Universitas Airlangga Official Website

Luaran PROLANIS untuk Pasien dengan Diabetes pada saat Pandemi COVID-19

Diabetes merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama di dunia. Angka kejadian diabetes dan juga kematian yang disebabkan oleh karena diabetes ini meningkat pesat dalam 3 dekade terakhir. Dibandingkan dengan negara maju, diabetes lebih berdampak terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data dari International Diabetes Federation, Indonesia merupakan negara dengan kasus diabetes terbanyak di dunia setelah China, India, Pakistan, dan USA. Dalam rentang waktu 5 tahun (2013-2018), jumlah penderita diabetes di Indonesia telah meningkat sebanyak 58%.

Oleh karena pesatnya peningkatan jumlah pasien dengan diabetes di Indonesia, pemerintah Indonesia membuat program yang dinamakan PROLANIS (program pengendalian penyakit kronis) untuk mengontrol penderita diabetes agar tidak mengalami komplikasi hingga menyebabkan kematian. Selain untuk mencegah komplikasi, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien-pasien tersebut.

Program ini dimulai sejak tahun 2010, namun hanya khusus untuk peserta ASKES saja. Setelah adanya BPJS Kesehatan di tahun 2015, seluruh pasien yang menjadi peserta BPJS Kesehatan dapat mengikuti kegiatan ini. Adapun kegiatan PROLANIS antara lain konsultasi medis, edukasi kelompok dan kunjungan rumah. Selain itu, peserta PROLANIS juga menjalani pemeriksaan laboratorium sebagai evaluasi kondisi kesehatannya setiap 6 bulan sekali. Pelaksanaan program ini dilakukan di seluruh fasilitas kesehatan primer di Indonesia.

Pada saat pandemi COVID-19, kegiatan PROLANIS dihentikan untuk sementara agar mengurangi kontak antar pasien, karena pasien dengan diabetes memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi dan kematian karena COVID-19. Alasan lain juga agar tenaga dan fasilitas kesehatan lebih bisa difokuskan untuk menanggulangi COVID-19.

Selain tidak adanya kegiatan PROLANIS pada masa pandemi, penderita diabetes juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan pengobatan. Oleh karena itu, sangat besar kemungkinannya bahwa penderita diabetes yang tergabung dalam program PROLANIS mengalami perburukan kondisi. Namun, belum ada penelitian yang dilakukan unutk melihat seberapa besar dampak dari pandemi COVID-19 terhadap kondisi pasien diabetes.

Karena belum adanya penelitian yang dilakukan terkait hal tersebut, kami melakukan penelitian pendahuluan di 3 grup PROLANIS di Jawa Timur. Kami memilih untuk melakukan penelitian di Jawa Timur karena Jawa Timur merupakan provinsi dengan prevalensi penderita diabetes terbanyak di Indonesia. 3 grup PROLANIS yang kami teliti terletak di Kabupaten Malang, kabupaten Bojonegoro, dan kabupaten Tuban.

Kami mengevaluasi hasil pemeriksaan fisik (berat badan dan tekanan darah) dan laboratorium (kadar gula darah, kadar lemak dalam darah, dan fungsi ginjal) sebelum terjadi COVID-19, saat awal terjadi COVID-19 dimana layanan PROLANIS dihentikan, dan setelah layanan PROLANIS mulai kembali berlangsung. Dari 3 grup PROLANIS tersebut, kami mendapatkan data dari 51 penderita diabetes yang memenuhi kriteria penelitian kami.

Dari hasil penelitian pendahuluan yang kami lakukan, kami menemukan bahwa berat badan, tekanan darah, kadar kolesterol, dan fungsi ginjal mengalami perburukan kondisi pada awal pandemi saat layanan PROLANIS dihentikan. Setelah layanan PROLANIS mulai kembali berlangsung, semua parameter yang mengalami perburukan tersebut kembali seperti saat sebelum pandemi.

Berdasarkan hasl penelitian pendahuluan yang kami lakukan, kami mengambil kesimpulan bahwa kondisi pasien diabetes yang tergabung dalam PROLANIS mengalami perburukan kondisi di awal pandemi COVID-19 saat kegiatan PROLANIS dihentikan. Hal ini mendukung hipotesa awal kami bahwa penderita diabetes yang tergabung dalam program PROLANIS mengalami perburukan kondisi pada saat pandemi. Namun karena penelitian ini merupakan penelitian awal dimana kami hanya mengambil sampel dari 3 grup PROLANIS, sedangkan total grup PROLANIS di provinsi Jawa Timur lebih dari 1000, penelitian dengan skala yang besar masih perlu dilakukan untuk mengetahui dengan lebih jelas seberapa besar dampak COVID-19 terhadap keberlangsungan PROLANIS. Setelah itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi pasien dengan diabetes tersebut, sehingga komplikasi karena penyakit diabetes dapat dihindari.

Penulis: dr. Sovia Salamah dan dr. Firas Farisi Alkaff

Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada publikasi ilmiah kami di: https://doi.org/10.29333/ejgm/13661

Salamah S, Ramadhani R, Arfiana MR, Syamsuri I, Nugraha D, Illavi F, Khafiyya AN, Dewayani A, Rokhman MR, & Alkaff FF (2023). Impact of the COVID-19 pandemic on the outcomes of Indonesian chronic disease management program. Electronic Journal of General Medicine, 20(6), em541. https://doi.org/10.29333/ejgm/13661