Universitas Airlangga Official Website

Literasi Kesehatan Mental Remaja di Pedesaan Mojokerto: Mengapa Penting dan Apa yang Ditemukan Penelitian Terbaru

Status Fungsional Remaja dengan Gangguan Mental
Sumber: Halodoc

Kesehatan mental remaja semakin menjadi perhatian global, terutama karena masa remaja merupakan fase kritis dalam perkembangan emosional dan sosial. Pada periode usia 10–19 tahun, remaja mengalami perubahan fisik akibat pubertas, dinamika hubungan sosial, serta tekanan akademik yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan mental. Studi terbaru yang dilakukan di wilayah pedesaan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, memberikan gambaran penting mengenai kondisi kesehatan mental remaja serta tingkat literasi kesehatan mental mereka.

Penelitian ini melibatkan 81 siswa berusia 15-18 tahun dari sebuah sekolah menengah di Mojokerto. Dengan menggunakan dua instrumen utama, Depression Anxiety Stress Scale-Youth (DASS-Y) untuk mengukur depresi, kecemasan, dan stres, serta Adolescent Mental Health Literacy Questionnaire (AMHLQ) untuk menilai literasi kesehatan mental, para peneliti mengevaluasi bagaimana remaja memahami kesehatan mental sekaligus kondisi emosional mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 53% remaja mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental, baik depresi, kecemasan, maupun stres. Kecemasan menjadi keluhan paling umum, dialami oleh 45,7% remaja. Depresi ditemukan pada 28,3%, sementara stres dialami oleh 18,5% responden. Meskipun sebagian besar berada pada kategori ringan hingga sedang, temuan ini cukup mengkhawatirkan karena menggambarkan beban psikologis yang signifikan pada remaja di pedesaan.

Analisis lebih lanjut menemukan bahwa remaja perempuan lebih rentan mengalami kecemasan dan stres dibandingkan laki-laki. Pola ini serupa dengan banyak studi internasional yang menunjukkan bahwa perubahan hormonal, beban sosial emosional, dan dinamika relasi dapat membuat perempuan lebih sensitif terhadap tekanan psikologis. Selain itu, remaja yang hidup bersama kedua orang tua cenderung memiliki kondisi mental lebih baik dibanding mereka yang tinggal dengan salah satu atau tanpa orang tua.

Selain memotret status kesehatan mental, penelitian ini juga menilai literasi kesehatan mental, yaitu pemahaman remaja tentang gejala, penyebab, stigma, cara mencari pertolongan, dan strategi swaperawatan. Secara umum, literasi para remaja berada pada kategori sedang hingga baik. Hanya sekitar 8,6% yang memiliki skor rendah.

Pada aspek stereotip dan stigma, sebagian besar remaja menunjukkan sikap positif, menandakan semakin terbukanya pemahaman bahwa gangguan mental bukanlah aib. Pada aspek pengetahuan, nilai remaja cukup baik, menunjukkan mereka mulai mengenali gejala serta jenis gangguan mental yang umum terjadi.

Namun, kelemahan muncul pada domain perilaku mencari pertolongan (help-seeking) dan strategi swaperawatan. Hal ini penting karena literasi tidak hanya tentang mengetahui, tetapi juga tindakan nyata ketika menghadapi masalah. Rendahnya pencarian pertolongan profesional kerap ditemukan di wilayah pedesaan, dipengaruhi oleh faktor budaya, akses layanan, dan minimnya edukasi.

Hasil analisis jalur (pathway analysis) menunjukkan bahwa faktor sosiodemografis seperti jenis kelamin dan status ekonomi hanya memberi pengaruh kecil pada literasi dan status kesehatan mental. Remaja laki-laki cenderung memiliki literasi lebih rendah, sedangkan remaja dari keluarga berstatus ekonomi lebih tinggi memiliki literasi lebih baik. Meski begitu, hubungan antara literasi dan kondisi mental tidak ditemukan signifikan pada studi ini.

Hal ini menandakan bahwa variabel lain, seperti pengalaman pribadi, paparan media sosial, dukungan keluarga, dan lingkungan sosial, mungkin memiliki peran lebih besar dalam membentuk kesehatan mental remaja. Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya memperkuat edukasi kesehatan mental di sekolah, terutama di wilayah pedesaan. Peningkatan literasi kesehatan mental dapat membantu remaja mengenali gejala sejak dini, mengurangi stigma, dan mendorong mereka mencari bantuan profesional. Selain itu, sekolah perlu meningkatkan kapasitas guru dan konselor dalam mengenali tanda-tanda distress pada siswa.

Kebijakan publik juga harus mendukung upaya peningkatan layanan kesehatan mental di daerah dengan menambah tenaga profesional, memperkuat fasilitas, serta memperluas kampanye kesadaran mental health secara berkelanjutan.

Studi ini memberikan gambaran berharga mengenai kondisi kesehatan mental dan literasi remaja Mojokerto. Meskipun tingkat literasi cukup baik, lebih dari separuh remaja mengalami masalah mental. Upaya peningkatan edukasi, penjangkauan layanan kesehatan mental, serta penguatan dukungan sosial sangat diperlukan agar remaja dapat tumbuh dengan sehat secara emosional dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Sumber dan konten terkait

Penulis: Annette d’Arqom, dr., M.Sc., Ph.D

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/JPS/article/view/64237/33600

Ardana. A. A, D’Arqom. A, Puteri. F. A, et. al, “Mental Health Status and Literacy of Adolescent in Rural Area of Mojokerto, East Java, Indonesia”. Jurnal Psikiatri Surabaya, vol. 14, no. 2, pp.166-176, 2025. doi: 10.20473/jps.v14i2.64237