Cedera pada lambung merupakan hal yang sering terjadi akibat berbagai macam factor, seperti factor stress, infeksi, paparan bahan kimia, dan penggunaan obat-obatan. Dalam penelitian sebelumnya, penggunaan atau konsumsi obat anti inflamasi (NSAID) yang berkepanjangan terbukti menimbulkan cedera pada lambung. Ketorolac menjadi salah satu jenis obat anti inflamasi yang sering digunakan dalam proses pengobatan karena memiliki efek anti-inflamasi, anti-piretik dan analgesic yang cukup baik.
Mekanisme pertahanan utama pada lambung terletak pada susunan mukosanya, yang terdiri dari glikosilasi protein yang membentuk lapisan gel pada membran mukosa lambung. Pada pengobatan dan perawatan luka cedera lambung, mengurangi kadar dan menetralisir asam lambung menjadi tunjuan utama selama pengobatan. Metode pengobatan dengan Proton Pump Inhibitor (PPI) seringkali digunakan pada penderita cedera lambung. Sedangkan cedera yang disebabkan akibat stres cenderung menggunakan reseptor antagonis histamin 2 (H2) seperti ranitidine. Namun, kedua jenis obat tersebut membutuhkan waktu yang relatif lama dalam menyembuhkan cedera pada lambung.
Probiotik telah dikembangkan sebagai alternatif dalam pengobatan cedera pada lambung, mengingat bahwa probiotik telah memberikan banyak manfaat pada berbagai macam penyakit. Lactobacillus plantarum merupakan jenis probiotik yang seringkali ditemukan pada makanan fermentasi dan juga pada saluran pencernaan manusia. Pada penelitian sebelumnya pada tahun 2019, Lactobacillus plantarum IS-10506 , salah satu probiotik asli Indonesia terbukti memberikan manfaat pada struktur mukosa usus dengan mempercepat proses regenerasi sel-nya. Begitu pula pada hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 menunjukkan peran probiotik jenis tersebut yang cukup signifikan terhadap sistem sel punca dan integritas lapisan mukosa pada usus.
Pada penelitian ini kami menggunakan 64 ekor tikus Wistar asal Institute Pertanian Yogayakarta, probiotik jenis Lactobacillus plantarum IS-10506 dan ketorolac sebagai obat anti-inflamasi yang dipilih. Penelitian ini telah mendapat izin secara etik dari Animal Care and Use Comitte (ACUC) Fakultas Kedokteran Hewan di Indonesia. Hasil dalam penelitian ini dilihat dari tingkat kerusakan atau cedera pada lapisan epitel lambung. Penelitian ini membuktikan bahwa ketorolac sebagai obat anti steroid anti-inflmaasi dapat menyebabkan cedera pada lapisan epitel lambung. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa penggunaan obat anti-inflamasi anti-steorid (NSAID) secara terus menerus dapat menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan.
Selain itu hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberikan obat ketorolac saja tanpa adanya probiotik memiliki kerusakan pada sel epitel lambung yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok tikus yang juga menerima ketorolac namun mendapatkan probiotik setelahnya serta kelompok yang sebelumnya telah menerima probiotik preventif yang dilanjutkan dengan probiotik pasca pemberian ketorolac (kuratif). Proses penyembuhan cedera lambung pada tikus terlihat setelah kelompok tikus diberikan probiotik. Dengan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa probiotik jenis Lactobacillus plantarum IS-10506 dapat mempercepat proses penyembuhan cedera pada lambung.
Pada berbagai penelitian sebelumnya, probiotik jenis tertentu terbukti dapat mempercepat proses penyembuhan pada cedera lambung. Sebuah penelitian pada tahun 2010 menunjukkan hasil probiotik dapat merangsang produksi sitokin protektif yang dapat meningkatkan regenerasi sel epitel dan menghambat proses apoptosis-nya. Penelitian oleh Yan dan Polk pada tahun 2022 menggunakan probiotik jenis Lactobacillus rhamnosus GG menunjukkan bahwa probiotik dapat mencegah apoptosis sel epitel pada usus. Sedangkan hasil penelitian lain yang dilakukan pada tahun 2000 menunjukkan bahwa bakteri probiotik pada tikus dan manusia pada sel usus besar dapat mengaktivasi proses anti-apoptosis dan menghambat aktivasi protein pro-apoptosis yang disebbakan oleh faktor nekrosis tumor.
Hal ini dijelaskan dalam beberapa penelitian bahwa probiotik secara umum memiliki peran dalam proses penyembuhan sel dalam tubuh. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2003 dan tahun 2005 menyimpulkan bahwa metabolisme probiotik dapat menginduksi penyembuhan luka. Selain itu produk metabolisme dari kultur lactobacilli juga dapat merangsang perbaikan kerusakan jaringan. Sebuah penelitian lain menyebutkan bahwa probiotik dapat membantu proses penyembuhan mukosa ulkus. Probiotik pada yoghurt juga ditemukan dapat melindungi lambung dari kerusakan akibat asam lambung pada tikus dibandingkan dengan susu yang tidak difermentasi dengan meningkatkan produksi PGE2, meningkatkan aliran darah pada mukosa lambung, dan sekresi bikarbonat. Selain terbukti dapat membantu proses penyembuhan luka, probiotik juga diketahui dapat menstimulasi sistem kekebalan tubuh serta dapat mencegah cedera pada lambung.
Dengan adanya hasil tersebut, kami menyimpulkan bahwa ketorolac yang diberikan pada dosis tertentu, dalam penelitian ini sebanyak 30 mg/kg berat badan dapat menginduksi cedera pada lapisan mukosa lambung pada tikus. Pemberian probiotik Lactobacillus plantarum IS-10506 dapat mempercepat proses penyembuhan cedera pada lambung dengan meningkatkan proses perbaikan epitel mukosa lambung dan mengurangi proses inflamasi.
Penulis : Dr. dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
DOI: 10.52711/0974-360X.2023.00055
Pratiwi F., Athiyyah A.F., Darma A., Ranuh R.G., Widjiati, Riawan W., Sumitro K. R., Sudarmo S. M.. (2023). Lactobacillus plantarum IS-10506 Accelerated Healing of Gastric Injury Induced by Ketorolac in Wistar Rats. Research Journal of Pharmacy and Technology,16(1).





