UNAIR NEWS – Mudik merupakan fenomena sosial yang terjadi setiap tahun di Indonesia, khususnya menjelang Hari Raya Idulfitri. Pemerintah dan berbagai pihak terkait memiliki peran krusial dalam mengelola arus mudik guna memastikan kelancaran dan keselamatan pemudik.
Peran ini meliputi penyediaan infrastruktur transportasi yang memadai, pengelolaan lalu lintas, peningkatan layanan transportasi publik, serta pengamanan di jalur mudik. Kebijakan seperti rekayasa lalu lintas (one way, contra flow), penyediaan posko kesehatan, hingga pengaturan harga tiket sampai penambahan jumlah armada angkutan umum merupakan langkah konkret.
Biandro Wisnuyana, SAnt MA, Dosen Antropologi FISIP UNAIR, turut memberikan tanggapannya. Imbauan-imbauan yang pemerintah buat tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan para pemudik perlu pemerintah lakukan secara masif. Dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada sejak sebelum menjelang libur lebaran sampai dengan hari-H. “Selain itu, Evaluasi rutin dan inovasi dalam pengelolaan arus mudik perlu terus dilakukan agar layanan kepada masyarakat semakin optimal,” ujar Biandro.
Nilai Budaya dan Kearifan Lokal
Fenomena mudik bukan sekadar perjalanan kembali ke kampung halaman, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia. Tradisi ini memperlihatkan pentingnya ikatan kekeluargaan dan gotong royong dalam kehidupan sosial.

Dalam perspektif antropologi mudik memiliki unsur ritual. Perjalanan pulang bukan hanya sebagai perjalanan fisik tetapi juga memiliki makna spiritual dan emosional, sebagai bentuk pulang ke akar atau menyambungkan kembali diri dengan asal-usul.
Dalam kajian antropologi simbolis, mudik bisa dipahami sebagai ritual peralihan (rite of passage) yang menandai siklus kehidupan. Terutama dalam konteks memperbarui hubungan sosial dan spiritual. Setiap tahun, masyarakat dari berbagai lapisan sosial dan daerah turut berpartisipasi dalam tradisi ini. Budaya mudik juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti sektor ekonomi, pariwisata, dan industri transportasi.
“Menurut saya, mudik merupakan fenomena sosial yang kompleks dan multidimensional. Mudik dapat dianalisis dari berbagai sudut pandang, seperti teori mobilitas sosial, solidaritas sosial Émile Durkheim, hingga perspektif ekonomi politik,’’ ujar Biandro. Mudik mencerminkan hubungan erat antara migrasi dan identitas budaya. Di satu sisi, mudik menunjukkan bagaimana urbanisasi memengaruhi kehidupan masyarakat
Sebagai bagian dari dinamika sosial, budaya mudik menjadi bahan kajian untuk memahami bagaimana perubahan sosial terjadi, baik dalam pola mobilitas masyarakat maupun dalam interaksi sosial di era digital. Pemanfaatan teknologi dalam mudik, seperti penggunaan aplikasi navigasi, pemesanan tiket online, dan media sosial untuk berbagi pengalaman mudik, menunjukkan bahwa budaya ini terus berkembang seiring kemajuan zaman.
Penulis: FISIP UNAIR
Editor: Yulia Rohmawati





