Bencana banjir memang hal yang biasa. Sebaliknya jika bencana banjir itu menjadi perdebatan bagi masyarakat maka pasti ada ideologi yang tersembunyi pada fakta-fakta tentang bencana atau banjir khususnya. Misalnya, banjir yang terjadi di urban area seperti Jakarta dan banjir yang bernilai berita tinggi seperti kasus yang mendatangkan kematian dan kerusakan secara luas, banjir dengan longsor, banjir bandang, dan kasus kasus ekstrim lainnya. Apa lagi dengan produksi-produksi wacana baru melalui narasi tanggung jawab pemerintah dalam mengatasi banjir. Jika banjir tidak segera teratasi, maka kepala daerah harus menjadi target pelampiasan kambing hitam atas ketidakbecusannya mengelola kota atau daerah.
Lebih lanjut, titik utama masalah adalah narasi-narasi tentang banjir yang meluap, selalu berkaitan dengan masalah politik dan relasi kekuasaan. Narasi-narasi dalam media massa bisa jadi berkisar keperkasaan pemimpin daerah atau dominasi kelas sosial atas yang memiliki modal untuk membangun konsep tata kota yang utopia. Nilai jurnalisme di Indonesia harus lebih proaktif membela hak-hak golongan minoritas serta golongan yang tidak memiliki kuasa untuk mengkritik (Hanitzsch, 2007). Akan tetapi, praktik jurnalisme kebencanaan juga berpotensi untuk mencari pelampiasan kambing hitam pihak yang bertanggung jawab dalam bencana yang terjadi (Fisher & Brockriede, 1984). Paradoks yang semacam ini muncul dalam berbagai jurnalisme bencana.Â
Muatan Ideologi
Muatan ideologi pemberitaan banjir di Indonesia selalu berkaitan dengan masalah politik. Ini menandakan relasi kekuasaan menjadi semakin jelas terbaca daripada di pemberitaan banjir pada masa-masa sebelumnya. Berita yang mencolok sebagai bentuk gejala politisasi pada penelitian ini. Contohnya adalah kasus banjir di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta tahun 2020. Pada peristiwa itu narasi berita di media lebih memandang pro dan kontra secara politik antara kinerja Gubernur Anies Baswedan dan lawan politiknya.
Kompas mengangkat issue pada tanggal 19 Desember 2019 tentang sindiran presiden kepada Gubernur DKI dan jajarannya tentang pembangunan waduk ibu kota dan perang klaim dengan pejabat Pemerintah Provinsi. Bukti ini kemudian akan menuntun kepada persoalan polemik banjir di media menjadi semakin banyak. Berita mengenai bencana secara kuantitatif mulai banyak. Ini karena setelah terjadi mega- bencana mulai dari awal 2000 maka kebutuhan informasi akan bencana meningkat. Lebih jauh lagi ini menjadikan media mendramatisasi berita bencana (Nazaruddin, 2015a). Bahkan bencana bukan lagi cuma sebagai kebutuhan informasi melainkan juga sebagai sebuah hal baru yakni komoditas berita politik (Dwifatma, 2018).
Teori retorika dan wacana kritis
Artikel ini membahas persoalan polemik bencana banjir di media online menggunakan analisis teori retorika kritis McKerrow, dengan tujuan utama lebih mendekatkan pada formasi wacana yang belum terbahas pada penelitian-penelitian sebelumnya tentang kontestasi kepentingan politik. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis Fairclough untuk mengungkap artikel berita banjir dari 2019-2021 di Tirto.id. Sedangkan perspektif Foucauldian dalam studi ini digunakan sebagai tinjauan retorika kritis McKerrow untuk menganalisis power, right dan truth. Selanjutnya peneliti akan menjabarkan triangulasi ini dalam dua kritik, yaitu kritik dominasi dan kebebasan di media online Tirto.id dalam memberitakan banjir. Â
Polemik atas banjir diangkat melalui wacana kritik dominasi dalam berita banjir yang berkaitan dengan relasi kuasa lebih mempertanyakan interpelasi pada kontestasi politik berupa polemik kebijakan dan otoritas lintas batas, marginalisasi dan dikotomi korban banjir. Pada media umum, narasi berita lebih mengarah pada gaya kritik pada relasi kuasa berupa paradoks, satir dan tragedi. Kritik kebebasan pada media lebih cenderung memaparkan polemik banjir sebagai emansipasi dan partisipasi masyarakat. Selain itu, juga sering terkait potensi terjadinya gentrifikasi pada masyarakat urban. Pada praktik wacana berita banjir ditemukan bahwa media cenderung mencari ketidakberesan sosial. Media juga sering menyorot hambatan sosial berdasarkan tata kelola dan performa pemerintah dalam menangani bencana banjir. Media lebih mempertanyakan performa kinerja pengelolaan anggaran negara dan perilaku masyarakat yang masih memperlakukan sungai sebagai tempat sampah.Â
Dari segi power, Tirto.id mewacanakan kritik power sebagai pertarungan kekuasaan status sosial kelas menengah atas dan bawah. Dominasi cenderung nampak pada disparitas sosial dan diskrepansi efek pembangunan pada masyarakat miskin serta ekosistem di sekitarnya. Dari segi right, Tirto.id mewacanakan tuntutan keadilan ekologis bagi masyarakat kelas menengah bawah. Terakhir, dari segi truth, wacana tentang korban banjir meliputi kelas bawah akibat dari perebutan lahan. Studi ini menyimpulkan bahwa kritik dominasi menunjukkan pemerintah tidak terlalu serius dalam konsep keadilan ekologi untuk semua kalangan. Kritik kebebasan menunjukkan bahwa Tirto.id mengekspresikan satir bahwa banjir hanya diderita oleh masyarakat miskin bukan masyarakat kaya.
Kesimpulan
Pada akhirnya relasi-dialektika Fairclough dan Mckerrow yaitu perubahan sosial dan relasi sosial sebagai implikasi teoritik menunjukkan bahwa, retorika kritis yang mewacanakan bencana banjir terpusat pada materi kekuasaan dan simbol-simbol kuasa sebagai sebuah doxa bahwa bencana banjir adalah akibat dari tata-kelola kekuasaan dan perubahan sosial mempertanyakan keadilan ekologi bagi warga. Implikasi praktis lebih menonjol pada relasi sosial yakni jurnalisme kebencanaan lebih menunjukkan pentingnya emansipasi, partisipasi dan edukasi masyarakat. Meski demikian, jurnalisme kebencanaan di Indonesia jarang bisa membongkar relasi ekonomi yang masih tersamarkan dalam wacana.
DATA PENULIS
Nama : (Nevrettia Christantyawati, Liestyaningsih)
Yuyun Wahyu Izzati Surya, S.Sos., MA.,PhD
NIP : 197108051997022001
No hp : 0811312635
Judul : Domination criticism and freedom criticism on flood news in online media from a Foucauldian view
Link : https://e-journal.unair.ac.id/MKP/article/view/46701/28136
Baca Juga: Kisah Inspiratif Si Kembar Asal Surabaya Lolos SNBP UNAIR





