Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa PKL Kesmas FIKKIA UNAIR Hadirkan Sekolah Perempuan Lewat DAPUR TENSI di Kalipuro

Foto bersama tim Praktik Kerja Lapangan (PKL) Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKKIA Universitas Airlangga bersama ibu-ibu peserta Sekolah Perempuan DAPUR TENSI di Kelurahan Kalipuro. (Foto: Istimewa)
Foto bersama tim Praktik Kerja Lapangan (PKL) Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKKIA Universitas Airlangga bersama ibu-ibu peserta Sekolah Perempuan DAPUR TENSI di Kelurahan Kalipuro. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Tim Praktik Kerja Lapangan (PKL) Kelurahan Kalipuro Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan inovasi pemberdayaan perempuan melalui Sekolah DAPUR TENSI (Dapur Pulih Rendah Garam untuk Tensi Terkendali). Program ini menyasar ibu rumah tangga sebagai aktor utama dalam pengendalian hipertensi berbasis keluarga dan berlangsung dalam tiga kali pertemuan di Kelurahan Kalipuro pada Minggu (11/01/2026).

Pada pertemuan pertama, peserta mendapatkan edukasi dasar mengenai hipertensi dan pengenalan makanan rendah garam sebagai langkah awal pencegahan tekanan darah tinggi. Materi disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami dan relevan dengan kebiasaan memasak sehari-hari ibu rumah tangga.

Sesi utama menghadirkan Revalina Inthika Aling sebagai fasilitator konsumsi rendah garam. Dalam pemaparannya, Revalina menekankan bahwa hipertensi sering kali tidak disadari karena minimnya gejala, namun memiliki dampak jangka panjang yang serius. “Hipertensi itu sering disebut silent killer karena gejalanya tidak selalu terasa. Karena itu, pencegahan melalui pola makan sehat menjadi sangat penting,” jelasnya.

Revalina juga menyoroti tingginya konsumsi garam dalam masakan rumahan tanpa disadari. “Sering kali kita merasa masakan kurang gurih, lalu menambahkan garam atau penyedap tanpa takaran. Padahal, kebiasaan kecil ini jika dilakukan setiap hari bisa meningkatkan risiko hipertensi,” ungkapnya.

 Ia menambahkan bahwa pengendalian konsumsi garam dapat dimulai dari dapur rumah tangga. “Mengubah pola makan keluarga tidak harus mahal. Kuncinya ada pada kesadaran dan kemauan untuk mulai mengurangi garam sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Lebih lanjut, Revalina memberikan alternatif solusi agar masakan tetap lezat meski rendah garam. “Ibu-ibu tidak perlu khawatir masakan jadi hambar. Kita bisa memanfaatkan bumbu alami seperti bawang, rempah, dan jeruk nipis untuk memperkaya rasa,” katanya. Ia berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

“Harapannya, ibu-ibu bisa menjadi contoh bagi keluarga dan lingkungan sekitar dalam menerapkan pola makan rendah garam,” tambahnya.

Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan ibu-ibu dalam bertanya dan berdiskusi selama sesi berlangsung. Melalui Sekolah DAPUR TENSI, tim PKL UNAIR berharap edukasi ini mampu membentuk kebiasaan memasak yang lebih sehat dan berkelanjutan, sehingga ibu rumah tangga dapat berperan sebagai agen perubahan dalam upaya pengendalian hipertensi di tingkat keluarga dan masyarakat.

Penulis : Dheva Yudistira Maulana

Editor : Khefti Al Mawalia