UNAIR NEWS – Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kuliah tamu bertajuk Bridging Gaps in Communication Development Within Global Health Care. Acara tersebut berlangsung pada Selasa (29/4/2025) di Ruang Prapanca, Gedung FIB, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.
Kuliah tamu ini mengundang tiga akademisi dari The University of Melbourne yang akan membahas hasil riset mengenai dampak desain kelas terhadap kemampuan membaca. Riset tersebut melibatkan hampir 200 siswa dan berlangsung selama empat tahun di enam sekolah. Lina Puryanti SS MHum PhD selaku Wakil Dekan Riset, Inovasi, dan Community Development (RICD) juga turut hadir dalam acara ini.

Desain Kelas pada Proses Belajar
Salah satu pemateri, Prof Dani Tomlin menunjukkan bahwa kelas terbuka, dengan banyak murid dalam satu ruang besar sering kali menciptakan kondisi yang terlalu bising untuk belajar optimal. “Anak-anak belajar lebih baik ketika suasana kelas lebih tenang. Di kelas terbuka yang bising, kecepatan membaca mereka menurun,” jelasnya.
Penelitian tersebut mengungkap bahwa tidak semua anak mampu bertahan dalam kebisingan. Anak-anak dengan perhatian rendah atau kesulitan memproses ujaran dalam lingkungan ramai cenderung mengalami penurunan kemampuan literasi secara signifikan. “Ada anak-anak yang tetap mampu belajar di kelas terbuka, tapi sebagian lain butuh kondisi sunyi agar bisa fokus dan menyerap materi,” imbuhnya.
Pembahasan berlanjut pada tantangan lain yang seringkali luput dari perhatian, yaitu gangguan pendengaran pada anak. Associate Prof Kelley Graydon bersama Dr Christopher Waterworth menjelaskan bahwa banyak kebiasaan sederhana justru dapat membahayakan jalur pendengaran, termasuk menganggap wajar penggunaan cotton bud. “Banyak orang tidak tahu kalau telinga sebenarnya punya cara alami untuk membersihkan diri. Dorongan dari cotton bud justru membuat kotoran terdorong lebih dalam,” ujar Kelley.
Di samping itu, mereka mengingatkan bahwa risiko gangguan pendengaran bisa muncul sejak anak masih dalam kandungan, bahkan akibat paparan obat-obatan tertentu. Faktor-faktor seperti infeksi telinga, trauma lahir, atau genetik menjadi penyebab umum. “Obat dengan kandungan gentamicin, yang dapat masyarakat beli dengan bebas, termasuk yang berisiko merusak pendengaran anak,” terang Christopher.
Peran Aktif Keluarga
Dalam wawancara kepada UNAIR News usai acara, Prof Dani menyebutkan bahwa kehilangan pendengaran di usia dini dapat memperlambat atau bahkan menghentikan proses pemerolehan atau perkembangan bahasa pada anak, tergantung tingkat keparahannya. “Bisa jadi anak hanya kehilangan sebagian bunyi atau bahkan tidak berbicara sama sekali. Kalau tidak segera mendapat penanganan, perkembangan komunikasinya akan sangat tertinggal,” tuturnya.
Langkah penanganan yang diberikan pun tidak selalu seragam. Ada yang menggunakan alat bantu dengar, implan koklea, atau berpindah ke sistem komunikasi berbasis visual, seperti bahasa isyarat. Prof Dani mengatakan bahwa yang paling utama adalah anak tetap harus punya akses terhadap bahasa dalam bentuk apa pun.
Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda
Editor: Edwin Fatahuddin Ariyadi Putra





