UNAIR NEWS – Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR) menerima kunjungan kehormatan dari delegasi akademisi dan peneliti dari Jepang. Delegasi dari Jepang terdiri dari perwakilan Kobe University, National Center for Global Health and Medicine (NCGM), dan National Institute of Infectious Diseases (NIID). Kunjungan tersebut berlangsung pada Rabu (19/2/2025) di Rumah Sakit UNAIR, Kampus MERR-C, UNAIR.
Peninjauan Fasilitas RS UNAIR
Tim delegasi Jepang yang diwakili oleh Dr Mitsuhiro Nishimura dan Dr Rei Takamiya dari Kobe University, serta Tomimasa Sunagawa, Hiroyuki Sugiyama, Yuko Murakami dari NIID, dan Takako Matsuzaki serta Miyako Otsuka dari NCGM. Sementara itu, RS UNAIR diwakili oleh Direktur RS UNAIR, Prof Dr Nasronudin dr SpPD K-PTI FINASIM dan jajarannya yang turut menyambut para tamu dari Jepang.
Dalam kunjungan itu, delegasi diajak berkeliling untuk melihat berbagai fasilitas unggulan RS UNAIR. Beberapa fasilitas yang dikunjungi meliputi Ruang Riset Inovasi dan Pengobatan Tradisional (Battra), stroke unit, Airlangga Aesthetic Center dan Poli Kulit, laboratorium riset, Clinical Trial Research Center, serta ruang vaksin.

Kerja Sama Melalui Program J-GRID
Sementara itu, dalam konferensi pers tersebut, perwakilan Kobe University mengungkapkan bahwa latar belakang kunjungan itu adalah untuk memperkuat kerja sama yang telah berlangsung lama antara kedua institusi. “Jepang memiliki banyak universitas yang bekerja sama dengan Indonesia, dan UNAIR adalah mitra utama dalam bidang penelitian penyakit menular,” kata Dr Rei Takamiya.
Selanjutnya, Dr. Rei mengungkapkan kolaborasi tersebut termasuk dalam program J-GRID (Japan Initiative for Global Research Network on Infectious Diseases), yang menggandeng Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga (ITD UA). “Kami melihat banyak potensi dari penelitian yang dilakukan di UNAIR, terutama dalam menangani berbagai penyakit tropis,” tambahnya.
Hal yang menarik dari kunjungan tersebut adalah ketertarikan delegasi Jepang terhadap penanganan penyakit thalasemia di RS UNAIR. “Di Jepang, thalasemia hampir tidak ditemukan, sehingga kami belajar banyak dari bagaimana RS UNAIR menangani pasien dengan penyakit ini,” ujar Dr Rei.
Harapan untuk Masa Depan
Selain itu, Prof Nasronudin sebagai Direktur RS UNAIR menegaskan bahwa kerja sama antara Indonesia dan Jepang di bidang penelitian semakin kuat, terutama dengan adanya program J-GRID yang telah berlangsung sejak tahun 2007 dan diperbarui pada tahun 2015.
“Kunjungan kali ini istimewa karena kami tidak hanya menerima delegasi dari Kobe University, tetapi juga dari NCGM dan NIID, yang membuka peluang kolaborasi lebih luas,” jelasnya.
Prof Nasronudin berharap bahwa kerja sama itu dapat berkembang lebih jauh, tidak hanya dalam bidang riset dan penelitian, tetapi juga dalam pendidikan dan pelayanan pasien. “Kami berharap kolaborasi ini nantinya akan menghasilkan produk akademis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas, serta mewujudkan program inti pemerintah Indonesia, yaitu hilirisasi riset,” pungkasnya.
Penulis: Adinda Aulia Pratiwi
Editor: Khefti Al Mawalia





