Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa FEB Inisiasi Strategi Kebijakan Efisiensi Logistik, Wujudkan Smart Port Indonesia

Cindy Kiara Sumantri (kanan) dan Dinnaya Mahashofia (kiri) berfoto bersama dengan piagam penghargaan Juara 2 Nasional Kompetisi Policy Brief Economic Outlook 2026 di Universitas Padjajaran pada Jumat (21/11/2025)
Cindy Kiara Sumantri (kanan) dan Dinnaya Mahashofia (kiri) berfoto bersama dengan piagam penghargaan Juara 2 Nasional Kompetisi Policy Brief Economic Outlook 2026 di Universitas Padjajaran pada Jumat (21/11/2025) (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas rekomendasi kebijakan untuk akselerasi maritim Indonesia. Rekomendasi ini terurai dalam policy brief yang diusung oleh Dinnaya Mahashofia (FEB) dan Cindy Kiara Sumantri (FEB). Berkat gagasan efisiensi pelabuhan tersebut, keduanya berhasil mengantongi Juara II Nasional Kompetisi Policy Brief Economic Outlook 2026 besutan Himpunan Ekonomi Studi Pembangunan, Universitas Padjajaran pada Jumat (21/11/2025). 

Mewakili timnya, Cindy menyampaikan bahwa policy brief mereka mengandung tiga pilar gagasan utama untuk mengatasi tiga akar permasalahan inefisiensi logistik Indonesia. Antara lain National Port Community System (NPCS), Reformasi Clearance melalui Pre-Arrival Processing, dan Smart Port Digitalization. Integrasi ketiganya membentuk Smart Maritime Corridor Indonesia (SMCI), ekosistem pelabuhan nasional yang efisien, transparan, dan rendah emisi.

“Ide kami berangkat dari fakta bahwa digitalisasi pelabuhan sekarang masih terfragmentasi. Solusi kami adalah membuat community system yang terintegrasi dengan Indonesia National Single Window (INSW) untuk operasional pelabuhan. Kedua, mengurangi dwelling time dan vessel time in port dengan clearance berbasis pre-arrival dan risk-based inspection. Terakhir, memasang sensor di area pelabuhan untuk mendeteksi waktu idle alat secara real-time. Tujuannya supaya tercapai Smart Port Indonesia,” jelas Cindy. 

Percepatan transformasi logistik ini bertujuan untuk mencapai target penurunan biaya logistik hingga mencapai 8-10 persen PDB. “Biaya logistik yang mahal ini masih menjadi PR terbesar yang menghambat Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen yang ditargetkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN),” tambah Cindy.

Perjalanan Cindy dan tim meraih juara tidak tanpa tantangan. Ia menyebutkan timnya kesulitan mencari kesempatan untuk persiapan sebelum final. Kendala ini diperparah dengan banyaknya perubahan terkait ketentuan final. Sehingga komunikasi yang optimal dengan panitia penting untuk menemukan harmoni dengan momentum presentasi tim. 

“Strategi utamanya berusaha semaksimal mungkin, berdoa, dan banyak membaca. Jadi tidak hanya menguasai ide tapi juga menguasai ekonomi maritim secara konsep kerjanya. Terutama karena dalam lomba policy brief seperti ini, pertanyaannya biasanya sangat teknis sehingga kami harus tahu tentang seluk beluk pelabuhan dan operasionalnya,” tambahnya.

Terlepas dari kendala yang sempat menghelat tim, Cindy mengutarakan bahwa hal terpenting adalah tetap berani mencoba terlepas dari keraguan ataupun rasa takut. “Ada awalan untuk setiap hal baru. Jadi, yang penting hadir dan coba yang terbaik saja dulu, hasilnya serahkan kepada Tuhan,” tutpnya.

Penulis: Dinnaya Mahashofia 

Editor: Yulia Rohmawati