Universitas Airlangga Official Website

Kupas Tuntas Mitos dan Fakta di Balik Penyakit Asma

dr Arief Bakhtiar, Sp P (K) memaparkan materi seputar Asma (Foto: Tangkapan layar kanal Youtube Dokter UNAIR TV)
dr Arief Bakhtiar, Sp P (K) memaparkan materi seputar Asma (Foto: Tangkapan layar kanal Youtube Dokter UNAIR TV)

UNAIR NEWS – Seringkali masyarakat awam mengartikan asma sebagai penyakit sesak saja, padahal definisi penyakit asma lebih luas. Bahasan seputar asma ini diungkap adalam acara edukasi kesehatan Dokter UNAIR TV Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR. Dalam edisi yang mengangkat topik seputar mitos atau fakta pada asma, Dokter UNAIR TV menghadirkan dr Arief Bakhtiar SpP(K), dokter spesialis paru konsultan.

“Variasi penyakit asma ini sangat banyak dan keradangan pada saluran nafas juga ditandai dengan gejala respirasi. Umumnya seperti batuk, sesak dan dada merasa tertekan. Umumnya rasa sakit tersebut beraksi pada malam atau pagi hari,” ungkapnya, Jumat (9/5/2025).

Dokter Arief juga menyampaikan bahwa asma merupakan penyakit bawaan sejak kecil atau dapat muncul saat orang sudah dewasa akibat dari beberapa hal. Salah satunya dari tempat kerja yang berpotensi menyebabkan terjangkit asma. 

“Orang-orang dapat terjangkit asma secara tiba-tiba yaitu berawal dari lokasi pekerjaan dan rutinitasnya. Misalnya mereka sering menghirup debu kapas atau industri. Perlu diingat bahwa asma bukan penyakit yang menular meskipun ditandai dengan batuk. Pemahaman masyarakat yang awam tentang gejala batuk tersebut dianggap akan menular, padahal tidak menular, ya,” ucapnya.

Faktor cuaca dan lingkungan juga sangat memengaruhi selain masalah infeksi dan psikis. Seorang penderita asma, kata Dokter Arif, seringkali mengalami kambuh ketika berhadapan dengan cuaca yang berubah-ubah.

“Makanya kita seringkali mendengar dari para penderita asma, jika kambuh mereka bercerita bisa karena kondisi hawa yang dingin, debu polusi atau debu dalam rumah misal debu kipas angin atau AC. Jadi, faktor lingkungan tentu sangat berpengaruh bagi mereka,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dokter Arief menjelaskan bahwa asma yang menyerang saluran pernapasan membutuhkan jenis pengobatan yang tepat yaitu obat hisap atau semprot. Seolah menjadi mitos, tidak sedikit masyarakat yang percaya bahwa obat hisap atau inhaler dapat menimbulkan ketergantungan. Hal tersebut tidak dibenarkan. Dokter Arif menyebut, obat hisap tidak menyebabkan ketergantungan jika penggunaannya sesuai.

“Pengertian obat inhaler atau hisap menyebabkan ketergantungan itu cara berpikir yang terbalik. Seseorang penderita asma perlu pengobatan jangka lama. Maka sebaiknya menggunakan pengobatan yang aman yaitu dosis yang sesuai dan langsung tepat sasaran,” katanya.

“Memang penderita yang menggunakan inhaler itu perlu jangka lama sesuai kebutuhannya. Apabila asma bisa terkontrol dan jarang kambuh, obatnya bisa dikurangi dan di-stop. Semua digunakan sesuai dengan kondisi penderita masing-masing,” tegasnya.

Penulis: Ersa Awwalul Hidayah

Editor: Yulia Rohmawati