UNAIR NEWS – Alvyan Ananta Asis, mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multi Disiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) sukses mengantongi berbagai penghargaan sekaligus kesempatan pertukaran pelajar di Malaysia melalui program Changemaker Youth Leadership Camp 2026 yang berlangsung sejak Rabu (25/8/2026) hingga Sabtu (28/8/2026). Keinginan kuat untuk mengasah kapasitas kepemimpinan dan memperluas relasi global, membawa Alvyan berdiri di panggung internasional.
Di era modern, tantangan global menuntut pemuda untuk memiliki kemampuan bertukar perspektif hingga lintas negara. Tak ingin sekadar menggeluti rumpun teknik, Alvyan akhirnya memutuskan untuk mengikuti program dengan memperoleh beasiswa penuh (fully funded).
“Bagi saya, kesempatan ini memiliki arti yang luar biasa mendalam. Dipercaya mewakili suara pemuda di tingkat internasional bukan sekadar pencapaian portofolio, melainkan sebuah mandat besar untuk membawa manfaat nyata,” ungkapnya.

Raih Empat Penghargaan dari Gagasan Future-Ready Skills
Alvyan dan tim mengusung gagasan bertajuk From Digital Users to Changemaker: Memberdayakan Generasi Muda Indonesia dengan Future-Ready Skills. Gagasan tersebut membawa Alvyan dan tim meraih empat penghargaan sekaligus, yakni 3rd Best Team, 1st Best Media Presentation, 3rd Best Presenter, dan 2nd Best Group Idea. Buah pikiran tersebut lahir dari keprihatinan melihat pesatnya kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang belum tertandingi dengan kesiapan keterampilan di masa depan.
Berbekal kajian literatur dan analisis data kebijakan secara mendalam, karyanya merumuskan strategi bahwa dalam menghadapi era transformasi tidak cukup hanya dengan menguasai perangkat teknis. Bebarengan dengan kompetensi literasi digital, kemampuan kognitif berpikir kritis dan kreativitas, keterampilan sosial, serta etika penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
“Berdasarkan data IMDI 2024, masih banyak generasi muda Indonesia yang menjadi konsumen pasif teknologi. Karena itu, future-ready skills penting untuk membentuk generasi yang adaptif di tengah transformasi dan otomatisasi ,” jelas Alvyan.
Selain menawarkan kerangka kolaboratif yang memadukan institusi pendidikan, pelatihan industri praktis, serta budaya pembelajaran sepanjang hayat, timnya juga berhasil mengemas kedalaman substansi ide saat sesi presentasi berlangsung. Hal ini menjadi daya pikat juri yang mengantarkannya memborong gelar juara di berbagai kategori.
Bawa Pulang Wawasan Global guna Tebar Keberdampakan
Berbicara di forum internasional, tentu memiliki tantangan berbeda ketimbang saat berbicara di depan kelas. Kehadiran sekat bahasa dan budaya antara juri dan peserta internasional, menuntut Alvyan untuk menyederhanakan data yang rumit menjadi pesan yang kuat, runtut, dan mudah dicerna oleh audiens dengan latar belakang budaya yang beragam.
Bagi Alvyan, pulang dari panggung internasional bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan wujud komitmen untuk berdampak bagi lingkungan sekitar. Ia ingin memberikan wawasan tentang kepemimpinan dan proyek riset di ranah universitas. Terlebih lagi, akan mendorong pemuda Indonesia untuk bertransformasi, dari sekadar penonton digital menjadi pencipta perubahan (changemaker).
“Perjalanan ini memberikan saya energi baru untuk tidak berhenti pada pencapaian personal, melainkan merajutnya menjadi kontribusi nyata yang mampu menginspirasi rekan-rekan sebaya,” pungkasnya.
Penulis: Amelia Farah Putri I.
Editor: Ragil Kukuh Imanto





