Universitas Airlangga Official Website

Kunyit Dapat Mencegah Disfungsi Pembuluh Darah Karena Jelaga

Foto by Detikcom

Polusi udara meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas akibat disfungsi pembuluh darah endotel, namun mekanisme proses ini belum jelas. Particulate Matter (PM) atau jelaga merupakan salah satu komponen penting dalam pencemaran udara yang dapat menyebabkan disfungsi endotel pembuluh darah melalui eksaserbasi aterosklerosis dan peradangan pada sistem pernapasan. Sebagai bukti, ditunjukkan bahwa polusi udara berkontribusi terhadap kejadian penyakit kardiovaskular akut dimulai dengan kejadian disfungsi endotel vaskular melalui berbagai jalur, termasuk peradangan sistemik, aktivitas jalur homeostatis, percepatan aterosklerosis, ketidakstabilan plak, perubahan kontrol saraf otonom, dan aritmia jantung yang menyebabkan vasokonstriksi, hipertensi, dan agregasi platelet.

Jelaga dapat menyebabkan stres oksidatif melalui pembentukan langsung reactive oxygen species (ROS) melalui sifat fisikokimia permukaan yang dimiliki oleh partikel. Salah satu mekanisme yang diduga berperan adalah terjadinya stres oksidatif yang kemudian akan meningkatkan ROS dalam tubuh yaitu hidrogen peroksida (H2O2) dan radikal hidroksil (-OH). Radikal bebas khususnya radikal hidroksil (-OH) dapat menyebabkan kerusakan sel melalui mekanisme yang disebut peroksidasi lipid dengan hasil akhir berupa senyawa yang bersifat merusak sel, salah satunya adalah malondialdehid (MDA). Peningkatan kadar MDA dalam plasma darah dapat menjadi indikator stres oksidatif. Stres oksidatif inilah yang selanjutnya menginduksi degenerasi sel dan kemudian menyebabkan disfungsi sel endotel.

Enzim antioksidan SOD bertindak sebagai enzim pelindung garis depan terhadap anion superoksida, yang mengkatalisis superoksida menjadi hidrogen peroksida dan oksigen. Molekul O2 akan tereduksi menjadi H2O dengan penambahan 4 buah elektron, sehingga terbentuk radikal anion superoksida yang kemudian diubah menjadi H2O2 oleh enzim SOD. Jika jumlah elektron yang mereduksi molekul kurang dari 4 buah, maka proses fosforilasi berlangsung tidak sempurna sehingga senyawa radikal bebas yang terbentuk dari jelaga dapat berpindah ke pembuluh darah. Pada saat partikulat jelaga masuk ke dalam tubuh, tubuh akan melakukan pertahanan, mekanisme berupa peningkatan produksi sitokin proinflamasi oleh sel-sel inflamasi, terutama makrofag. Makrofag dapat mengeluarkan sitokin proinflamasi, sitokin ini mengaktifkan Nuclear Factor Kappa B (NF-kB) dalam sel yang merespons peradangan. Aktivasi NF-kB akan memicu pelepasan sitokin pro inflamasi, seperti interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-α (TNF-α). Sitokin ini akan merangsang sel imun dan sel endotel vaskular untuk melepaskan sitokin inflamasi. Produksi sitokin inflamasi dan ROS yang berlebihan akan mengakibatkan kerusakan jaringan, keadaan ini dapat menyebabkan gangguan disfungsi sel pembuluh darah.

Curcuma longa atau kunyit, merupakan tumbuhan yang termasuk dalam genus dari famili Zingiberaceae. Curcuma longa disebut juga kunyit, merupakan salah satu tanaman herbal/rempah-rempah asli daerah Asia Tenggara, tersebar dari India, Malaysia dan india. Banyak penelitian melaporkan kandungan polifenol kurkumin dalam Curcuma Longa dan efek Farmakologis, termasuk sebagai alternatif antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan antikanker. Antioksidan yang terkandung dalam kunyit memiliki gugus fenol dan diketon. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Curcuma Longa memiliki kemampuan untuk melindungi biomembran dari kerusakan peroksidatif. Curcuma Longa bekerja dengan cara mengambil/menggali radikal bebas aktif yang terlibat dalam proses peroksidasi.

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian Curcuma Longa dapat menurunkan kadar MDA, menurunkan ekspresi TNF-α dan ekspresi IL-6 pada tikus (Rattus novergicus) yang dipapar jelaga. Berdasarkan fakta tersebut, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang mekanisme pemaparan partikel pencemar udara khususnya disfungsi vaskular dan pengaruh Curcuma Longa sebagai antinflamasi dan antioksidan menggunakan metode eksperimen laboratorium dan mencit sebagai hewan percobaan.

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas ekstrak temulawak terhadap tikus (Rattus novergicus) yang dipapar jelaga terhadap kadar Ox-LDL dan eNOS. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu (C-) tanpa paparan jelaga dan tanpa perlakuan Curcuma longa, (C+) dengan paparan jelaga konsentrasi 1064 mg/m3 selama 8 jam, (T1) dengan paparan jelaga pada konsentrasi 1064 mg/m3 selama 8 jam dan diberikan Curcuma longa dosis 1 mg/kg BB, (T2) dengan paparan jelaga konsentrasi 1064 mg/m3 selama 8 jam dan diberikan Curcuma longa dosis 2 mg/kg BB dan (T3) dengan paparan jelaga konsentrasi 1064 mg/m3 selama 8 jam dan diberikan Curcuma longa dengan dosis 3 mg/kg BB. Penelitian dilakukan selama 30 hari. Kelompok T3 memiliki kadar ox-LDL dan kadar eNOS yang lebih rendah daripada kelompok C+, dan perbedaannya signifikan (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak temulawak dengan dosis 3 mg/kg BB pada tikus (Rattus novergicus) yang terpapar jelaga dengan konsentrasi 1064 mg/m3 selama 8 jam menurunkan kadar ox-LDL sekaligus meningkatkan kadar eNOS.

Penulis : Widjiati

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di

Open Veterinary Journal, (2023), Vol. 13(1): 11–19

Link artikel di:

https://www.openveterinaryjournal.com/fulltext/100-1660403353.pdf?1677450961