UNAIR NEWS- Tim mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengukir prestasi gemilang di ajang bergengsi 20th Indonesian Round of International Humanitarian Law Moot Court Competition (IHLMCC). Kompetisi ini yang berlangsung pada (21-23/11/2025) di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Kompetisi yang berkolaborasi dengan International Committee of the Red Cross (ICRC) ini menjadi salah satu ajang rutin yang diikuti oleh International Law Students Association (ILSA).
Dalam ajang ini, tim berhasil meraih posisi 2nd Runner-Up dan Zahra Hanifa Ramadhani juga berhasil memperoleh penghargaan 3rd Best Oralist, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi tim. Tim yang terdiri dari Mohammad Affsal Gunawan sebagai Head Delegate, Katya Devi Anandini, Zahra Hanifa Ramadhani, serta para observer Budi Elisabeth Pandjaitan dan Gabriella Novena Winarta, membuktikan kualitas mereka di panggung internasional.
Keberhasilan tim UNAIR dalam kompetisi ini tak lepas dari dukungan penuh para coach berkompeten. Coach mereka dalah Anak Agung Gede Fabianara Danurwenda, Farrell Sudarma, dan Alissa Angelia, SH LLM. Dukungan mereka dalam memberikan arahan dan bimbingan telah berperan penting dalam membentuk tim yang solid dan siap menghadapi tantangan.
Kompetisi Dua Fase
Dalam IHLMCC, setiap tim berkompetisi sebagai pihak penggugat (prosecutor) dan tergugat (defense) dalam kasus fiktif yang telah penyelenggara tentukan sebelumnya. Kompetisi terbagi menjadi dua fase utama: fase pertama adalah memorial phase, di mana setiap tim harus menyusun legal memorandum untuk kedua posisi tersebut. Berdasarkan penilaian dari memorandum yang dikirimkan, 16 tim terbaik kemudian melaju ke fase kedua, yaitu oral rounds.
Pada oral rounds, dua oralist per tim akan berperan sebagai legal counsels yang menyampaikan argumen lisan dalam bahasa Inggris selama total 42 menit untuk masing-masing sisi. Katya Devi Anandini, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa ia bersama Zahra pleads selama 42 menit total untuk satu sisi. Masing-masing dari mereka membawakan argumen penuh tantangan.
“Untuk oral rounds ini ada dua oralist yaitu aku dan Zahra, di mana kita berdua pleading selama 42 menit total untuk satu sisi,” ujar Katya.
Proses persiapan untuk fase oral ini memakan waktu lima bulan penuh, dengan latihan intensif dan riset hukum mendalam. Meskipun tantangan berat, termasuk potensi burnout, menghampiri, tim merasa bersyukur karena kendala yang ada relatif minim, berkat kerja keras dan dedikasi dari seluruh anggota tim.
“Perjuangannya mungkin lebih ke arah banyak burnout aja karena persiapannya hampir lima bulan. Alhamdulillah, kendalanya minim,” kata Katya.
Pengalaman Berharga
Selain menguji kemampuan akademik dan teknis, kompetisi ini juga memberi kesempatan untuk memperluas jaringan dan koneksi antar universitas. Katya menambahkan, “Kesannya seru banget, apalagi nambah koneksi sama univ-univ lain seperti UGM. Bahkan, Tangjungpura yang dari Pontianak, atau akademisi dan praktisi yang terjun langsung sebagai judges di hari H.”
Walaupun tim UNAIR sebelumnya tidak pernah meraih posisi runner-up sejak 2022, tahun ini mereka akhirnya berhasil mendapatkan posisi juara dengan membawa pulang dua penghargaan. Katya menambahkan, “Untuk posisi runner up tidak pernah kami dapatkan sejak 2022. Alhamdulillah tahun ini berhasil kembali mendapat posisi sebagai salah satu juara di 20th ihlmcc.”
Tim berharap pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani mengikuti kompetisi internasional. “jangan takut ikut lomba-lomba bahasa inggris karena asal latihan pasti bisa kok!!”
Penulis : Saffana Raisa Rahmania
Editor : Ragil Kukuh Imanto





