Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa BIPA UNAIR Berbagi Cerita tentang Indonesia

Salah satu narasumber, Naw Eh Wai Htoo, saat menjelaskan materi dalam Webinar BIPA KNB dan Darmasiswa UNAIR 2025 pada Kamis (26/6/2025) melalui Zoom Meeting. (Foto: Dok. Pribadi)
Salah satu narasumber, Naw Eh Wai Htoo, saat menjelaskan materi dalam Webinar BIPA KNB dan Darmasiswa UNAIR 2025 pada Kamis (26/6/2025) melalui Zoom Meeting. (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Pusat Bahasa dan Multibudaya (PUSBA MULYA) Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menggelar Webinar Mahasiswa Program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) KNB (Kemitraan Negara Berkembang) dan Darmasiswa UNAIR 2025. Dengan mengusung tema Menjadi Bagian dari Indonesia, acara yang mengangkat perjalanan mereka selama belajar dan hidup di Indonesia tersebut berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (26/6/2025).

Hadir memberikan sambutan, Ema Faiza SS MHum, selaku perwakilan dari PUSBA MULYA UNAIR. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa acara tersebut bertujuan untuk membuka ruang diskusi antarbudaya, sekaligus menunjukkan bagaimana mahasiswa asing bukan sekadar belajar bahasa, tetapi juga membaur dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

“Webinar ini merupakan bagian dari upaya kami untuk tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga membangun pemahaman lintas budaya. Bahasa Indonesia menjadi tempat bertemu dan budaya menjadi ruang berbagi rasa,” ujarnya.

Menyatukan Cita Rasa

Nguyễn Ngọc Thiên Hương, mahasiswa asal Vietnam, mengawali diskusi dengan mengangkat cerita tentang makanan Indonesia. Ia mengaku, awalnya cukup terkejut dengan rasa makanan Indonesia yang kuat, pedas, dan sering kali disajikan dalam porsi yang besar, misalnya nasi Padang.

Menurutnya, makanan dapat menjadi wadah untuk memahami budaya. Ia bahkan membawa bumbu-bumbu khas Indonesia saat pulang ke Vietnam karena rindu dengan rasa yang ia temukan selama tinggal di Surabaya. “Saya rindu makan nasi Padang. Sejak kembali ke Vietnam, saya memasak sendiri pakai bumbu dari Indonesia. Rasanya seperti kembali pulang ke Indonesia,” tambahnya

Gegar Budaya

Sementara itu, Naw Eh Wai Htoo, mahasiswa asal Myanmar, membagikan cerita mengenai culture shock atau gegar budaya yang ia alami selama berada di Indonesia. Mulai dari cara orang Indonesia menyapa hingga gaya hidup sosial yang berbeda jauh dari kebiasaannya di Myanmar.

“Orang Indonesia sangat terbuka dan suka bertanya, bahkan soal hal pribadi seperti status hubungan atau akun media sosial. Awalnya saya kaget dan merasa risih, tapi saya belajar bahwa ini bagian dari kehangatan mereka,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti kebiasaan orang Indonesia yang gemar nongkrong dan berkegiatan bersama. Kendati sempat merasa asing, ia perlahan mulai menyesuaikan diri dan merasa lebih diterima. “Saya belajar menyapa dengan kata-kata yang mereka pakai, ikut merayakan acara kecil seperti ulang tahun atau ujian,” pungkasnya.

Kehidupan Sehari-Hari

Menutup diskusi, Lâm Ngọc Trân, mahasiswa asal Vietnam, membagikan pengalamannya sebagai pelajar BIPA di UNAIR. Menurutnya, salah satu yang paling menonjol adalah kuatnya nilai keagamaan di Indonesia. “Di Vietnam, agama lebih bersifat pribadi. Tapi di sini, agama begitu nyata dan terlihat dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Ia juga mengagumi budaya toleransi yang ia saksikan langsung selama mengikuti kunjungan ke berbagai tempat ibadah di Indonesia. Baginya, belajar bahasa Indonesia berarti memahami budaya, emosi, dan relasi sosial.

“Awalnya saya hanya tahu bahasa Indonesia versi buku. Tapi ternyata ada banyak variasi seperti ‘nggak tahu’, ‘ndak ngerti’, atau ‘ga paham’. Bahasa Indonesia hidup, dan itu saya pelajari dari orang-orang di sekitar saya,” tutupnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda

Editor: Ragil Kukuh Imanto