Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa BBK 7 UNAIR Tingkatkan Kreativitas dan Kemampuan Siswa Melalui Science Integrated Outdoor Learning di SD Negeri Sidobogem

Mahasiswa BBK 7 UNAIR Tingkatkan Kreativitas dan Kemampuan Siswa Melalui Science Integrated Outdoor Learning di SD Negeri Sidobogem
Mahasiswa BBK 7 UNAIR Tingkatkan Kreativitas dan Kemampuan Siswa Melalui Science Integrated Outdoor Learning di SD Negeri Sidobogem

UNAIR NEWS-Desa Sidobogem, Kecamatan Sugio, Lamongan, hanya memiliki satu Sekolah Dasar Negeri yang menjadi pusat pendidikan formal bagi anak-anak desa. Sekolah ini berperan penting dalam membentuk fondasi akademik dan karakter siswa. Namun, proses pembelajaran masih didominasi metode konvensional satu arah yang menyebabkan keterlibatan siswa rendah, mudah bosan, serta belum optimal dalam meningkatkan kemampuan literasi, numerasi, dan pengenalan Bahasa Inggris. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya inovasi pembelajaran yang lebih interaktif, kontekstual, dan sesuai dengan karakter siswa di tingkat pendidikan dasar.

Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Airlangga melalui program Belajar Bersama Komunitas 7 (BBK 7) melaksanakan kegiatan Science Integrated Outdoor Learning bagi 29 siswa SD Negeri Sidobogem kelas 1 hingga 6. Program ini bertujuan meningkatkan keterlibatan siswa, memperkuat kemampuan literasi dan numerasi, serta mengenalkan Bahasa Inggris dasar secara kontekstual melalui pembelajaran berbasis pengalaman. Kegiatan dilaksanakan dalam tujuh pertemuan interaktif dan ditutup dengan satu pertemuan perpisahan.

Dalam setiap pertemuan, pembelajaran dilaksanakan melalui metode yang variatif dan interaktif, seperti observasi lingkungan sekolah, pembuatan mind mapping, eksperimen sederhana, serta permainan edukatif. Siswa kelas 1–3 difokuskan pada pengenalan benda hidup dan tidak hidup, pengamatan sifat benda, perhitungan objek nyata, serta kosakata Bahasa Inggris dasar. Sementara itu, siswa kelas 4–6 mengikuti kegiatan yang lebih kompleks, meliputi pengamatan komponen biotik dan abiotik, percakapan sederhana dalam Bahasa Inggris, latihan matematika pecahan, serta pembuatan kincir angin berbasis kerja kelompok.

Selain kegiatan akademik, siswa mengikuti pemutaran film pendek edukatif yang disertai lembar kerja untuk menguji pemahaman alur cerita dan pesan moral. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui ujian tertulis yang mencakup literasi, numerasi, sains, dan kosakata Bahasa Inggris. Program ditutup dengan kegiatan perpisahan berupa pembuatan poster anti-bullying, pemberian reward kepada siswa, serta penyerahan plakat kepada pihak sekolah.

Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap kemampuan dan motivasi belajar siswa, dengan sebagian besar siswa aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Lebih dari separuh siswa mampu melakukan observasi dan menjelaskan eksperimen sederhana, serta mengenal kosakata Bahasa Inggris kontekstual. Selain itu, kegiatan kelompok dan evaluasi tertulis menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, kerja sama, dan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.

Dampak ini muncul karena program mengintegrasikan lingkungan nyata dan aktivitas interaktif dalam proses belajar. Siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengalami sendiri konsep yang diajarkan melalui praktik langsung, permainan, dan eksperimen. Cara belajar ini meningkatkan keterlibatan, menstimulasi rasa ingin tahu, dan memotivasi siswa untuk aktif bertanya serta mencoba hal-hal baru. Dengan demikian, program ini menjadi contoh nyata penerapan SDGs 4 – Quality Education, yang menekankan pendidikan dasar berkualitas, inklusif, relevan, dan berbasis pengalaman, sekaligus meningkatkan kemampuan literasi, numerasi, kreativitas, dan kepercayaan diri siswa.

Kata Kunci SDGs 4: Pendidikan Berkualitas, Pembelajaran Berbasis Pengalaman, Literasi, Numerasi, Bahasa Inggris Sederhana untuk Anak, Kreativitas, Keterlibatan Siswa

Penulis: Naja Dwi Kamilah