
“Kedepannya paper ilmiah yang kami lombakan ini akan publikasi dalam jurnal ilmiah. Sehingga bukan hanya memenangkan kompetisi, namun juga menambah publikasi ilmiah kami. Semoga hasil riset ini dapat memberikan manfaat dan perspektif baru dalam pengambilan kebijakan terhadap kepemilikan tanah oleh WNA di Bali,” pungkasnya.
Penulis: Rifki Sunarsis Ari Adi
Editor: Khefti Al Mawalia





