Universitas Airlangga Official Website

Magang di Negeri Sakura, Mahasiswa UNAIR Bagikan Kisah Adaptasi dengan Ritme Kerja Jepang

Edward Natanael Salmun Daud, mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR (Foto: Istimewa)
Edward Natanael Salmun Daud, mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mendapat kesempatan mengikuti program magang ke Jepang. Kali ini adalah Edward Natanael Salmun Daud atau yang akrab disapa Edi. Melalui PT Japan Indonesia Program Akademik (JIPA), ia menjalani magang sejak Juni lalu hingga Mei 2026 mendatang di Hotel Royal Marine Palace, Okinawa, Jepang.

Edi menuturkan bahwa motivasi utamanya mengikuti program ini adalah keinginan untuk merasakan langsung bagaimana bekerja sekaligus hidup di Jepang. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal berharga, terutama dalam menyesuaikan diri dengan ritme kerja masyarakat Jepang. 

“Hari pertama aku langsung turun kerja tanpa pelatihan, jadi awalnya berat banget. Senior di sini kerjanya cepat dan teliti, lama-lama aku belajar menyesuaikan diri,” ungkapnya.

Pengalaman dan Tantangan

Selama magang, Edi ditempatkan di bagian seisou atau housekeeping. Ia mengaku harus membiasakan diri dengan ritme kerja yang serba cepat. Kendati demikian, Edi bersyukur sebab lingkungan kerjanya minim senioritas dan kehadiran rekan sesama mahasiswa Indonesia juga membantunya terhindar dari rasa sepi atau homesick.

Tantangan terbesar lain yang ia hadapi adalah bahasa. Edi awalnya kurang percaya diri mendaftar karena belum memiliki sertifikat Japanese Language Proficiency Test (JLPT). Namun, bermodalkan nekat, Edi tetap mencoba dan berhasil lolos seleksi. Kini, untuk mengatasi keterbatasan kosakata, ia membiasakan diri membaca teks Jepang, menonton drama, atau mendengarkan musik Jepang. 

“Sekarang aku juga lagi sering baca berita atau artikel Jepang. Jadi banyak kosakata dan ekspresi baru bisa dapet dari situ. Lumayan membantu tentang istilah kerja yang asing,” jelasnya.

Selain kendala bahasa, Edi juga belajar tentang pentingnya mengatur keuangan dan menjaga sikap profesional selama tinggal di negara orang. Baginya, bekerja di Jepang bukan hanya soal keterampilan semata, tetapi juga ketahanan mental. “Magang itu bukan soal seberapa jago kamu, tapi seberapa tahan banting. Jadi mental harus kuat,” tegasnya.

Dukungan Keluarga

Di tengah kesibukan, Edi mengaku selalu mencari cara agar tetap semangat. Ia rutin bercerita dengan teman-temannya sesama mahasiswa Indonesia yang juga magang di Jepang, serta menelepon orang tua sebagai penyemangat. “Kadang orang tua bilang, ‘bersyukur aja, Ed. Bisa sampai situ aja udah rezeki.’ Jadi semangatku balik lagi. Kalau masih suntuk, biasanya aku keluar jalan-jalan atau sepedaan,” tambahnya.

Dari pengalaman ini, Edi merasa keterampilan organisasi yang ia peroleh semasa kuliah di UNAIR sangat membantunya, terutama dalam komunikasi dan kerja sama tim. Ia menilai bahwa pengalaman non akademik mahasiswa dapat menjadi modal ketika harus menghadapi dunia kerja profesional.

Edi berharap mahasiswa UNAIR lain tidak ragu mencoba kesempatan magang ke Jepang. Menurutnya, kunci utama ada pada kemampuan bahasa, sikap profesional, dan keberanian untuk mencoba. “Kalau serius mau intern atau student exchange, selain akademik harus jaga attitude. Karena nilai bagus tanpa attitude nggak ada artinya,” pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Ragil Kukuh Imanto