Sejak laporan dilaporkan di Cina pada akhir 2019, Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menyebar ke seluruh negara sehingga disematkan sebagai suatu pandemi. Selain sektor kesehatan, pandemi COVID-19 turut mengganggu sektor ekonomi, sosial, politik dan kultural.
Vaksinasi merupakan langkah yang signifikan untuk mengontrol dan memitigasi kerusakan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. Hal tersebut mendorong WHO dan pemerintah berbagai negara mengeluarkan berbagai regulasi untuk meningkatkan cakupan vaksinasi.
Seiring peningkatan jumlah vaksinasi, berbagai efek samping efek samping mulai dari efek ringan seperti demam, pegel linu, pusing, nyeri otot dan sendi sampai efek samping yang tergolong berat seperti radang jantung (miokarditis) dilaporkan di berbagai penjuru dunia.
Peningkatan laporan radang jantung setelah vaksinasi COVID-19 memunculkan isu di masyarakat tentang bahaya nya vaksinasi COVID-19. Isu tersebut diperparah oleh golongan antivaksin sehingga berpotensi menghalangi vaksinasi untuk meminimalisir kerusakan pandemi COVID-19.
Nyatanya adalah laporan radang jantung setelah vaksinasi COVID-19 belum banyak diketahui detailnya, menimbulkan pertanyaan bagaimanakah karakteristik radang jantung setelah vaksinasi COVID-19? Apakah secara umum lebih berbahaya dibandingkan komplikasi karena infeksi COVID-19?
Kami melakukan suatu telaah sistematis pada seluruh laporan kasus radang jantung yang di publikasi di lima database besar (PubMed, EBSCO via CINAHL, ScienceDirect, ProQuest, dan Scopus) ditambah melalui pencarian manual untuk meliputkan grey literature. Kami mengikutsertakan 396 kasus dari 164 publikasi yang memenuhi kriteria miokarditis dengan data yang adekuat.
Sekitar 90% kasus radang jantung terjadi pada laki-laki, khususnya usia muda dengan median umur 22 tahun. Sekitar 95% kasus terjadi setelah vaksinasi COVID-19 tipe vaksin mRNA, dimana tiga perempatnya terjadi setelah vaksinasi dosis kedua. Adapun kami mendapati kasus kasus setelah vaksinasi dosis pertama berkaitan dengan individu yang sebelumnya pernah terinfeksi COVID-19 dengan nilai odds 5,7x. Lebih dari setengah pasien tidak memiliki komorbid sebelumnya, sementara sisanya memiliki komorbid yang tidak spesifik.
Gejala khas radang jantung pasca-vaksinasi COVID-19 yang paling sering ditemui adalah nyeri dada (80%) dan sesak napas (14,7%), yang umumnya terjadi pada hari ke-3 setelah vaksinasi. Sebelum muncul nyeri dada, dapat muncul gejala tidak spesifik seperti demam, tidak enak badan, nyeri otot dan sendi, nyeri kepala, dan menggigil. Namun perlu ditekankan adanya gejala tersebut TIDAK serta merta mengindikasikan akan terjadi radang jantung.
Hasil pemeriksaan elektrokardiografi berupa abnormalitas segmen ST dan gelombang T, depresi segmen PR, gangguan konduksi atau aritmia serta peningkatan marker kadiak (troponin) merupakan pemeriksana awal mudah, murah dan direkomendasikan untuk mendeteksi mayoritas kasus.
Konfirmasi diagnosis dilakukan dengan pencitraan magnetic resonance jantung dengan gambaran fibrosis atau edema miokardium. Sementara, biopsi endokardium sebagai baku emas hanya dipertimbangkan untuk kasus inkonklusif atau berat. Hasil biopsi didominasi oleh radang jantung tipe non-infektif, yang secara umum berkaitan dengan radang jantung dengan prognosis yang relatif baik.
Radang jantung paska-vaksinasi COVID-19 ‘relatif’ ringan dengan rerata rawat inap 5 hari, kebutuhan ICU <12% dan mortalitas <2%. Meskipun tidak dibandingkan langsung dalam telaah kami, angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan radang jantung karena infeksi COVID-19 yang memiliki kebutuhan ICU dan kematian sampai 30% dan 80%, berturt-turut. Selain itu, insiden terjadinya miokarditis pasca-vaksinasi COVID-19 juga lebih rendah dibandingkan karena infeksi COVID-19. Mayoritas pasien pada dasarnya dapat sembuh dengan sendirinya dengan terapi suportif dan pengobatan seperti anti-inflamasi dan kolkisin yang umum tersedia di berbagai rumah sakit.
Penulis artikel: Pandit Bagus Tri Saputra
Referensi: Pandit Bagus Tri Saputra, Roy Bagus Kurniawan, Desy Trilistyoati, Citrawati Dyah Kencono Wungu, Makhyan Jibril Al-Farabi, Hendri Susilo, Mochamad Yusuf Alsagaff, Henry Sutanto, and Yudi Her Oktaviono. Myocarditis and coronavirus disease 2019 vaccination: A systematic review and meta-summary of cases. Biomol Biomed. 2023 Feb 20. doi: 10.17305/bb.2022.8779. Link: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36803547/





