Universitas Airlangga Official Website

Konsumsi Kopi Lebih Dari Dua Jam Sebelum atau Sesudah Makan dapat Menurunkan Risiko Anemia

Konsumsi Kopi Lebih Dari Dua Jam Sebelum atau Sesudah Makan dapat Menurunkan Risiko Anemia
Ilustrasi minum kopi (sumber: eatthis.com)

Anemia merupakan salah satu masalah kekurangan gizi yang sering terjadi pada remaja putri. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi dan faktor lain seperti kebiasaan minum kopi. Berdasarkan data WHO (2019) prevalensi anemia pada perempuan di dunia sebesar 29,9%, sedangkan pada kelompok remaja usia 15-24 tahun di Indonesia mencapai 32% dengan prevalensi anemia kelompok remaja putri sebesar 27,2% (Riskesdas, 2018). Anemia rentan terjadi pada kelompok remaja putri daripada remaja putra. Hal ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya karena kekurangan asupan zat besi. Remaja putri seringkali mengalami kekurangan zat besi karena kebutuhan zat besi yang meningkat selama masa pertumbuhan dan menstruasi. Diet yang rendah zat besi, seperti tidak cukup mengonsumsi daging merah, sayuran berdaun hijau, dan makanan kaya zat besi lainnya, dapat menyebabkan anemia. Begitu juga siklus menstruasi yang berkepanjangan dapat menyebabkan kehilangan darah yang signifikan, sehingga mengurangi cadangan zat besi dalam tubuh dan menyebabkan anemia.

Selain tingkat kecukupan zat besi, faktor lain yang menjadi risiko penyebab anemia adalah konsumsi inhibitor zat besi seperti kafein. Sumber kafein seperti kopi menyebabkan penyerapan zat besi tidak maksimal. Minum kopi atau teh secara berlebihan dapat mengganggu penyerapan zat besi dari makanan, karena kandungan kafein dan tanin dalam minuman tersebut. Kafein yang terdapat pada biji kopi merupakan zat tergolong psikoaktif yang memiliki efek untuk meningkatkan suasana atau perasaan hati. Selain itu, memberikan suatu dorongan energi sehingga dapat mengurangi rasa kelelahan. Penelitian Putriwaty dkk (2024) pada kelompok remaja putri menunjukkan ada hubungan antara frekuensi konsumsi pangan inhibitor zat besi dan konsumsi kafein dengan anemia.

Hasil Studi

Hasil studi Ardiansyah dkk (2024) di SMAN 1 Manyar Gresik menunjukkan bahwa 23% remaja putri mengalami anemia. Selain itu, sebesar 69,2% memiliki tingkat kecukupan zat besi yang terkategori kurang. Tingkat kecukupan zat besi yang terkategori kurang dapat berdampak pada metabolisme dalam tubuh yang tidak optimal berkaitan dengan fungsi zat besi sebagai transporter oksigen oleh hemoglobin serta berperan dalam membantu enzim untuk mengikat oksigen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kecukupan zat besi dengan anemia pada remaja putri. Dengan demikian, tingkat kecukupan zat besi merupakan salah satu hal yang dapat memengaruhi anemia pada remaja putri.

Faktor lain penyebab anemia adalah karena kebiasaan konsumsi kopi oleh lebih dari separuh responden remaja putri. Kebiasaan konsumsi kopi pada responden dalam penelitian ini berdasarkan frekuensi, jumlah, dan waktu konsumsi kopi. Mayoritas responden mengonsumsi kopi dengan frekuensi mingguan. Terkait dengan jumlah, mayoritas responden memiliki kebiasaan konsumsi kopi sebanyak 1 cangkir sehingga batas konsumsi tersebut masih dalam batas aman jumlah kafein yang masuk ke dalam tubuh.

Temuan dan Kesimpulan

Hasil penelitian pada remaja putri di SMAN 1 Manyar Gresik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara jumlah konsumsi kopi dengan anemia. Hal tersebut terjadi karena asupan kopi pada remaja putri di SMAN 1 Manyar Gresik tidak melebihi batas. Akan tetapi terdapat hubungan yang bermakna antara waktu mengonsumsi kopi dengan anemia. Sebagian besar responden yang tidak mengalami anemia, memiliki kebiasaan konsumsi kopi lebih dari 2 jam sebelum atau sesudah makan. Pemberian jeda konsumsi kopi setelah makan perlu dilakukan berkaitan dengan efek konsumsi kopi yang dapat mengganggu penyerapan zat besi hingga 80% ketika bersamaan dengan makan hingga jeda satu jam setelah makan.

Kandungan kafein dan tannin yang terdapat dalam kopi dapat membentuk suatu ikatan kimia yang dapat larut dengan zat besi non heme sehingga menghambat absorbsi zat besi dalam tubuh. Dengan demikian, konsumsi kopi minimal satu hingga dua jam setelah makan. Mayoritas responden dengan status tidak anemia mengonsumsi kopi dua jam sebelum atau sesudah makan sehingga meminimalisasi gangguan penyerapan zat besi di dalam tubuh. Mengatasi anemia pada remaja putri memerlukan pendekatan yang holistik. Termasuk, peningkatan asupan makanan kaya zat besi, suplemen zat besi bila perlu, dan pemantauan kesehatan secara teratur.

Penulis: Lailatul Muniroh, S.KM., M.Kes.

Baca juga: Keberlanjutan dalam Mengatasi Perubahan Lingkungan dan Masalah Sosial