UNAIR NEWS – Perkembangan riset dalam ilmu sosial dan humaniora menunjukkan perubahan signifikan, terutama dalam metode pengumpulan data dan cara peneliti dalam menghadirkan pengetahuan. Jika sebelumnya penelitian kualitatif lebih identik dengan wawancara dan diskusi kelompok terarah. Kini, berbagai pendekatan kreatif mulai digunakan untuk menangkap pengalaman, emosi, hingga perspektif yang sulit diungkap melalui kata-kata. Isu tersebut menjadi fokus dalam kuliah tamu bertajuk Creative Methods and Non-traditional Research Outputs (NTRO’s) yang Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, selenggarakan pada Kamis (20/11/2025).
Kuliah tamu ini menghadirkan Aireen Grace Andal PhD dari The International Institute for Asian Studies dan Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads. Dalam pemaparannya, Aireen menekankan bahwa metode kreatif bukan sekadar pelengkap, tetapi merupakan cara baru yang mampu menantang cara-cara konvensional dalam memproduksi pengetahuan.
Metode Kreatif dan Batasan Riset Kualitatif
Aireen menjelaskan bahwa metode kreatif semakin mendapat perhatian dalam riset sosial dan humaniora. Ia menyoroti bahwa metode tradisional yang terlalu bergantung pada wawancara atau FGD sudah tidak cukup untuk menangkap kompleksitas pengalaman pada manusia.
“Lanskap metode kini berubah dan menjadi lebih radikal. Kita tidak bisa hanya mengandalkan wawancara atau FGD sebagai sumber data,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini terdapat gatekeeping metode oleh tradisi akademik barat yang menempatkan akurasi representasi realitas sebagai standar utama. Padahal realitas tidak selalu dapat diwakili secara presisi.
Aireen menegaskan bahwa terdapat banyak cara untuk menghasilkan pengetahuan. “Ada banyak cara untuk memproduksi pengetahuan di luar obsesi terhadap representasi realitas yang akurat,” terangnya. Ia juga mendorong mahasiswa untuk melampaui batas-batas metode konvensional dan memberi ruang bagi kreativitas, imajinasi, serta pengalaman peserta penelitian.
Aireen juga memaparkan berbagai contoh metode kreatif yang dapat digunakan dalam penelitian. Seperti penggunaan gambar, lukisan, kolase, fotografi, hingga video sebagai sarana peserta penelitian untuk mengekspresikan pengalaman mereka.
“Ketika kata-kata tidak cukup, seni visual menjadi sebuah keharusan,” jelasnya. Ia menekankan bahwa metode-metode ini memungkinkan peneliti masuk perlahan tanpa menuntut peserta untuk menarasikan pengalaman traumatis secara langsung.
NTRO sebagai Alternatif Penelitian Akademik
Aireen juga menjelaskan konsep Non-Traditional Research Outputs (NTRO’s) yang kini telah berkembang pesat di kawasan Oseania. Ia menunjukkan bagaimana disertasi berbentuk komik, film etnografi, hingga animasi kini mulai diakui sebagai keluaran riset akademik yang sah.
Menurutnya, selama analisis, teori, dan metode tetap kuat, bentuk penyajian tidak harus berupa tulisan panjang. “Selama memiliki data dan analisis yang tepat, Anda dapat mengekspresikan riset melalui banyak bentuk,” jelasnya.
Aireen kemudian membahas social fiction sebagai metode kreatif yang dapat membantu peneliti menyampaikan cerita-cerita sensitif tanpa mengungkap identitas peserta. “Kadang cara terbaik untuk menceritakan sesuatu adalah dengan tidak menceritakannya secara langsung,” katanya.
Di akhir, Aireen mengutip lagu dari musikal Matilda berjudul Naughty, yang menurutnya merangkum semangat metode kreatif, terkadang kita harus “sedikit nakal” untuk mengubah cerita dan melampaui aturan-aturan lama dalam riset.
Penulis: Tsabita Nuha Zahidah
Editor: Khefti Al Mawalia





