Universitas Airlangga Official Website

Kupas Rangkaian Proses Rekrutmen, DPKKA Hadirkan Talent Acquisition Senior Specialist

Vicky Diestra Rusli pada Pembukaan Materi (Foto: Tangkapan Layar)
Vicky Diestra Rusli pada Pembukaan Materi (Foto: Tangkapan Layar)

UNAIR NEWS – Direktorat Pengembangan Karir, Inkubasi Kewirausahaan dan Alumni (DPKKA) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar webinar bertajuk From Paper to Pitch: CV, Interview, FGD and Business Case Skills dan berlangsung pada Rabu (2/7/2025). Pada acara ini DPKKA menghadirkan Vicky Diestra Rusli, seorang Talent Acquisition Senior Specialist di Panamas. Materi yang ia sampaikan menekankan tentang proses rekrutmen yang dimulai dengan pendaftaran hingga final interview. 

Vicky menjelaskan proses awal yang akan dilalui adalah proses pendaftaran yang di dalamnya terdapat ratusan hingga ribuan pendaftar. “Pada pendaftaran, pastikan bahwa ketentuan itu sesuai contohnya ketika sudah dipatok minimal IPK maka sistem akan langsung mengirim email penolakan jika IPK tidak memenuhi,” jelasnya. 

Ia juga menerangkan, jika pendaftarnya banyak, maka harus mencari cara untuk lebih terlihat dari peserta lain. “Agar lebih terlihat dari peserta lain bisa dimulai dari CV. Akan tetapi tidak hanya membangun CV, tetapi juga harus diiringi juga membangun skill dan network yang kita miliki,” terangnya. 

Setelah tahap pendaftaran akan ada tahap interview, yang harus mempersiapkan banyak aspek seperti penampilan, first impression, dan juga latihan. “Pikirkan kekuatan terbesarmu dan pencapaian terbesarmu. Jangan lupa untuk mencari tahu tentang pekerjaan dan perusahaan yang kamu lamar,” ucapnya. 

Setelah tahap interview, Vicky mengatakan biasanya ada tahap FGD atau LGD. “Biasanya akan diberikan sebuah kasus dan peserta harus menganalisis kasus tersebut dengan memberikan solusi,” ucapnya. 

Vicky juga menjelaskan bahwa di dalam FGD biasanya terdapat beberapa peserta yang memiliki titik beratnya masing-masing. “Terdapat peserta yang menjadi fasilitator, notulen, hanya debat tanpa solusi, inovator serta time keeper. Semua role tersebut tidak ada yang salah jika bisa menyeimbangkan,” jelasnya. 

Tahap setelahnya adalah business case presentation, yang biasanya berasal dari case yang akan diberikan beberapa waktu sebelumnya. “Tidak pernah ada jawaban salah atau benar pada proposal ini. Yang dilihat adalah skill analisis dan memiliki basis yang kuat saat presentasi,” jelasnya. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pada tahap ini beberapa data akan diberikan dan peserta harus bisa menyambungkan data data tersebut. “Teman-temen harus bisa melihat apa yang menjadi issue, apa yang bisa direkomendasikan untuk ke depannya,” ucapnya. 

Business case presentation ini membutuhkan banyak latihan. Vicky mengatakan bahwa mahasiswa yang sering mengikuti kompetisi serupa akan beruntung. “Kompetisi bisnis case di dalam maupun luar kampus akan menguntungkan bagi para pesertanya karena membuat mereka terbiasa,” jelasnya. 

Penulis: Rizma Elyza

Editor: Yulia Rochmawati