UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam program Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 melaksanakan program UMKM Naik Akses Melalui Peta dan Informasi Lokasi (NAMPIL) di Desa Bajulan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun sebagai upaya meningkatkan visibilitas digital usaha mikro. Program ini menyasar pelaku UMKM rumahan yang selama ini mengalami keterbatasan akses pasar akibat minimnya kehadiran usaha di ruang digital. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (15/1/2026).
Dalam wawancara bersama UNAIR News, Putri Nabila Ramadhani Daryanofa sebagai ketua kelompok menjelaskan program UMKM NAMPIL lahir dari temuan lapangan terkait masih rendahnya keterlihatan usaha mikro desa di ruang digital.
“Desa Bajulan terdapat banyak UMKM rumahan, seperti bawang goreng, kerupuk tempe, hingga usaha hidroponik sayur-sayuran. Namun, selama ini penjualan masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut atau ditawarkan melalui WhatsApp. Sehingga usaha-usaha tersebut jarang diketahui oleh masyarakat di luar desa. Padahal, Desa Bajulan juga berada di jalur pengangkutan berbagai komoditas menuju Kota Surabaya,” ujar Putri.
Digitalisasi Lokasi Usaha Dorong Keterbukaan Akses dan Kesadaran Digital
Melalui pemetaan dan pendampingan langsung ke lokasi usaha, mahasiswa membantu pelaku UMKM dalam pembuatan dan optimalisasi Google Business Profile. Pendampingan tersebut meliputi penentuan titik lokasi usaha yang akurat, pengisian informasi usaha, hingga pengambilan dan pengunggahan foto produk serta tempat usaha. Kegiatan memunculkan perubahan cara pandang pelaku UMKM terhadap usaha rumahan yang selama ini berjalan secara sederhana.
Bu Darsih, pelaku UMKM Kerupuk Pati dan Keripik Tempe Annisa, mengungkapkan pengalamannya setelah usahanya telah terdafta di Google Maps. “Saya baru menyadari bahwa usaha kecil di rumah ternyata bisa muncul di Google Maps seperti toko-toko besar di kota. Saya merasa sangat senang dan bahagia dengan adanya program UMKM NAMPIL dari tim BBK. Usaha saya sekarang bisa terlihat dan diketahui lebih banyak orang,” ungkap Bu Darsih.
Lebih lanjut, Christof selaku penanggungjawab program kerja UMKM NAMPIL menilai bahwa masyarakat Desa Bajulan menunjukkan kesiapan yang cukup baik dalam beradaptasi dengan digitalisasi UMKM. Namun, meskipun sebagian besar pelaku usaha masih berada pada tahap awal pemanfaatan teknologi. Kesiapan tersebut tercermin dari sikap terbuka dan antusiasme pelaku UMKM dalam mengikuti proses pendampingan.
“Rasa bangga, meningkatnya kepercayaan diri, serta keinginan pelaku UMKM untuk mempertahankan profil usaha digital menjadi indikator kesiapan psikologis dan motivasional masyarakat. Meski demikian, dari sisi teknis masih perlu pendampingan lanjutan. Agar, pelaku UMKM mampu mengelola dan memperbarui akun secara mandiri,” tutur Christof.
Penulis: Kania Khansa Nadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





