Situasi saat ini menunjukkan bahwa usia harapan hidup penduduk Indonesia semakin meningkat, yang berdampak pada bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia. Pada tahun 2019, rata-rata usia harapan hidup di Indonesia adalah 73,3 tahun untuk perempuan dan 69,4 tahun untuk laki-laki. Peningkatan usia harapan hidup ini mencerminkan perbaikan kondisi sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat Indonesia. Salah satu indikator kualitas kesehatan yang terkait dengan harapan hidup adalah kesehatan kelompok usia lanjut.
Penduduk lanjut usia merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit degeneratif. Berdasarkan studi terdahulu, orang tua sering kali memiliki kebutuhan perawatan yang belum terpenuhi serta mengalami gangguan kronis. Pada tahun 2019, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia mencapai 25,9 juta orang atau sekitar 9,7% dari total populasi. Meskipun jumlahnya tergolong rendah, namun tingkat kemiskinan di kalangan lansia di Indonesia lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, mencapai 11,1%. Sementara itu, tingkat morbiditas lansia di Indonesia juga tinggi, yakni 25,05%.
Sebagai kelompok rentan, lansia sangat membutuhkan layanan kesehatan dasar, dan hambatan dalam mengakses layanan akan meningkatkan kerentanan mereka. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara tingkat pendidikan dan status kesehatan masyarakat. Lansia di Indonesia yang tidak memiliki pendidikan dan tinggal di daerah pedesaan lebih cenderung menggunakan puskesmas untuk memenuhi kebutuhan akan perawatan kesehatan. Berdasarkan kondisi ini, kami mencoba melakukan analisis data sekunder dari Survei Kesehatan Dasar Indonesia 2018 dengan sampel target sebanyak 300.000 rumah tangga dari 30.000 blok sensus. Studi ini berfokus untuk menganalisis dampak pendidikan terhadap pemanfaatan puskesmas di kalangan lansia di Indonesia dengan melibatkan 52.893 responden yang berusia di atas 65 tahun.
Berdasarkan temuan kami, rata-rata nasional penggunaan puskesmas di Indonesia di kalangan lansia adalah 10,3%. Lansia dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi mayoritas memiliki status ekonomi yang baik dan dapat mengakses pelayanan kesehatan secara cepat, dengan waktu perjalanan yang singkat yaitu sekitar 10 menit ke puskesmas. Temuan ini menjelaskan bahwa tingkat pendidikan lansia berkontribusi pada penggunaan layanan kesehatan langsung di Indonesia. Berdasarkan tingkat pendidikannya, lansia dengan pedidikan menengah dan tinggi lebih mungkin untuk memanfaatkan puskesmas. Kondisi ini dapat menjelaskan bahwa pendidikan yang lebih baik pada lansia berdampak positif pada penggunaan layanan kesehatan segera di Indonesia. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rendah kemungkinan lansia mengalami masalah kesehatan dan kapasitas fungsional yang buruk. Pendidikan memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan karena mempengaruhi faktor psikososial dan perilaku. Studi ini juga mencatat bahwa lansia dengan pendidikan rendah sering kali mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan layanan kesehatan karena keterbatasan literasi kesehatan. Mereka mungkin tidak tahu kapan harus mencari bantuan medis atau bagaimana cara menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia.
Waktu perjalanan bisa menjadi faktor awal yang perlu dipertimbangkan dalam memanfaatkan puskesmas. Semakin cepat waktu perjalanan ke layanan kesehatan primer, semakin banyak kesempatan bagi lansia untuk memanfaatkan layanan kesehatan langsung. Beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi pemanfaatan puskesmas di kalangan lansia di Indonesia adalah usia, jenis kelamin, status pernikahan, status pekerjaan, dan kepemilikan asuransi. Pemanfaatan puskesmas didominasi oleh lansia berusia muda, laki-laki, belum pernah menikah, dan tidak bekerja,
Terkait dengan kepemilikan asuransi kesehatan, lansia dengan asuransi yang dikelola pemerintah atau JKN memiliki kesempatan lebih besar untuk memanfaatkan puskesmas dibandingkan lansia yang tidak memiliki asuransi. Memiliki asuransi kesehatan meningkatkan kemungkinan lansia untuk menerima layanan kesehatan dan mengurangi biaya rawat inap dari kantong pribadi. Meski demikian, sistem kesehatan mendistribusikan manfaat secara tidak merata, dengan orang-orang berpenghasilan rendah dan menengah mendapatkan manfaat paling besar dari pengurangan biaya dari kantong pribadi. Secara geografis, manfaat asuransi kesehatan sedikit berdampak pada populasi pedesaan, menunjukkan bahwa hambatan institusi masih ada.
Hasil studi ini menegaskan bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam pemanfaatan puskesmas di kalangan lansia di Indonesia. Pembuat kebijakan dapat memanfaatkan hasil ini untuk mempercepat pemanfaatan layanan kesehatan primer di kalangan lansia di Indonesia. Pembuat kebijakan dapat menentukan sasaran kebijakan yang spesifik berdasarkan temuan-temuan tersebut.
Penulis: Ratna Dwi Wulandari
Link: https://doi.org/10.20473/jaki.v12i1.2024.11-24
Baca juga: Prevalensi dan Prediktor penyebab Polifarmasi Pasien Lansia





