Leukemia merupakan penyakit ganas yang berasal dari lekosit atau sel darah putih. Dalam kondisi normal, sel darah putih melawan infeksi dan zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Pada anak penderita leukemia, sumsum tulang menghasilkan sel darah putih abnormal yang disebut sel leukemia. Sel leukemia ini berkembang biak dengan cepat dan progresif hingga memenuhi sumsum tulang, dilepaskan ke aliran darah, dan menyebar ke seluruh bagian tubuh, termasuk hati, limpa, paru-paru, dan otak.
Leukemia merupakan penyakit keganasan yang paling umum terjadi pada anak-anak, dengan kejadian lebih dari 80%. Sebagian besar kasus leukemia pada masa kanak-kanak adalah leukemia limfoblastik akut dan leukemia mieloblastik akut, dengan sebagian kecil adalah leukemia mieloblastik kronis.
Gejala tersering pada anak dengan leukemia adalah pucat, demam, perdarahan dan pembesaran organ seperti hati, limpa serta kelenjar getah bening. Gejala lain adalah nyeri tulang dan sendi, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, dan nyeri perut. Terkadang timbul gejala akibat penyebaran sel leukemia ke organ tubuh, seperti sakit kepala, kejang, gangguan penglihatan, kesulitan bernapas, dan nyeri dada.
Kemoterapi merupakan terapi utama pada leukemia. Selain itu diperlukan terapi suportif untuk menunjang keberhasilan kemoterapi, antara lain pengendalian infeksi, transfusi darah, nutrisi serta pendampingan psikologis untuk pasien dan keluarga. Kemoterapi dapat memberikan berbagai efek samping pengobatan mulai dari komplikasi ringan, sedang hingga berat. Di sisi lain, kemoterapi memberikan kesintasan yang cukup tinggi pada anak leukemia, mencapai 90% sehingga harapan hidup anak dengan leukemia semakin meningkat.
Dengan meningkatnya harapan hidup anak dengan leukemia, diharapkan kualitas hidup anak tidak akan terganggu baik selama pengobatan kemoterapi atau setelah pengobatan. Pengukuran kualitas hidup pada anak dapat menggunakan kuesioner PedQoL (Pediatric Quality of Life), khusus untuk anak dengan keganasan dapat menggunakan PedQL modul kanker versi 3.0 yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.
Validitas dan reliabilitas kuesioner tersebut telah diteliti oleh Mira dkk (2012). Â Penelitian oleh Arifah dkk (2023) menunjukkan bahwa skor QoL terendah pada kecemasan terhadap tindakan prosedur. Sedangkan kondisi lain seperti nyeri, takut, muntah, gangguan kognitif, kecemasan terhadap pengobatan, penampilan fisik serta gangguan komunikasi memberikan hasil skor di atas 75 yang menunjukkan kualitas hidup yang baik.
Penulis: Arifah S, Pookboonmee R, Patoomwan A, Kittidumrongsuk P, Andarsini M
Link: https://www.paediatricaindonesiana.org/index.php/paediatrica-indonesiana/article/view/3234





