UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi. Kali ini di ajang An Adventure Towards the Human Body (AORTA) 2026 yang persembahan dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar, pada 6-8 Februari 2026.
Kompetisi AORTA memberikan konsep unik yang berbeda dari lomba anatomi pada umumnya. Setiap tim harus menyelesaikan rangkaian pos secara berurutan dengan berbagai tantangan interaktif. Setiap pos yang telah berhasil terlewati, memberikan petunjuk menuju pos berikutnya. Penentuan pemenang berdasarkan kecepatan mencapai garis finis (pit stop) dengan penyelesaian tantangan yang tepat.
Delegasi FK UNAIR yang beranggotakan Muhammad Anthony Maulana dan Kaleb Stanfier Hewis mampu menunjukkan kemampuannya dihadapan 88 tim dari seluruh Indonesia. Anthony dan Kaleb berhasil menembus babak final dan menunjukkan performa konsisten hingga akhirnya meraih Juara 2. “Bidang anatomi yang harus kami kuasai meliputi Bidang anatomi yang diujikan meliputi neuroendokrin, gastrohepatoenterologi, muskuloskeletal, urologi-reproduksi, serta kardiorespirasi,” ujar Anthony.
Persiapan kompetisi berlangsung secara terstruktur dengan pemberian materi belajar, latihan soal bersama, serta diskusi rutin untuk mengaitkan anatomi dengan penerapan klinis. Menjelang final, Anthony dan Kaleb bersama-sama melakukan rapid review intensif hingga larut malam guna memastikan penguasaan materi tetap optimal.
“Tantangan terbesar yang kami rasakan adalah tingkat kesulitan soal dan permainan yang tinggi, yang menuntut ketelitian serta kemampuan berpikir cepat dibawah tekanan,” tegas Anthony.
Fokus saat Tantangan Hadir
Lebih lanjut, kaleb juga menjelaskan bahwa timnya sempat mengalami ketertinggalan di awal babak final akibat ketidaktelitian dalam pengambilan keputusan. Menurutnya, kondisi tersebut sempat menimbulkan tekanan tim. Akan tetapi mereka memilih untuk tetap tenang dan fokus dalam melanjutkan perlombaan.
“Kami memutuskan untuk menggunakan pendekatan kreatif dalam menemukan pola dan celah di setiap permainan. Dengan menjaga fokus, kerja sama, dan konsistensi hingga pos terakhir, kami akhirnya menjadi tim kedua yang mencapai garis finis,” tambah Kaleb”
Menurutnya, keterampilan paling penting dalam kompetisi ini bukan hanya penguasaan materi anatomi klinis, tetapi juga kerja sama tim, ketenangan dalam mengambil keputusan, kreativitas, serta mental pantang menyerah. Pengalaman kegagalan pada tahun sebelumnya juga menjadi motivasi untuk kembali mencoba dengan persiapan yang lebih matang.
“Ketika merasa takut untuk memulai, tetaplah mencoba. Banyak orang berhenti di tahap merencanakan tanpa mengambil langkah pertama. Bahkan jika hasilnya belum sesuai harapan, yakinlah bahwa setiap proses membawa pembelajaran menuju kemenangan,” pungkas Kaleb.
Penulis: Muhammad Nabil Fawaid
Editor: Ragil Kukuh Imanto





