UNAIR NEWS – Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi ikut terlibat kegiatan konservasi medik bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Bogor. Kegiatan tersebut masuk dalam stase wajib PKL Satwa Liar. Mahasiswa itu adalah Elis Sulistiyawati dan Ariel Kusumawardani. Mereka melakukan perawatan dan rehabilitasi satwa liar khususnya kukang.
Dalami Ilmu Klinik Medik Konservasi Satwa Liar
Elis Sulistiyawati mengatakan mendapatkan pemahaman praktis konservasi, keterampilan penanganan satwa liar, dan studi kasus. Setiap pagi, mereka mengamati dan membantu prosedur medis ringan. Juga turut memberikan perawatan harian mulai dari pemberian pakan, pembersihan kandang, tempat pakan, dan pembuatan enrichment. Pencatatan aktivitas kesehatan kukang secara digital menggunakan aplikasi Zoo Monitor juga dilakukan. Seperti makan, memanjat, beristirahat, dan grooming.
“Berlanjut mengambil dan memeriksa sampel feses maupun darah,” katanya.
Satwa turut mendapatkan vitamin dan penimbangan berat badan satwa untuk memastikan kondisinya stabil. Sebelum pelepasliaran, tim memeriksa kesehatan kukang secara menyeluruh. Meliputi evaluasi kondisi fisik, perilaku, dan status kesehatan satwa. Hal tersebut dilakukan melalui pemeriksaan darah, DNA, X-ray, dan pengamatan perilaku. Hal yang cukup berat adalah proses observasi perilaku satwa saat malam hari memerlukan fokus tinggi agar tidak terlewatkan.

“Tujuannya =memastikan bahwa satwa sudah sehat, mandiri, dan siap kembali ke habitat alaminya,” ujar mahasiswa yang ingin memperkuat minat konservasi satwa itu.
Proses pemberian satwa liar memiliki perlakuan khusus. Elis dan Ariel mendapatkan pembelajaran tentang tulup. Yaitu teknik penangkapan satwa secara manual dengan alat khusus yang dilakukan secara hati-hati untuk menghindari stres dan cedera. Mahasiswa FIKKIA juga membantu proses nekropsi baik melalui pendampingan maupun mandiri.
“Saya belajar mengidentifikasi organ yang mengalami perubahan patologis, serta mencatat temuan-temuan penting untuk laporan medis secara detail,” ungkapnya.
Keterbatasan pengetahuan awal tentang satwa liar menjadi tantangan yang perlahan teratasi dengan belajar langsung dari tim YIARI. Menghabiskan waktu bersama YIARI sangat bermakna dan penuh pembelajaran. Keterlibatan konservasi bersama tim profesional YIARI yang terbuka berbagi ilmu sangat kolaboratif dan peduli terhadap satwa membuat semakin bangga menjadi bagian dari YIARI meskipun hanya tiga minggu.

Standarisasi Peralatan Klinik Konservasi
Elis menyebut konservasi satwa liar memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh dan merata. Kedepan upaya konservasi harus mencakup satwa liar lain yang kurang mendapat perhatian dan terancam punah. Semua spesies memiliki peran penting menjaga keseimbangan ekosistem. Standar ini mencakup alat-alat diagnostik, laboratorium sederhana, ruang isolasi, dan sistem pencatatan medis yang terintegrasi.
“Dengan fasilitas yang memadai dan setara membuat kualitas perawatan satwa lebih terjamin di berbagai lokasi tanpa bergantung pada satu atau dua pusat konservasi besar saja,” tutupnya.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Ragil Kukuh Imanto





