Universitas Airlangga Official Website

Laporan Kasus Infeksi Parasit Acanthocephala pada Ular Pucuk

Fenomena penangkapan satwa liar untuk dijadikan hewan peliharaan semakin marak dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu spesies yang menjadi sorotan adalah Ahaetulla prasina, yang lebih dikenal sebagai ular pucuk. Ular ini sering dimanfaatkan sebagai exotic pet oleh masyarakat karena memiliki tubuh kecil, corak warna yang khas, dan tersebar melimpah di alam. Dalam konteks pemanfaatan sebagai hewan peliharaan eksotik, perlu dikembangkan pola pemeliharaan dan manajemen kesehatan yang baik untuk menunjang hobi memelihara ular ini. Sebagai hewan peliharaan eksotik, ular pucuk ternyata rentan terhadap berbagai penyakit, terutama infeksi parasit. Salah satu ancaman utama adalah Acanthocephaliasis, penyakit parasitik yang disebabkan oleh cacing parasit Acanthocephala. Cacing ini memiliki proboscis yang dilengkapi dengan duri-duri tajam, memberikan kesan unik yang membuatnya dikenal sebagai thorny-headed worm. Meskipun Acanthocephaliasis jarang dilaporkan di Indonesia, laporan kasus terbaru menunjukkan bahwa infeksi ini dapat terjadi pada ular pucuk, membuka wawasan baru terkait risiko penyakit pada spesies reptil arboreal. Kejadian ini menggambarkan bahwa infeksi cacing Acanthocephala bisa mempengaruhi spesies ular pucuk, yang sebelumnya lebih sering tercatat pada hewan akuatik. Namun, sulitnya monitoring ular pucuk di alam liar menyebabkan kasus helminthiasis sulit terkontrol, berpotensi memengaruhi peningkatan angka kejadian penyakit dan mengancam jumlah populasi.

Hasil nekropsi satu ekor ular pucuk (Ahaetulla prasina) di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur dilakukan secara sistematis untuk menentukan penyebab utama kematian di Laboratorium Parasitologi Veteriner, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam, Universitas Airlangga. Diduga infeksi parasit karena gejala klinis seperti anoreksia dan timbulnya nodul pada bagian subkutan. Insisi pada nodul mengungkapkan adanya cacing parasit di dalam jaringan subkutan. Sebanyak 67 parasit dikumpulkan dan diidentifikasi menggunakan metode pewarnaan carmine. Identifikasi parasit dari organ internal dan kulit ular dilakukan dengan metode pewarnaan carmine dan observasi mikroskop. Ular pucuk ditemukan terinfeksi positif oleh parasit acanthocephala. Gejala klinis yang diamati pada Ahaetulla prasina termasuk diare, gelisah, kurus, dan lemah. Acanthocephala ditemukan di bagian usus, kulit, rongga tubuh, dan organ reproduksi dari ular. Jaringan nekrosis lokal dan perdarahan tercatat selama dilakukan nekropsi, sehingga mengkonfirmasi observasi pada saat pemeriksaan awal mengenai keberadaan dan distribusi parasit cacing yang mencolok di dinding tubuh dan organ dalam ular.

Studi ini merupakan salah satu laporan kasus penting infeksi Acanthocephala pada satwa liar ular di Indonesia. Temuan ini menunjukkan peran penting parasit Acanthocephala dalam penularan penyakit pada reptil. Kebiasaan makan reptil yang cenderung memakan mangsa hidup sebagai sumber protein utama membuat mereka rentan terhadap infeksi parasit, terutama di lingkungan liar di mana ular berperan sebagai predator dan berburu mangsa yang telah terpapar berbagai jenis penyakit. Laporan ini juga menyoroti bahwa acanthocephaliasis tidak hanya dikategorikan sebagai penyakit yang terabaikan tetapi juga menjadi penyakit penting dalam aspek kesehatan satwa liar dan bidang kedokteran hewan. Individu yang memelihara ular sebagai hewan peliharaan eksotik seharusnya memahami manajemen kesehatan karena telah terbukti intensitas tinggi terkait dengan kejadian penyakit parasit pada ular. Langkah-langkah pencegahan juga dapat ditingkatkan melalui tindakan edukasi yang dikelola melalui kolaborasi antara dokter hewan yang mempunyai kompetensi di bidang kesehatan hewan, komunitas pecinta reptil, dan para peneliti di bidang satwa liar.

 Kesadaran akan risiko infeksi parasit pada ular dan upaya pencegahan yang lebih baik dapat membantu meminimalkan dampak negatif pada kesehatan reptil, terutama yang dijadikan hewan peliharaan eksotik. Melalui pendidikan dan kerja sama aktif, kita dapat mencapai lingkungan yang lebih sehat bagi satwa liar dan masyarakat yang terlibat dalam pemeliharaan hewan eksotik ini. Laporan ini menjadi langkah awal dalam memahami risiko infeksi cacing parasit Acanthocephalapada ular pucuk di Indonesia. Studi ini tidak hanya mencoba mengisi celah pengetahuan tersebut tetapi juga menyoroti pentingnya pemahaman lebih lanjut terhadap risiko kejadian penyakit parasitik pada ular pucuk yang saat ini seingkali dimanfaatkan sebagai hewan peliharaan eksotik di Indonesia.

Penulis:  Aditya Yudhana, drh., M.Si.

Referensi:

Kartikasari, A. M., Yudhana, A., Praja, R. N., and Pratiwi, A. (2023). First evidence of acanthocephalan parasite infection in an Asian vine snake (Ahaetulla prasina) from Indonesia. In AIP Conference Proceedings (Vol. 2431, No. 1).