Infeksi hepatitis B kronis (CHB) masih menjadi masalah kesehatan yang mendapat perhatian untuk diberantas secara global karena tingginya insiden dan komplikasi. Hepatitis B kronis menimbulkan perhatian serius karena morbiditasnya yang tinggi, seperti sirosis dan karsinoma hepatoseluler, dan kematian dari 267 per 100.000 orang-tahun. Sampai saat ini, terapi medis yang berhasil memberantas virus hepatitis B belum tersedia. Terapi diberikan dalam jangka panjang untuk menekan replikasi virus dan perkembangan penyakit.
Terapi CHB diberikan dengan mempertimbangkan kriteria klinis dan non klinis, antara lain HBsAg, HBeAg, kadar ALT serum, DNA HBV, stadium fibrosis hati, biaya, lama terapi, dan kondisi individu. Nucleoside analog (NA) adalah agen antivirus yang bersaing dengan nukleosida atau nukleotida untuk mengakhiri DNA sirkular santai virus (rcDNA) sebelum waktunya selama transkripsi balik yang menghambat replikasi HBV. NA dikonsumsi secara oral setiap hari sampai HBsAg tidak terdeteksi, terjadinya serokonversi HBeAg tanpa sirosis, atau DNA HBV tidak terdeteksi selama minimal 12 bulan setelah pengobatan lengkap. Patofisiologi yang kompleks menyebabkan perlunya konsumsi NA bertahun-tahun di Indonesia, namun seringkali tanpa durasi terapi yang tetap
Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pasien yang diobati dengan NA memiliki kualitas hidup atau Quality of Life (QoL) yang berbeda jika dibandingkan dengan pasien biasanya. QoL merupakan persepsi individu tentang posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka hidup dan dalam kaitannya dengan tujuan, harapan, standar, dan perhatian mereka. Status kesehatan dan penggunaan napza memengaruhi QoL melalui kesehatan fisik dan mental. Berdasarkan studi sebelumnya, pasien CHB yang menerima terapi NA dalam penggunaan jangka panjang, memiliki potensi menderita perubahan kualitas hidup.
Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal nasional, yaitu Biomolecular And Health Science Journal. Peneliti menganalisis kualitas hidup pasien hepatitis B kronis yang mengkonsumsi NA dengan membandingkannya dengan pasien naif di RS Akademik Dr. Soetomo Surabaya.
.
Hasil penelitian melaporkan bahwa quality of life pada kelompok NA lebih tinggi secara signifikan dalam skor komponen fisik (PCS) dan skor komponen mental (MCS), dengan fungsi fisik (PF), batasan peran karena kesehatan fisik (RP), batasan peran karena masalah emosional (RM), subskala energi/kelelahan (VT), kesejahteraan emosional (MH), fungsi sosial (SF), dan persepsi kesehatan umum (GH) memiliki p<0,05. Studi ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien mengkonsumsi tenofovir, sedangkan pasien di RSU Dr. Sardjito Yogyakarta sebagian besar mengkonsumsi lamivudine. Berdasarkan penggunaan klinis, lamivudine diberikan kepada pasien HBeAg positif dengan ALT>2x ULT atau status histologis menggunakan AST Platelet Ratio Index (APRI) minimum pada tahap F2 dan peka terhadap lamivudine berdasarkan hasil klinis dan laboratorium. Studi sebelumnya yang melibatkan pasien rawat inap yang peka terhadap lamivudine dengan anggapan sukses 88%, hanya satu pasien yang diganti dengan entecavir. Selain itu, lamivudine lebih murah dan lebih banyak tersedia daripada rejimen lain dalam pengaturan tersebut. Tenofovir direkomendasikan sebagai lini pertama di samping entecavir. Pasien yang mengonsumsi tenofovir lebih tinggi mencapai serokonversi HBeAg dan DNA HBV tidak terdeteksi.
NA menekan peradangan dengan menghambat replikasi HBV sehingga parameter klinis pada pasien yang mengkonsumsi NA membaik. Pada gilirannya, kualitas hidup diharapkan meningkat, sehingga meningkatkan manfaat NA dalam terapi hepatitis B. Namun demikian, klinisi perlu mengatasi efek samping tersebut agar NA dapat dikonsumsi dengan nyaman oleh pasien dan meningkatkan tingkat keberhasilan pengobatan.
Singkatnya, temuan kami mendukung pemahaman bahwa pengobatan analog nukleosida mempengaruhi kualitas hidup pada pasien CHB. Data menunjukkan kualitas hidup secara signifikan lebih tinggi dalam komponen fisik, termasuk fungsi fisik, batasan peran karena kesehatan fisik, dan persepsi kesehatan umum, juga dalam komponen mental, termasuk batasan Hasil ini didekati karena efek analog nukleosida dalam menghambat replikasi virus, sehingga mencegah perkembangan penyakit dan meningkatkan mental untuk menghadapi penyakit.
Penulis: Ummi Maimunah, dr.,Sp.PD.K-GEH.FINASIM
Artikel dapat diakses: https://doi.org/10.20473/bhsj.v5i1.31409





