UNAIR NEWS – Selama sembilan hari berada di Prefektur Shizuoka, Jepang, mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 International Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan berbagai kegiatan sebagai bagian dari program kerja keberlanjutan. Selain mengkaji sistem pencegahan dan penanganan bencana di Jepang, mahasiswa BBK 7 International Shizuoka juga melaksanakan dua kegiatan volunteer activity yang berlangsung pada Selasa, 3 Februari 2026 dan Rabu, 4 Februari 2026.
Kedua kegiatan volunteer tersebut memiliki karakter dan tujuan yang berbeda. Kegiatan pertama dilaksanakan pada Selasa, 3 Februari 2026 berupa translation support di Sunpu Castle, Shizuoka, yang bertujuan untuk memperkuat pertukaran budaya di mana mahasiswa lebih berfokus pada pertukaran budaya antara Indonesia dan Jepang, meliputi aspek bahasa, sejarah, dan nilai-nilai budaya. Selanjutnya, pada Rabu, 4 Februari 2026, mahasiswa mengikuti kegiatan pengumpulan daun pinus (pine needles) di Miho Pine Forest, Shimizu, Shizuoka, sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian lingkungan dengan tujuan membantu pertumbuhan pohon pinus secara optimal. Jarum pinus yang telah gugur dikumpulkan dan diolah kembali sebagai nutrisi alami untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma, sehingga ekosistem hutan tetap terjaga.
Kegiatan volunteer yang dilaksanakan mahasiswa BBK 7 Internasional di Sunpu Castle dan Miho Pine Forest memberikan pengalaman yang kontras namun saling melengkapi. Di Sunpu Castle, kegiatan berlangsung dengan suasana yang hangat dan penuh antusiasme. Mahasiswa berkomunikasi langsung dengan guide lansia setempat yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa inggris dengan semangat mereka yang tidak pudar sembari berkeliling castle dan saling bertukar informasi. Kegiatan diakhiri dengan pemberian cenderamata oleh kedua belah pihak sebagai tanda persahabatan. Sementara itu, di Miho Pine Forest menghadirkan suasana yang kompetitif dan reflektif, mahasiswa bekerja sama mengumpulkan daun pinus yang berjatuhan sebanyak-banyaknya serta menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. Sementara itu, suasana di Miho Pine Forest terasa lebih reflektif dan menantang. Mahasiswa bekerja sama mengumpulkan daun pinus sebanyak mungkin, yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran individu dalam menjaga alam.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut mendukung pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs) secara bersamaan, yaitu SDGs 17 (Partnerships for the Goals), SDGs 4 (Quality Education), SDGs 15 (Life on Land), dan SDGs 13 (Climate Action), dengan kontribusi yang berbeda pada setiap kegiatan. Dalam implementasi SDGs 17 Partnerships for the Goals, kegiatan ini diharapkan mampu membangun kolaborasi yang erat antara mahasiswa Universitas Airlangga dengan komunitas Sunpu Waves, yang sebagian besar beranggotakan lansia yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Kolaborasi ini tidak hanya membuka ruang interaksi lintas generasi, tetapi juga mendorong pertukaran informasi, nilai, dan pengalaman yang lebih mendalam antara Indonesia dan Jepang. Sinergi tersebut selanjutnya beririsan dengan SDGs 4 Quality Education, melalui upaya memperkenalkan Indonesia, khususnya Universitas Airlangga, ke kancah internasional, sekaligus memperluas pemahaman mengenai sejarah Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan Jepang. Di sisi lain, kegiatan pengambilan pine needles secara langsung mendukung pencapaian SDGs 15 Life on Land dan SDGs 13 Climate Action. Kegiatan ini berkontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan pinus serta mendukung upaya mitigasi dan pencegahan bencana alam, mengingat Prefektur Shizuoka dikenal sebagai salah satu wilayah dengan sistem manajemen dan kesiapsiagaan bencana terbaik di Jepang. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pembelajaran praktis mengenai keterkaitan antara pelestarian lingkungan dan pengurangan risiko bencana.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan dampak positif selama pelaksanaan program di Jepang, tetapi juga dapat dibawa kembali dan diterapkan di Indonesia sebagai bentuk penerapan nilai-nilai SDGs yang berkelanjutan. Praktik kolaborasi lintas budaya, pendidikan berbasis komunitas, serta kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana diharapkan dapat diadaptasi sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia. Selain itu, kegiatan ini turut meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal mahasiswa BBK 7 International serta memperluas wawasan mengenai sejarah dan budaya Jepang, khususnya Sunpu Castle, sehingga kedepannya diharapkan tercipta pemahaman yang lebih mendalam dan berkelanjutan antara kedua budaya.
Penulis: Nayla Camelia May Amandadeny/Mahasiswa BBK Internasional Shizouka Jepang





