Universitas Airlangga Official Website

Latihan Intensitas Sedang memiliki Efek Paling menguntungkan pada Respon Inflamasi Tikus yang Diinduksi Fruktosa

Ilustrasi tikus (Sumber: Puskesmas Kuta Selatan)
Ilustrasi tikus (Sumber: Puskesmas Kuta Selatan)

Karbohidrat merupakan sumber energi terpenting bagi sebagian besar penduduk. Namun, mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah tinggi (setidaknya 60% dari total energi), terutama dari sumber olahan (seperti nasi putih dan roti putih), dikaitkan dengan peningkatan kejadian obesitas dan risiko kematian total. Makarem dkk. (2014) melaporkan bahwa kuantitas dan kualitas karbohidrat yang dikonsumsi berhubungan dengan risiko dan perkembangan beberapa penyakit kronis, antara lain kanker, penyakit kardiovaskular (CVD), dan diabetes melitus tipe 2. Tingginya kadar TNF-α merupakan karakteristik dari banyak kanker ganas, termasuk kanker payudara, dan sering dikaitkan dengan agresivitas sel kanker dan prognosis yang buruk. 

Olahraga adalah strategi yang efektif untuk menjaga lingkungan antiinflamasi. Hal ini dikarenakan olahraga dapat meningkatkan kadar adiponektin sebagai penanda antiinflamasi dan menurunkan sitokin proinflamasi seperti TNF-α, sehingga olahraga dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan tingkat peradangan. Akan tetapi, efek intensitas olahraga dalam menurunkan kadar TNF-α dan meningkatkan adiponektin belum diteliti secara jelas

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek berbagai jenis olahraga terhadap perubahan respons inflamasi pada tikus yang diinduksi fruktosa (Mus musculus). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen sesungguhnya dengan rancangan randomized control group posttest-only menggunakan 28 ekor mencit (Mus musculus) jantan, umur delapan minggu, dengan berat badan 20 ± 5 gram dan dibagi secara acak menjadi empat kelompok yaitu kelompok kontrol (CTR), latihan intensitas rendah (LIE), latihan intensitas sedang (MIE), dan latihan intensitas tinggi (HIE). Mencit diinduksi secara oral dengan larutan fruktosa 20% dengan dosis 1,86 gram/kg berat badan mulai hari ke-1 sampai hari ke-60. Latihan renang dilakukan dengan frekuensi 3x/minggu selama 8 minggu. Pengambilan sampel darah dilakukan 24 jam setelah latihan terakhir, sedangkan kadar adiponektin dan TNF-α diukur dengan metode ELISA. Teknik analisis data menggunakan one-way ANOVA dan uji post-hoc Tukey’s HSD. 

Hasil analisis kadar TNF-α pada CTR, LIE, MIE, dan HIE (103,43 ± 42,21 vs 93,82 ± 60,87 vs 34,52 ± 15,35 vs 68,14 ± 26,14 ng/mL dan p = 0,004). Adiponektin pada CTR, LIE, MIE, dan HIE (27,39 ± 7,48 vs 66,74 ± 7,81 vs 235,13 ± 47,94 vs 147,92 ± 19,46 pg/mL dan p = 0,000). 

Data menunjukkan bahwa intervensi latihan dengan tiga jenis intensitas yang berbeda selama 8 minggu meningkatkan kadar adiponektin, sedangkan kadar TNF-α hanya ditemukan menurun pada kelompok latihan intensitas sedang.Implikasi yang bisa dikuatkan adalah perlu penelitian lanjutan pada manusia untuk memvalidasi temuan pada penelitian ini. 

Ditulis oleh: Nabilah Izzatunnisa, Faiq Amirul Hakim dan Purwo Sri Rejeki

Artikel lengkap bisa dilihat di https://recyt.fecyt.es/index.php/retos/article/view/107772Â